Desa Suci Jember Menyulap Sampah Jadi Sumber Penghidupan

  • 07 Nov 2025 23:15 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Di benak Parmuji, memori itu tak pernah pudar. Satu pagi di awal 2006, suara gemuruh air bercampur lumpur melesat dari arah hulu, menerjang Desa Suci di Kecamatan Panti, Jember. Dalam hitungan menit, rumah-rumah hanyut, pepohonan rubuh, dan nyawa kerabatnya lenyap. Ia yang saat itu masih berusia 20-an tahun menyaksikan sendiri duka yang merenggut ratusan korban jiwa.

Dan meski tak lagi seburuk 2006, banjir masih terus datang hingga 2024 seakan menjadi pengingat bahwa ancaman itu belum benar-benar pergi. Dari pengalaman pahit itulah, Parmuji memutuskan satu hal penting: Desa Suci harus berubah. Tidak hanya sigap saat bencana datang, tetapi juga kuat melakukan pencegahan.

“Desa Suci ini berada di hulu sungai. Pengelolaan sampah, dari pertanian sampai rumah tangga, harus diperhatikan. Kalau tidak, dampaknya bisa menjalar sampai ke hilir,” ujar Parmuji Jumat (7/11/2025).

Pandangan tersebut menggambarkan perspektif yang lebih luas bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya berbicara tentang wilayah masing-masing. Ketika Desa Suci menetapkan diri sebagai Kampung Proklim, maka pengelolaan sampah menjadi salah satu kewajiban yang harus diwujudkan.

Dalam upaya itu, Ihsannudin, Dosen Program Studi Penyuluhan Pertanian Faperta Universitas Jember, mengambil peran penting. Ia menggerakkan warga untuk melihat sampah bukan sebagai beban, tetapi sebagai potensi.

“Isu kebencanaan dan isu ekonomi ini justru bisa menjadi pemantik kesadaran masyarakat,” katanya.

Program ini kemudian mendapat dukungan pendanaan dari Kemendiktisaintek melalui Pemberdayaan Desa Binaan, membuat gerakan ini makin terstruktur.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah teknologi “bata bolong”, metode pengolahan limbah pertanian menjadi pupuk organik tanpa proses pembalikan yang melelahkan.

“Petani itu sering enggan karena merasa ribet. Dengan bata bolong, cukup didiamkan saja. Hari ke-30, pupuk sudah bisa dipanen,” jelas Subhan Arief Budiman, anggota tim Pemberdayaan Desa Binaan sekaligus Wadek 3 Faperta UNEJ.

Hasilnya, para petani tak hanya mendapat pupuk organik untuk lahan mereka, tetapi juga peluang pendapatan baru dari penjualan pupuk.

Pemberdayaan juga menyasar Bank Sampah Larahan Makmur. Bersama Senki Desta Galuh dari Universitas Muhammadiyah Jember, kelompok ini didorong mengolah sampah yang selama ini tak laku dijual: diapers dan plastik multilayer.

“Kedua sampah ini biasanya jadi masalah besar. Tapi dengan inovasi, semua bisa diolah,” ujar Desta.

Kini, Bank Sampah Larahan Makmur mampu memproduksi pot tanaman dari diapers dengan harga jual Rp10.000–Rp50.000. Mereka juga berhasil membuat mulsa pengganti mulsa konvensional untuk tanaman cabai menghemat biaya petani yang sebelumnya harus membeli mulsa seharga Rp250.000 per gulung.

Upaya ini mendapat dukungan penuh Pemerintah Desa Suci. Kolaborasi dengan Ecoton Foundation turut memperkuat aspek keberlanjutan dan reputasi pengelolaan lingkungannya.

“Sebagai Desa Tanggap Bencana, pengolahan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga,” tegas Sekretaris Desa Suci, Akhmad Rikhwan.

Perjalanan Desa Suci menunjukkan bahwa pengurangan risiko bencana bukan hanya urusan infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku. Dari limbah rumah tangga hingga sisa pertanian, semua dapat diolah menjadi sumber manfaat bahkan sumber pendapatan.

Di tengah isu perubahan iklim, warga Desa Suci telah membuktikan bahwa circular economy bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik nyata yang lahir dari kebutuhan dan kreativitas akar rumput.

Dari sampah, mereka membangun harapan. Dari trauma, mereka menemukan arah baru. Dan dari upaya kecil namun konsisten, harmoni antara ekologi dan ekonomi mulai terasa.

Rekomendasi Berita