Santri Al-Anwari Lestarikan Tradisi Huduran
- 09 Mar 2026 20:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi - Suasana khidmat terasa di lingkungan Pondok Pesantren Al-Anwari II, Kertosari, Banyuwangi. Para santri duduk rapi membawa kitab masing-masing, suara bacaan kitab dilantunkan secara tartil, menciptakan nuansa religius yang menenangkan. Kegiatan tersebut merupakan tradisi huduran yang rutin dilaksanakan oleh para santri Al-Anwari asuhan KH Achmad Shiddiq sebagai bagian dari pembelajaran keagamaan di lingkungan pesantren.
Huduran bukan sekadar kegiatan membaca kitab. Tradisi ini menjadi ruang bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama sekaligus menumbuhkan kebersamaan dalam suasana penuh kekhusyukan.
Dalam kegiatan tersebut, para santri secara bergiliran membaca dan mengkaji sejumlah kitab penting. Di antaranya Asrarus Shoum, Birrul Walidain, Risalatul Mahidz, dan Khulashoh Nurul Yaqin.
Setiap bacaan tidak hanya dilantunkan, tetapi juga disertai penjelasan makna serta pesan moral yang terkandung di dalamnya. Melalui kitab Asrarus Shoum, para santri diajak memahami rahasia dan hikmah ibadah puasa. Sementara kitab Birrul Walidain menanamkan nilai penting tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua.
Kajian kitab Risalatul Mahidz memberikan pemahaman tentang hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan haid, yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kitab Khulashoh Nurul Yaqin menghadirkan kisah sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi para santri dalam menjalani kehidupan.
Mudir Pondok Pesantren Al-Anwari II, Sukardi menjelaskan kegiatan huduran memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri. Melalui tradisi tersebut, santri tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi juga dilatih untuk disiplin, tekun, serta mencintai khazanah keilmuan Islam.
“Huduran menjadi sarana bagi para santri untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus menanamkan nilai akhlak dan kebersamaan dalam kehidupan pesantren,” ujar Sukardi, Senin 9 Maret 2026.
Melalui kegiatan tersebut, para santri SMP Unggulan Al-Anwari diharapkan tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu agama serta akhlak yang mulia.
Tradisi huduran menjadi bukti bahwa pesantren tetap menjaga warisan keilmuan para ulama. Di tengah perkembangan zaman, kegiatan sederhana ini terus menghidupkan semangat belajar, dzikir, dan kebersamaan di kalangan santri.