Balai Ternak Raung Mandiri, Jalan Mustahik Jember menuju Kemandirian

  • 24 Feb 2026 20:47 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Pagi itu, udara Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, terasa segar. Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan.

Dari sebuah kandang sederhana, suara domba terdengar bersahutan. Di sanalah, 25 warga bergiliran merawat ternak yang menjadi bagian dari Program Balai Ternak Raung Mandiri.

Iqbal Maulana termasuk yang paling rutin datang. Usianya sekitar 30 tahun. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani, kadang mengambil pekerjaan harian sebagai tambahan.

“Kerja tani setiap harinya. Kadang kalau ada kerjaan apa gitu, saya ambil buat sampingan,” ujarnya, kepada RRI, Selasa (17/2/2026).

Dulu, penghasilannya tak pernah benar-benar pasti. Dengan satu anak yang harus dinafkahi, ia menjalani hari-hari tanpa kepastian jumlah yang bisa dibawa pulang setiap bulan.

“Ya tergantung. Dibilang cukup ya cukup, dibilang kurang ya kurang. Jadi nggak pasti penghasilannya. Apalagi sudah ada anak, pasti bingung sekolahnya gimana,” kata dia.

Ketidakpastian itu perlahan berubah sejak ia bergabung dalam Program Balai Ternak Raung Mandiri di desanya. Dari delapan ekor yang ia terima, ternaknya pun terus berkembang.

Kini, di kandang yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya, ia memelihara 13–15 ekor domba. Di sanalah, ia mulai melihat zakat bukan lagi sebagai bantuan sesaat, melainkan peluang jangka panjang.

Balai Ternak Raung Mandiri merupakan program inisiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI yang dikelola bersama Baznas Jember sebagai bagian dari penguatan zakat produktif di sektor peternakan.

Sebanyak 25 mustahik yaitu 23 laki-laki dan 2 perempuan, dipilih dari warga sekitar dengan kondisi ekonomi di bawah rata-rata. Masing-masing menerima delapan ekor domba secara bertahap.

Awalnya terdapat 200 ekor domba. Kini populasinya mendekati 300 ekor. Program ini dibangun dari dana zakat sekitar Rp500 juta, mencakup pembangunan kandang dan pengadaan ternak.

Iqbal masih mengingat hari pertama menerima ternak. Ia tidak membawa pulang domba itu ke rumah. Semua dirawat bersama di satu lokasi kandang. Sistem kolektif ini membuatnya belajar disiplin dan bertanggung jawab.

Setiap hari, ia dan anggota lain bergiliran membersihkan kandang, memberi pakan, serta memastikan kesehatan ternak. Jika ada ternak yang sakit, pendamping berkoordinasi dengan dokter hewan dan dinas terkait.

“Kalau saya biasanya pagi ke sawah dulu, cari rumput lalu ke balai ternak. Setiap hari pasti ke sana, karena kan harus bersihkan kandang, memberi makan. Di sana juga ada pendampingnya,” kata dia.

Selain merawat dan memberi makan ternak, anggota Balai Ternak Raung Mandiri juga memanfaatkan limbah kotoran domba. Iqbal menjelaskan, kotoran ternak tidak dibiarkan menumpuk begitu saja.

Bersama anggota lainnya, ia mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

“Kalau kotoran domba itu nggak dibuang. Kami olah jadi kompos. Karena kan rata-rata petani. Kalau ada lebihnya, kadang dijual untuk kebutuhan bersama seperti token listrik,” kata dia.

Pelatihan pengolahan kompos ini menjadi bagian dari pendampingan yang diberikan. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini justru menjadi tambahan manfaat.

“Dari pelatihan itu diajari juga cara meraciknya menjadi kompos. Jadi bukan cuma ternaknya saja yang dimanfaatkan,” ujarnya.

Anggota Balai Ternak Raung Mandiri mengolah pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian mereka. Foto: Anik Wariska/Balai Ternak Raung Mandiri

Sebenarnya, beternak bukan hal baru bagi Iqbal. Sebelum masuk program tersebut, ia sudah terbiasa merawat kambing dan domba milik tetangganya.

Ia bahkan dipercaya menjadi pengurus, ikut mengurus pembelian vitamin, suntik, dan kebutuhan perawatan lainnya.

“Selain kegiatan sehari-hari, kami juga ada pelatihan dari Baznas, ya seputar ternak gitu. Meskipun pernah ada pengalaman beternak, tapi banyak hal baru juga dari pelatihan itu,” kata dia.

Program ini awalnya ia ketahui langsung dari Baznas Jember. Saat pertama bergabung, ia menerima domba dan fasilitas kandang. Sejak saat itu, ritme ekonominya mulai berubah.

