SD dan SMP di Kediri Terapkan Strategi Pembelajaran Inklusif

  • 01 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Penerapan pendidikan inklusi pada edisi revisi panduan 2026 menekankan prinsip kesetaraan hak belajar bagi seluruh peserta didik. Aturan terbaru ini menegaskan bahwa anak-anak penyandang disabilitas maupun berkebutuhan khusus tidak lagi dipisahkan dari rekan-rekannya, melainkan belajar bersama di dalam ruang kelas reguler dengan penyesuaian pada proses pembelajaran dan metode asesmen.

Kepala SDN Sukorejo 1 Ngasem, Titik Kurniawati, menjelaskan bahwa untuk menjaga kualitas pembelajaran di tingkat SD, pembagian kelas dilakukan secara proporsional. Sekolah menerapkan kebijakan pembatasan maksimal satu anak berkebutuhan khusus di setiap kelas agar fokus perhatian guru kelas tidak terpecah dalam mengajar.

"ABK itu tipenya banyak, ada ADHD, cerdas berbakat, cerdas istimewa hingga slow learner, sehingga di SD kami bagi tiap kelas hanya ada satu anak agar perhatian guru tidak terpecah. Mereka tetap belajar di kelas yang sama dengan anak reguler," ucap Titik dalam dialog bersama RRI, Sabtu, 01 Agustus 2026.

Selain penataan kelas, siswa berkebutuhan khusus di SDN Sukorejo 1 Ngasem juga mendapatkan pendampingan khusus yang terstruktur. Sekolah menyediakan jadwal bimbingan berkala bersama Guru Pendamping Khusus (GPK) juga shadow teacher, serta memfasilitasi sesi terapi sesuai dengan kebutuhan karakteristik kurikulum masing-masing anak.

"Anak-anak sudah terstruktur jadwalnya, kapan didampingi oleh GPK atau shadow teacher dan kapan mendapatkan bimbingan terapis. Yang paling penting adalah meletakkan hati dalam setiap hal yang kami lakukan, karena sabarnya harus luar biasa menghadapi tantangan anak yang berbeda-beda," ujar Titik.

Sementara itu di tingkat sekolah menengah, pengelolaan kelas inklusif melibatkan kolaborasi antara guru mata pelajaran dan guru Bimbingan Konseling (BK). Kepala SMPN 2 Kandangan, Sarana, memaparkan bahwa strategi pembelajaran di SMP dirancang adaptif agar setiap siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai potensi dasarnya.

"Prinsipnya tujuan pembelajaran tetap sama, tetapi cara belajarnya yang beragam dan fleksibel sesuai potensi murid. Di SMP, guru mata pelajaran menyiapkan pembelajaran adaptif yang dikoordinasikan oleh guru BK melalui diferensiasi dan akomodasi yang layak," kata Sarana.

Guna memperkuat komitmen tersebut, SMPN 2 Kandangan mengusung program GEMATI—Gerakan Mendidik dengan Akal, Tindakan, dan Hati. Melalui gerakan ini, para guru didorong untuk memanfaatkan kompetensi profesionalnya dalam menganalisis kebutuhan murid, menerapkan aksi pembelajaran adaptif, serta mengedepankan empati dan kasih sayang dalam membangun hubungan dengan setiap peserta didik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....