Kemunduran Kodak Karena Inovasinya Sendiri

  • 31 Jan 2026 10:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Kodak pernah menjadi raksasa tak tergoyahkan dalam industri fotografi dunia. Selama puluhan tahun, perusahaan ini mendominasi pasar film dengan keuntungan luar biasa, namun pada akhirnya justru tumbang oleh teknologi yang ironisnya mereka ciptakan sendiri.

Mengutip ulasan ipwatchdog.com, pada masa kejayaannya Kodak menguasai sekitar 70 persen pasar film fotografi di Amerika Serikat, dengan margin keuntungan mendekati 70 persen. Film menjadi mesin uang utama perusahaan. Tak heran jika manajemen Kodak begitu fokus melindungi bisnis intinya dan enggan mengambil risiko yang dianggap dapat menggerus keuntungan tersebut.

Didirikan pada 1888 oleh George Eastman, Kodak berperan besar dalam mempopulerkan fotografi amatir. Perusahaan ini membawa fotografi keluar dari studio profesional ke kehidupan sehari-hari. Peluncuran kamera Brownie pada 1900 dengan harga satu dolar menjadi tonggak penting, disusul Kodak Vest Pocket Camera pada 1912 yang terjual jutaan unit. Pada 1920-an, Kodak terus berinovasi dengan menghadirkan Cine-Kodak untuk film rumahan dan film khusus gambar bergerak bersuara pada 1929.

Kesuksesan Kodak juga ditopang strategi pemasaran yang kuat. Kampanye iklan mereka mendorong masyarakat untuk mengabadikan “Kodak moments”, menjadikan fotografi sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Slogan-slogan emosional dan visual penuh warna memperkuat posisi Kodak sebagai simbol kenangan dan nostalgia.

Puncak kejayaan tercapai pada 1962, ketika Kodak mempekerjakan sekitar 75 ribu orang dan membukukan penjualan lebih dari 1 miliar dolar AS di Amerika Serikat. Model bisnisnya sederhana namun efektif yakni menjual kamera murah agar konsumen terus membeli film. Dalam pandangan Kodak, melindungi bisnis film adalah kunci kelangsungan perusahaan.

Namun sejarah berbalik arah ketika Kodak justru mengabaikan terobosan terbesarnya sendiri. Pada pertengahan 1970-an, insinyur Kodak bernama Steve Sasson berhasil menciptakan kamera digital pertama di dunia. Kamera tersebut menggunakan sensor charge-coupled device (CCD) untuk menangkap gambar tanpa film. Uji coba sukses dilakukan pada Desember 1975 bersama teknisi Jim Schueckler.

Meski kualitas gambar kamera digital awal itu masih sangat rendah, sekitar 0,1 megapiksel dan perangkatnya tidak praktis, sebagian pihak di Kodak memahami potensi besar fotografi tanpa film. Bahkan Hukum Moore telah memperkirakan bahwa teknologi ini layak untuk konsumen dalam 15 hingga 20 tahun ke depan. Namun, kecanduan terhadap keuntungan film 35mm membuat manajemen Kodak enggan berinvestasi serius di bidang digital.Keengganan tersebut berbuah mahal. Pada 1990-an, Kodak tertinggal dari perusahaan seperti Sony dan Canon yang lebih agresif mengembangkan kamera digital. Industri film yang selama ini menjadi tulang punggung Kodak pun perlahan tersingkir oleh teknologi digital pada awal 2000-an. Masalah Kodak tidak hanya datang dari kamera digital.

Sebelumnya, perusahaan juga terguncang oleh fotografi instan yang dikembangkan Polaroid, serta persaingan harga dari Fujifilm yang mampu menjual film lebih murah ke peritel besar seperti Walmart. Ditambah lagi, keputusan bisnis yang keliru seperti akuisisi perusahaan farmasi Sterling Drug senilai 5,1 miliar dolar AS pada 1988, justru memperburuk kondisi keuangan. Enam tahun kemudian, bisnis tersebut dijual kembali dengan nilai jauh lebih rendah.

Menurut ipwatchdog.com, kisah Kodak sejatinya menjadi pelajaran klasik tentang kegagalan membaca disrupsi teknologi. Seperti halnya Xerox yang mengabaikan potensi komputer personal, Kodak terjebak pada kejayaan masa lalu. Padahal, dengan sumber daya dan riset yang dimiliki, Kodak sebenarnya berpeluang menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi Silicon Valley dan memimpin era fotografi digital.Kisah Kodak menjadi peringatan bagi perusahaan mana pun. Mengabaikan inovasi, terlebih inovasi yang diciptakan sendiri adalah langkah berisiko tinggi. Sejarah menunjukkan bahwa perusahaan yang gagal melihat peluang di tengah perubahan teknologi berpotensi kehilangan segalanya, sekuat apa pun posisi mereka di masa lalu.

Rekomendasi Berita