FPRB Kediri Dorong Kolaborasi Pentahelix Hadapi Bencana

  • 10 Sep 2026 09:46 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kediri mendorong penguatan kolaborasi pentahelix dalam upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana. Hal tersebut disampaikan Ketua FPRB Kabupaten Kediri, Hari Wahyu Jatmiko, dalam Dialog RRI, Kamis, 10 September 2026.

Menurutnya, luasnya wilayah Kabupaten Kediri membutuhkan keterlibatan berbagai unsur agar upaya menghadapi bencana dapat dilakukan secara lebih optimal. Hari menjelaskan, konsep pentahelix melibatkan pemerintah, masyarakat, media, akademisi, dan dunia usaha.

Masing-masing unsur memiliki peran penting dan saling melengkapi. Pemerintah menjadi koordinator utama, masyarakat berperan sebagai akselerator, media sebagai penyebar informasi, akademisi sebagai konseptor sekaligus inovator, sedangkan dunia usaha menjadi pendorong dalam proses mitigasi dan pencegahan bencana.

“Pemerintah ini yang paling besar perannya sebagai koordinator bagi yang lain. Masyarakat sebagai akselerator, harus paham bencana apa yang ada di wilayahnya. Media juga sangat penting sebagai instrumen untuk menyebarkan informasi secara luas, baik sebelum maupun sesudah adanya bencana,” ucap Hari.

Ia menambahkan, keterlibatan akademisi dan dunia usaha juga tidak kalah penting. Akademisi dapat memberikan dukungan melalui kajian, konsep, maupun inovasi terkait kebencanaan. Sementara dunia usaha dapat berkontribusi melalui lembaga sosial maupun kegiatan yang memberikan nilai tambah dalam upaya mencegah dan mengurangi risiko bencana.

“Akademisi sangat mendukung sekali sebagai konseptor dan inovator. Sedangkan dunia usaha sebagai pendorong dalam proses bisnis untuk menaikkan nilai tambah dalam mencegah terjadinya bencana,” katanya.

Dalam pengurangan risiko bencana, FPRB Kabupaten Kediri terus berkoordinasi dengan Pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Hari menyebut, berdasarkan kajian sebelumnya terdapat delapan ancaman bencana di wilayah Kabupaten Kediri, yang kemudian berkembang menjadi 11 dengan tambahan ancaman biologi seperti kejadian luar biasa (KLB), kegagalan teknologi, serta bencana sosial berupa konflik.

Menurut Hari, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu hal yang harus terus dilakukan. Masyarakat perlu memahami potensi bencana yang ada di wilayah masing-masing sekaligus mengetahui langkah mitigasi yang dapat dilakukan. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui Desa Tangguh Bencana (Destana) yang perlu mendapatkan penyegaran kapasitas secara berkala, terutama di wilayah yang memiliki ancaman bencana tinggi seperti kawasan sekitar Gunung Kelud.

“Di setiap desa itu ada tim siaga bencana itu harus di-refresh setiap tahunnya. Sebenarnya masyarakat sudah paham terkait potensi bencana dan pengurangan risikonya, tetapi refresh ini untuk meningkatkan kapasitas dan mengingatkan kembali bahwa potensi bencana itu tetap ada,” katanya.

Ia menyebut sejumlah ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Kediri, termasuk bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Kawasan Gunung Wilis juga memiliki potensi pergerakan tanah dan longsor. Selain itu, terdapat ancaman banjir bandang, kebakaran hutan dan lahan, serta angin kencang yang relatif sulit diprediksi. Karena itu, hasil pemetaan dan kajian BPBD menjadi penting untuk dibagikan kepada forum dan masyarakat sebagai dasar antisipasi.

Hari juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menghadapi bencana. Menurutnya, masyarakat selama ini relatif memahami tindakan saat masa tanggap darurat, tetapi masih perlu diperkuat dalam hal mitigasi sebelum bencana terjadi.

“Masyarakat sebenarnya sudah paham bagaimana bertahan ketika masa tanggap darurat, tetapi mereka masih kurang memahami bagaimana memitigasi bencana tersebut, bagaimana bencana itu bisa diminimalisir dan dikurangi dampaknya,” ujarnya.

Ke depan, FPRB Kabupaten Kediri menargetkan penguatan sinergi bersama pemerintah dan BPBD dalam merumuskan berbagai langkah pengurangan risiko bencana. Kolaborasi pentahelix diharapkan mampu mewujudkan masyarakat Kabupaten Kediri yang semakin tanggap dan tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana. “Kami dari FPRB berharap seluruh masyarakat, baik yang berada di wilayah rawan bencana maupun tidak, mengutamakan mitigasi dalam pengurangan risiko bencana. Kita harus mengantisipasi hal tersebut dan melakukan kegiatan dalam rangka pengurangan risiko bencana,” harapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....