Sebar Koin Malam Maulid, Lestarikan Tradisi 118 Tahun
- 25 Agt 2026 17:54 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Tawa dan teriakan riang anak-anak terdengar dari halaman Masjid Wakaf Jamsaren, Kota Kediri
- Bagi masyarakat Jamsaren, tradisi itu adalah cara untuk menjaga kenangan, mempererat kebersamaan, sekaligus menanamkan kecintaan kepada masjid kepada generasi yang akan meneruskan cerita tersebut
RRI.CO.ID, Kediri – Tawa dan teriakan riang anak-anak terdengar dari halaman Masjid Wakaf Jamsaren, Kota Kediri, Senin malam, 24 Agustus 2026. Mata mereka tertuju ke lantai atas masjid, menanti uang koin dan lembaran uang yang sebentar lagi ditebarkan.
Begitu uang mulai berjatuhan, suasana sontak berubah meriah. Anak-anak berlarian, berebut mengambil koin dan uang kertas yang berserakan. Ada yang langsung menghitung hasil tangkapannya, ada pula yang menyimpannya erat-erat sambil tersenyum puas.
Momentum sederhana tersebut menjadi bagian dari Tradisi Sebar Koin dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak 1908 itu hingga kini masih dipertahankan masyarakat Jamsaren sebagai warisan budaya sekaligus sarana memakmurkan masjid.
Salah seorang anak yang ikut berebut koin mengaku sudah menantikan kegiatan tersebut setiap tahun. Baginya, Sebar Koin bukan sekadar mendapatkan uang, tetapi juga menjadi pengalaman yang menyenangkan bersama teman-temannya.
Sebelum suasana riuh oleh anak-anak, rangkaian peringatan Maulid Nabi telah dimulai sejak pagi melalui kegiatan khotmil Qur’an. Setelah shalat Maghrib, jamaah melanjutkan dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji dan shalawat.
Puncak kegiatan berlangsung selepas shalat Isya. Takmir dan jamaah yang berada di lantai atas masjid menebarkan uang koin serta lembaran uang kepada jamaah di bawah. Tradisi itulah yang kemudian mengubah suasana masjid menjadi penuh keceriaan.
Penasihat Kegiatan Masjid Wakaf Jamsaren, Kota Kediri, H. Mahrus Mahali menyatakan, kegembiraan anak-anak justru menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan melalui tradisi tersebut.
"Ini sarana syiar untuk mengajak masyarakat, utamanya anak-anak, senang memakmurkan masjid. Masjid tidak hanya tempat ibadah ritual, tapi juga wadah pembinaan keimanan dan sosial yang menyenangkan," kata Mahrus.
Menurut Mahrus, Sebar Koin juga menjadi bentuk sedekah yang dikemas secara sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Harapannya, pengalaman menyenangkan di masjid akan membuat mereka memiliki kedekatan emosional dengan tempat ibadah.
Bagi jamaah, berbagi dalam tradisi tersebut juga menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Esti, salah seorang jamaah yang ikut bersedekah, menyebut kegiatan Sebar Koin sebagai bentuk sedekah yang memberikan kebahagiaan secara langsung.
"Alhamdulillah senang sekali, dapat berpartisipasi dalam momen ini," ujar Esti.
Tak hanya menjadi tradisi keagamaan, Sebar Koin perlahan juga dipandang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Jamsaren. Lurah Jamsaren, Tri Amin Prakoso, menilai tradisi tersebut memiliki nilai sosial sekaligus potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata religi.
"Kami mendukung penuh kelestarian tradisi ini. Selain memakmurkan masjid, kegiatan unik ini sangat berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya religi di Kelurahan Jamsaren," kata Tri Amin.
Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad tersebut menjadi bukti bahwa perayaan Maulid Nabi dapat diwariskan melalui cara yang sederhana namun mampu menyentuh banyak kalangan. Di balik riuh anak-anak berebut koin, terselip pesan tentang sedekah, kebersamaan, kecintaan kepada masjid, dan upaya menjaga tradisi.
Kini, Sebar Koin bukan hanya tentang uang yang jatuh dari lantai atas masjid. Bagi masyarakat Jamsaren, tradisi itu adalah cara untuk menjaga kenangan, mempererat kebersamaan, sekaligus menanamkan kecintaan kepada masjid kepada generasi yang akan meneruskan cerita tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....