Sekolah di Kediri Matangkan Asesmen Inklusi sejak Awal Masuk

  • 01 Agt 2026 12:30 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Sekolah di Kabupaten Kediri kian matang dalam menyiapkan layanan pendidikan inklusi bagi peserta didik baru. Pemetaan kebutuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun siswa Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa (CIBI) kini tidak lagi dilakukan secara mendadak, melainkan telah dirancang sejak proses pendaftaran hingga kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Kepala SDN Sukorejo 1 Ngasem, Titik Kurniawati, menyampaikan bahwa persiapan di tingkat sekolah dasar telah berjalan sesuai petunjuk teknis pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Pihak sekolah memfasilitasi proses pendataan awal yang kemudian dialihkan kepada tim psikolog profesional untuk dilakukan observasi awal guna mengenali indikasi kebutuhan khusus sejak dini.

"Sejak pendaftaran kami sudah menyiapkan perencanaan dan sistem sesuai juknis. Ada pendataan lalu dialihkan ke psikolog untuk observasi awal agar kita mengetahui komunikasi dan asesmen apakah anak ada indikasi kebutuhan khusus," ujar Titik.

Proses pemetaan karakter murid tersebut dilanjutkan secara lebih mendalam saat pelaksanaan MPLS. Sekolah menggelar asesmen diagnostik yang dirancang untuk mengukur berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari kemampuan kognitif, motorik, hingga keterampilan hidup sederhana yang sifatnya personal.

"Di MPLS kemarin kami adakan asesmen diagnostik yang meliputi kognitif, motorik, sampai hal-hal kecil seperti kemampuan memasang kancing baju. Dari asesmen ini kita tahu indikasi anak, lalu hasilnya kami sandingkan dengan observasi dari psikolog kami," kata Titik menambahkan.

Langkah senada juga diterapkan di tingkat sekolah menengah pertama untuk mengidentifikasi profil belajar murid secara menyeluruh. Kepala SMPN 2 Kandangan, Sarana, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan instrumen asesmen terpadu berbasis laman resmi yang dapat diakses sekolah mulai awal Agustus.

"Di MPLS pemerintah sudah memberikan aktivitas berupa asesmen meliputi literasi, numerasi, sosial emosional, serta bakat dan minat. Data dari asesmen tersebut nantinya kami sandingkan dengan hasil data pemeriksaan psikolog untuk menginventarisir anak berkebutuhan khusus maupun yang cerdas istimewa," ucap Sarana.

Meski sistem pendataan sudah tertata, kedua kepala sekolah mengakui salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah masih adanya sikap penolakan (denial) dari sebagian orang tua terhadap kondisi anaknya. Melalui data objektif hasil kolaborasi asesmen MPLS dan pengujian psikolog, pihak sekolah dapat menjalin komunikasi emosional yang lebih terbuka dengan para orang tua demi menentukan langkah pendampingan yang tepat bagi sang buah hati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....