Penghasilan dari Balai Ternak Raung Mandiri memang tidak rutin setiap bulan. Penjualan utama dilakukan setahun sekali menjelang Iduladha kepada Baznas RI.

Di luar itu, ada tambahan pemasukan dari penjualan cempe atau anak domba, yang biasanya lahir setiap enam bulan. Jika ada kebutuhan mendesak, cempe boleh dijual.

“Tahun kemarin alhamdulillah hampir Rp5 juta dari penjualan ke Baznas RI untuk Iduladha. Karena kan sudah harus disiapkan beberapa bulan sebelumnya, ada ketentuan bobotnya,” kata dia.

Tahun lalu, lanjut dia, pesanan dari Baznas RI mencapai 50 ekor. “Saat ini bobot domba sudah 20 kg, nanti target minimal 25-40 kg sesuai spek RI. Tahun kemarin bobot 40 kg bisa dihargai Rp2,8 juta,” kata dia.

Dengan tambahan penghasilan itu, kebutuhan keluarga menjadi lebih tertopang.

“Alhamdulillah sudah tercukupi. Bisa untuk kebutuhan sehari-hari, sekolah anak, dan kalau ada kebutuhan mendesak bisa jual cempe. Sebagian juga ditabung atau dibelikan ternak lagi di rumah,” ujarnya.

Yang paling terasa bagi Iqbal bukan hanya tambahan penghasilan, tetapi juga perubahan cara pandang. Dalam setiap penjualan, terdapat infak 3 persen yang disisihkan untuk membantu warga sekitar.

“Jadi setiap Iduladha atau penjualan cempe, ada potongan untuk membantu warga sekitar. Jadi bukan hanya menerima saja, tapi kami juga ikut berbagi,” kata dia.

Kalimat itu sederhana, tetapi bermakna besar. Dari mustahik yang menerima bantuan, Iqbal mulai belajar menjadi bagian dari yang memberi. Keinginannya pun jelas.

“Ingin suatu saat menjadi muzaki juga, bukan hanya mustahik. Ingin membantu warga yang belum mampu di sekitar Balai Ternak Raung Mandiri,” kata dia.

Program ini telah berjalan hampir tiga tahun dan sudah tiga kali penjualan Iduladha. Bagi Iqbal, keberlanjutan itu bukan sekadar angka tahun, melainkan kepastian baru dalam hidupnya.

“Tentunya saya berterima kasih kepada Baznas, yang sudah membantu daerah kami. Program ini sangat membantu ekonomi anggota, bahkan anggota juga bisa membantu warga lain,” kata dia.

Apa yang dialami Iqbal bukan cerita tunggal. Di balik keberhasilan individu, ada mekanisme pendampingan yang dirancang agar zakat tersebut benar-benar produktif.

Anik Wariska, pendamping Balai Ternak Raung Mandiri, menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar membagikan ternak, tetapi membangun pola kerja kolektif.

Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat dari peningkatan pendapatan anggota, meski tidak dalam jumlah besar. “Yang pasti ada peningkatan. Lumayan membantu ekonomi mereka,” ujarnya.

Namun perubahan tidak berhenti di sana. Para mustahik mendapat pelatihan perawatan domba, teknik penyuntikan vitamin, pengolahan kompos hingga pencukuran bulu.

Pengetahuan yang sebelumnya hanya berdasarkan pengalaman turun-temurun, kini dilengkapi dengan pendampingan yang lebih terstruktur.

Anggota mencukur bulu domba. Foto; Anik Wariska/Balai Ternak Raung Mandiri

Anik menjelaskan, modal awal setiap mustahik adalah delapan ekor domba, yang terdiri dari empat jantan dan empat betina. Seiring waktu, jumlah itu bertambah.

Rata-rata anggota kini sudah mampu mengembangkan ternaknya melebihi jumlah awal. “Sekarang sudah lebih dari delapan. Rata-rata mereka bisa menambah sendiri,” kata Anik.

Baginya, indikator keberhasilan bukan hanya bertambahnya populasi ternak. Tapi juga meningkatnya pendapatan dan kemandirian anggota. Meski demikian, prosesnya tidak selalu mudah.

Tantangan terbesar, kata Anik, adalah latar belakang pendidikan anggota yang terbatas. Materi sering kali harus disampaikan berulang dengan pendekatan berbeda.

“Karakter petani kadang cukup keras. Jadi memang perlu pendekatan khusus dan pendampingan berulang,” ujarnya.

Seluruh penerima berasal dari lingkungan sekitar balai ternak, yang masih dalam satu RT/RW, agar perawatan lebih efektif. Mayoritas bekerja sebagai buruh tani.

Usia mereka beragam, dari sekitar 20 tahun hingga 50 tahun. Di antara 25 anggota, terdapat dua perempuan yang berstatus janda dan tetap aktif mencari rumput serta merawat ternak bersama anggota lain.

