Siswa Autis Meningkat, Guru Pendidikan Khusus di Papua Terbatas

  • 31 Agt 2026 05:36 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Jumlah siswa penyandang autisme di Sekolah Luar Biasa di Papua terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Peningkatan tersebut belum diimbangi ketersediaan guru yang memiliki latar belakang Pendidikan Khusus.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua, Laurens Wantik, mengatakan siswa baru penyandang autisme kini berkisar lima hingga 30 orang. Data tersebut berasal dari sekitar tujuh SLB di Serui, Waropen, Biak, dan Jayapura.

“Dalam tiga tahun terakhir selalu meningkat,” kata Laurens, Senin, 31 Agustus 2026. “Siswa baru paling sedikit lima dan paling banyak 30 yang masuk di satuan pendidikan di Provinsi Papua.”

Laurens mengatakan kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga pendidik khusus semakin besar. Namun, guru SLB yang memiliki latar belakang Pendidikan Khusus masih terbatas.

“Guru SLB yang aslinya dari Pendidikan Khusus tidak sampai 50 persen,” ujarnya. “Sekitar 10 persen dari guru lainnya, kebanyakan direkrut dari guru non-Pendidikan Khusus.”

Menurut Laurens, guru non-Pendidikan Khusus tetap dapat mendampingi siswa berkebutuhan khusus dengan pendampingan. Guru tersebut terlebih dahulu didampingi guru Pendidikan Khusus selama satu tahun.

Setelah mendapatkan pendampingan, guru tersebut diharapkan mampu mendampingi siswa penyandang disabilitas. Namun, Laurens mengakui kondisi tenaga pendidik saat ini masih belum ideal.

“Masih belum ideal,” katanya. “Apalagi universitas yang ada di Papua belum memiliki Pendidikan Khusus untuk guru.”

Laurens mengatakan rasio kebutuhan guru di SLB juga berbeda dengan sekolah umum. Di sekolah umum, satu guru dapat menangani sekitar 35 siswa, sedangkan siswa disabilitas membutuhkan pendampingan lebih intensif.

“Kalau di sekolah biasa 35 banding satu guru,” ujar Laurens. “Di sekolah disabilitas, delapan siswa harus ada dua guru pendamping.”

Ia mengatakan minat menjadi guru Pendidikan Khusus juga masih sangat rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik bagi siswa berkebutuhan khusus.

Menurut Laurens, Dinas Pendidikan Papua telah berkomunikasi dengan sejumlah perguruan tinggi di luar Papua untuk memenuhi kebutuhan tenaga Pendidikan Khusus. Perguruan tinggi tersebut antara lain UPI Bandung, UNM Makassar, serta perguruan tinggi di Manado, Yogyakarta, dan Semarang.

Dinas Pendidikan Papua juga mendorong Universitas Cenderawasih membuka program studi Pendidikan Khusus. Program tersebut direncanakan mulai dikembangkan pada 2027 untuk menyiapkan tenaga pendidik khusus di Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....