Endog-endoga Tradisi Unik Maulid Nabi di Banyuwangi

  • 09 Okt 2023 21:17 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Lantunan Sholawat Nabi berkumandang hampir diseluruh penjuru, sebagai ungkapan rasa suka cita dalam meperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Banyuwangi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya berlangsung pada tanggal 12 Rabiul Awal saja, perayaannya biasanya berlangsung selama satu bulan bahkan lebih.

Kabupaten paling ujung timur di Pulau Jawa ini memilki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, dimana setiap tahunnya, mereka merayakan dengan tradisi endog-endogan. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Banyuwangi, Endog-endogan, yang bermakna menghias telur dengan kembang kertas dengan berbagai motif, dan menancapkannya di pelepah pisang atau disebut jodhang. Kemudian, telur-telur yang dihias dengan berbagai kreasi tersebut diarak mengelilingi kampung menggunakan kendaraan, sembari diiringi lantunan pujian dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut catatan sejarah, tradisi Endog-endogan tersebut konon pertama kali dicetuskan oleh K.H. Abdullah Faqih yang abad ke 19. Endog-endogan yang terdiri dari Endog atau telur, bambu kering, serta hiasan bunga memliki filosofi tersendiri. Telur merupakan simbol dari kelahiran, sedangkan bambu berarti tempat yang kering dan bunga memili arti kehidupan, yang akan membawa manusia dari jaman kegelapan menuju jaman kebahagiaan.

"Endog-endogan di Banyuwangi Diprakarsai oleh KH Abdullah Faqih, yang memiliki filosofi yang cukup dalam, diman kelaihar nabi Muhammad SAW yang membawa kebahagian dan keberkahan bagi seluruh umat," ungkap salah satu Budayawan Banyuwangi Hasan Basri, Senin (9/10/2023)

Telur dalam tradisi Endog-endogan juga memiliki arti istimewa. Telur yang terdiri dari tiga lapisan yaitu kulit, putih telur dan kuning telur melambangkan Iman, Islam Ihsan. Sementara batang pohon pisang yang dapat tumbuh kembali, memiliki makna pantang menyerah.

"Telor memiliki makna tersendiri, yakni Iman, Islam dan Ihsan, yang merupakan tiga bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam diri manusia," jelas Hasan Basri Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi.

Tradisi Endog-endogan tetap lestari hingga saat ini. Tiap tahunnya, masyarakat berbondong-beondong menghias telur lalu menancapkannya pada batang pohon pisang yang dihias semenarik mungkin. Sebelum dibawa ke masjid, jodhang akan diarak keliling kampung dengan diiringi musik rebana dan lantunan puji-pujian. Setelah pembacaan doa, telur-telur akan dicabut dan dibagikan ke pada masyarakat.

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat dusun Glondong, Desa Watukebo Banyuwangi, yang memperingati Mualid Nabi dengan tradisi kreasi Jodang. Dalam tradisi kreasi jodang tersebut, ada berbagai macam bentuk jodang dari telor yang ditata sedemikian rupa membentuk mulai miniatur masjid, omprok Gandrung, dan berbagai bentuk lainnya.

"Tradisi Jodang ini merupakan tradisi rutin di Masjid dan bisa menjadi pemersatu dan menampung kretivitas para pemuda," ungkap Ustad Sanusi.

Momen ini pun menjadi limpahan rezeki bagi para pengerajin hiasan telur atau yang biasa disebut Kembang Endong. Lorong-lorong pasar dan toko kelontong dipenuhi warna-warni Kembang Endog yang siap menghiasi jodhang. Adanya pengerajin Kembag Endog ini sangat memudahkan masyarakat lantaran proses pengerjaanya membutuhka waktu cukup lama.

Salah satu perajin dan pedagang kembang endog, Nani mengaku selama bulan maulid, setiap harinya daganganya laku minimal 100 biji kembang endog dengan harga mulai Rp 800 hingga Rp 5000 perbijinya. Harga tersebut sesuai dengan bahan dan tingkat kesulitan, seperti motif bunga hingga motif barong. Bahkan Ia mengaku sudah mempersiapakn berbagai bentuk kembang telor dengan berbagai bentuk, sejak 5 bulan terakhir, untuk memenuhi pesanan dari berbagai wilayah.

"Alhamdulillah sudah mulai ada yang beli, biasanya puncak orang yang datang itu pada tanggal 12 Rabiul Awal hingga sampai akhir bulan, karena di Banyuwangi perayaan Maulid Nabi bisanya dirayakan sampai akhir bulan," ungkap Nani.

Setiap tahunnya, momen Endog-endogan selalu dinanti oleh masyarakat khususnya anak kecil yang sangat antusias berburu telur di masjid kampungnya masing-masing. Tradisi ini sarat akan nilai kehidupan di mana masyarakat dapat saling berbagi dan bergotong royong. Bagi Banyuwangi sendiri, tradisi Endog-endogan menjadi budaya sekaligus wisata reiligi yang bernilai luhur. Tradisi endog-endogan di Banyuwangi adalah bukti nyata bagaimana masyarakat memelihara warisan budaya mereka dengan cara yang unik dan bermakna, sambil merayakan hari besar dalam agama.

Rekomendasi Berita