“Para penerima dipilih dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah, tercatat dalam desil 2. Tapi secara riil sebagian besar berada pada kondisi yang lebih rentan,” kata dia.

Hampir tiga tahun berjalan, program ini dinilainya cukup terstruktur. Tantangannya tinggal pada konsistensi pelaksanaan di lapangan.

“Harapannya bisa ada di setiap kecamatan, supaya lebih banyak mustahik yang merasakan dampaknya. Programnya sebenarnya sudah bagus,” ujarnya.

Apa yang terjadi di Jambearum, menurutnya, menunjukkan bahwa zakat produktif membutuhkan waktu, kesabaran, dan pendampingan. Hasilnya mungkin tidak instan, tetapi perlahan membentuk kemandirian.

Zakat yang Tidak Lagi Habis Sekali Tebar

Kepala Pelaksana Baznas Kabupaten Jember, Abdul Qodir, menyebut balai ternak sebagai wujud maqashid syariah dalam zakat mal, agar zakat mendorong peningkatan ekonomi mustahik secara produktif.

Sehingga zakat tidak hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Tetapi diarahkan agar para mustahik memiliki sumber penghasilan yang bisa berkembang.

“Misal, kalau petani dibantu alat atau kebutuhan pertaniannya. Kalau nelayan, dibantu peralatannya. Prinsipnya pemberdayaan. Harapannya mustahik bisa meningkat ekonominya, bahkan suatu saat menjadi muzaki,” kata dia.

Di Jember, balai ternak yang dikelola Baznas Kabupaten baru ada satu, yang berlokasi di Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe.

Pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan ketersediaan pakan alami, efisiensi pembangunan kandang, serta kemudahan pengawasan.

Salah satu anggota Balai Ternak Raung Mandiri saat memberi pakan untuk domba-dombanya. Foto: Anik Wariska/Balai Ternak Raung Mandiri

Setiap tahun, sebagian ternak di sana diserap Baznas RI untuk program kurban. Harganya pun mengikuti standar Jakarta, bukan harga lokal.

Tahun sebelumnya, kata Qodir, untuk bobot domba sekitar 27–32 kilogram, harganya bisa mencapai sekitar Rp3 juta per ekor.

“Penjualan tidak bisa sembarangan. Harus menjaga ketersediaan ternak dan keberlanjutan program. Sebagian hasil juga masuk kas untuk operasional, obat, dan perawatan kandang,” ujarnya.

Meski program dinilai berdampak pada tambahan penghasilan, Qodir mengakui bahwa proses naik kelas menjadi muzaki belum bisa diukur dalam waktu singkat.

Program ini baru berjalan sekitar dua tahun. Sehingga tantangan terbesar justru terletak pada pembentukan pola pikir dan inovasi pemasaran yang dilakukan para mustahik.

“Sudah kami coba edukasi pemasaran online, bahkan pasang Wi-Fi. Tapi memang butuh waktu untuk perubahan mindset tersebut,” katanya.

Selain sektor ekonomi, Baznas Jember juga menjalankan lima pilar program yaitu kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, serta dakwah dan advokasi.

Ia mencontohkan sejumlah intervensi di bidang kesehatan, termasuk pendampingan warga Jember yang mengalami kendala administrasi persalinan di luar daerah hingga bantuan kontrol pengobatan anak di Surabaya.

Namun di balik berbagai program tersebut, tantangan terbesar menurutnya justru pada sisi penghimpunan dana zakat.

“Kalau dihitung sederhana, potensi zakat dari ASN di Jember sangat besar. Tapi realisasinya masih jauh dari potensi. Padahal kalau pengumpulannya optimal, program bisa jauh lebih luas dan berdampak,” ujarnya.

Tema Zakat Menguatkan Indonesia, yang diusung dalam peringatan HUT Baznas, menurutnya, bukan sekadar slogan. Ia memaknai zakat sebagai instrumen pengurangan kesenjangan ekonomi yang sejalan dengan program pemerintah, termasuk ketahanan pangan.

“Kalau dikelola bersama melalui lembaga resmi, dampaknya lebih terasa. Dana kecil kalau dikumpulkan bisa menjadi besar dan manfaatnya luas,” katanya.

Harapannya, kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi semakin meningkat. Dengan pengelolaan yang terstruktur, zakat tidak hanya habis dibagikan, tetapi berputar menjadi penggerak ekonomi.

Bagi Kementerian Agama (Kemenag), program Baznas seperti Balai Ternak ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari strategi besar pemberdayaan ekonomi umat.

Kasi Zakat dan Wakaf Kemenag Kabupaten Jember, Abdul Basid, mengatakan penguatan ekonomi umat termasuk dalam program strategis Kementerian Agama.

