Uncen Didorong Buka Prodi Pendidikan Khusus Mulai 2027

  • 31 Agt 2026 05:36 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Dinas Pendidikan Papua mendorong Universitas Cenderawasih membuka program studi Pendidikan Khusus mulai 2027. Program tersebut disiapkan untuk menjawab keterbatasan guru yang memiliki kompetensi menangani siswa berkebutuhan khusus di Papua.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua, Laurens Wantik, mengatakan komunikasi dengan Uncen telah dilakukan untuk menyiapkan program studi tersebut. Rencananya, program studi Pendidikan Khusus ditempatkan di bawah Bimbingan Konseling.

“Kami sudah membangun komunikasi dengan Uncen untuk membuat satu program studi,” kata Laurens, Senin, 31 Agustus 2026. “Mungkin tahun 2027 kita sudah bisa mulai untuk Uncen membuka prodi baru.”

Laurens mengatakan pembukaan program studi tersebut masih menghadapi kendala ketersediaan dosen. Dinas Pendidikan Papua telah mengusulkan pemanfaatan guru berpengalaman sebagai bagian dari tenaga pengajar.

“Kendalanya kemarin adalah dosen,” ujarnya. “Kami mendorong dosennya menggunakan guru-guru yang sudah berpengalaman dan berpendidikan S2.”

Menurut Laurens, guru yang diusulkan tersebut telah memenuhi persyaratan pendidikan dan memiliki pengalaman menangani siswa berkebutuhan khusus. Namun, pola pemanfaatan guru tersebut sebagai tenaga pengajar belum menemukan kesepakatan.

Kebutuhan guru Pendidikan Khusus semakin besar seiring meningkatnya jumlah siswa berkebutuhan khusus di Papua. Laurens mengatakan guru yang memiliki latar belakang Pendidikan Khusus saat ini masih sangat terbatas.

“Guru SLB yang aslinya dari Pendidikan Khusus tidak sampai 50 persen,” kata Laurens. “Minat menjadi guru Pendidikan Khusus juga sangat rendah.”

Laurens mengatakan kondisi tersebut membuat rasio guru dan siswa berkebutuhan khusus belum ideal. Di sekolah umum, satu guru dapat menangani sekitar 35 siswa, sedangkan di pendidikan khusus delapan siswa membutuhkan dua guru pendamping.

“Di sekolah disabilitas itu delapan siswa harus ada dua guru,” ujarnya. “Rasio antara guru dengan anak-anak siswa berkebutuhan khusus ini sangat berbeda jauh.”

Saat ini, kebutuhan tenaga Pendidikan Khusus masih dipenuhi melalui lulusan sejumlah perguruan tinggi di luar Papua. Perguruan tinggi tersebut antara lain UPI Bandung, UNM Makassar, serta perguruan tinggi di Manado, Yogyakarta, dan Semarang.

Laurens berharap pembukaan program studi di Uncen dapat memperkuat ketersediaan tenaga Pendidikan Khusus di Papua. Langkah tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap lulusan dari luar daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....