Karena itu, zakat dipandang memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian masyarakat.

“Zakat produktif ini harapannya mengubah pola pikir. Dulu lebih banyak bersifat konsumtif, sekarang diarahkan agar mustahik bisa berproses menjadi muzaki,” ujarnya.

Menurutnya, pergeseran dari pola bantuan sesaat menuju pemberdayaan adalah kunci. Jika zakat hanya dibagikan untuk konsumsi, ketergantungan sulit dihindari.

Namun ketika dikelola secara produktif, mustahik didorong memiliki sumber penghasilan sendiri.

Seperti di Kampung Zakat, Desa Jambearum Jember, kata dia, perubahan itu mulai terlihat. Sejak program berjalan, tercatat tujuh orang yang sebelumnya mustahik kini telah menjadi muzaki.

“Ini yang kita harapkan. Tidak selamanya menerima, tapi bisa memberi,” katanya.

Program Kampung Zakat sendiri merupakan kolaborasi antara Kementerian Agama, Baznas, dan lembaga amil zakat lainnya. Sinergi itu, menurut Basid, penting agar zakat tetap tepat sasaran sekaligus berdampak jangka panjang.

Tema Zakat Menguatkan Indonesia, tambahnya, harus diwujudkan dalam bentuk nyata, bukan hanya slogan tahunan. Keberadaan lembaga pengelola zakat harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Harapannya tentu zakat bisa semakin memberi dampak luas melalui kolaborasi semua pihak,” ujarnya.

Baznas Jember saat meluncurkan program Balai Ternak Raung Mandiri pada Rabu (18/9/2024). Foto: Dok. Baznas Jember

Zakat sebagai Way of Life

Wakil Ketua IV Baznas Provinsi Jawa Timur, Dr. K.H. Husnul Khuluq, menekankan pentingnya zakat dalam membantu masyarakat kurang mampu.

Menurutnya, zakat yang disalurkan melalui Baznas memberikan dampak besar bagi warga miskin.

“Ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an agar uang tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat yang kurang mampu,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat bagi sesama. “Sebagai orang yang baik, kita harus banyak menunaikan zakat, infak, dan sedekah agar manfaatnya jelas bagi masyarakat,” ujarnya.

Kiai Khuluq menyoroti peran penting zakat produktif dalam mengentaskan kemiskinan, terutama di pedesaan.

“Semoga semua komponen terus bahu-membahu menggelorakan zakat sebagai way of life. Sehingga tercipta harmoni antara yang kaya dan yang kurang mampu,” tambahnya.

Mengutip laman baznas.jogjakota.go.id, salah satu keistimewaan zakat adalah kemampuannya untuk membersihkan harta.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk mensucikan harta dan jiwa.

Dengan menunaikan zakat, seorang Muslim diharapkan dapat membersihkan diri dari sifat kikir dan egois, serta meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama.

Menurut Kiai Khuluq, program Balai Ternak Raung Mandiri Jember beserta rumah kompos di dalamnya, berkontribusi nyata dalam membawa perubahan kehidupan masyarakat.

Pengolahan kotoran ternak menjadi kompos memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

“Inilah inovasi zakat yang dapat mengangkat masyarakat dari jurang kemiskinan menjadi orang-orang yang sejahtera hidupnya,” kata dia.

Salah satu anggota Balai Ternak Raung Mandiri saat memberi pakan untuk domba-dombanya. Foto: Anik Wariska/Balai Ternak Raung Mandiri

Program ini pun juga disambut baik oleh Asisten Administrasi Umum Pemkab Jember, Harry Agustriyono. Ia berharap, program-program tersebut tidak hanya membantu secara ekonomi.

Tapi juga memberi edukasi tentang pentingnya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan melalui kompos, yang dapat menjadi nilai tambah bagi perekonomian lokal.

“Terima kasih kepada Baznas dan PT. Ansaf Inti Resources atas kontribusinya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jember melalui program Balai Ternak dan Rumah Kompos,” kata dia.

Kabut mungkin akan kembali turun di Desa Jambearum esok pagi. Domba-domba itu akan tetap bersahutan seperti biasa.

Namun bagi Iqbal, kandang sederhana di ujung dusun itu telah mengubah cara ia memandang zakat. Bukan lagi sekadar bantuan yang datang dan habis, melainkan peluang yang tumbuh dan bisa diwariskan.

Dari delapan ekor awal yang pernah ia terima, kini belasan domba berdiri di hadapannya.

Di antara suara-suara ternak itu, terselip satu harapan sederhana, suatu hari nanti, ia tidak lagi tercatat sebagai mustahik, melainkan sebagai muzaki yang ikut menguatkan yang lain.

Rekomendasi Berita