BI Papua: Inflasi di Tiga DOB Papua pada Mei 2026 Tetap Terkendali

  • 08 Jun 2026 12:37 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Inflasi di Provinsi Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) pada Mei 2026 secara umum masih terjaga dan berada dalam sasaran target nasional. Kondisi ini didukung oleh pasokan pangan lokal yang memadai serta penguatan sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar mengatakan, berdasarkan rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, dua provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua mengalami inflasi bulanan, sementara dua provinsi lainnya mencatatkan deflasi.

“Inflasi bulanan masih terjaga dalam sasaran target nasional. Hal ini didukung oleh pasokan pangan lokal yang memadai, terutama cabai rawit dan berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi hijau seiring kondisi cuaca yang lebih kondusif,” kata David Sipahutar, Senin (08/06/2026).

Menurutnya, inflasi tertinggi secara bulanan terjadi di Provinsi Papua Tengah sebesar 0,52 persen (month to month/mtm), disusul Provinsi Papua Pegunungan sebesar 0,48 persen (mtm). Sementara itu, Provinsi Papua mengalami deflasi terdalam sebesar 0,68 persen (mtm), diikuti Provinsi Papua Selatan yang mencatat deflasi 0,50 persen (mtm).

David menjelaskan, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi di sejumlah wilayah. Kenaikan ini dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi, khususnya avtur, yang berdampak pada meningkatnya tarif angkutan udara.

Di Provinsi Papua, deflasi bulanan sebesar 0,68 persen (mtm) ditopang oleh penurunan harga ikan tuna, ikan cakalang, dan cabai rawit. Namun demikian, kenaikan harga tomat, telepon seluler, dan buncis masih memberikan tekanan inflasi.

Secara tahunan, inflasi Provinsi Papua tercatat sebesar 2,79 persen (year on year/yoy), sementara inflasi tahun berjalan mencapai 0,70 persen (year to date/ytd).

Sementara itu, Provinsi Papua Selatan mencatat deflasi bulanan sebesar 0,50 persen (mtm). Penurunan harga cabai rawit, kangkung, dan sawi hijau menjadi faktor utama penahan inflasi. Di sisi lain, kenaikan harga ikan layang, tomat, dan daging ayam ras turut memberikan andil inflasi.

Papua Selatan mencatat inflasi tahunan sebesar 2,17 persen (yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 2,47 persen (ytd).

Berbeda dengan dua provinsi tersebut, Provinsi Papua Tengah mengalami inflasi bulanan sebesar 0,52 persen (mtm). Kenaikan tarif angkutan udara, harga beras, dan tahu mentah menjadi penyumbang utama inflasi. Namun laju inflasi masih tertahan oleh penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan tomat.

Secara tahunan, inflasi Papua Tengah tercatat sebesar 2,05 persen (yoy), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 0,68 persen (ytd).

Adapun Provinsi Papua Pegunungan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,48 persen (mtm). Kenaikan harga tomat, daging ayam ras, dan tarif angkutan udara menjadi pemicu utama inflasi. Sementara penurunan harga cabai rawit, telur ayam ras, dan talas atau keladi membantu menahan tekanan harga.

Papua Pegunungan mencatat inflasi tahunan tertinggi di wilayah kerja BI Papua, yakni sebesar 4,44 persen (yoy), dengan inflasi tahun berjalan mencapai 4,32 persen (ytd).

David menambahkan, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Pada aspek keterjangkauan harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, BULOG, dan mitra terkait secara rutin melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Papua dan tiga DOB.

Dari sisi ketersediaan pasokan, dukungan sarana dan prasarana produksi pertanian diberikan kepada kelompok tani di Papua Tengah dan Papua Selatan. Sementara untuk mendukung kelancaran distribusi, bantuan sarana distribusi pangan juga disalurkan kepada kelompok tani di Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

“Selain itu, kami juga terus memperkuat komunikasi dan edukasi pengendalian inflasi melalui berbagai kanal, termasuk kegiatan Capacity Building TPID dan berbagi pengalaman dari daerah peraih TPID Awards 2025 agar praktik-praktik terbaik dapat direplikasi di Papua,” ujarnya.

Bank Indonesia optimistis sinergi pengendalian inflasi yang terus diperkuat bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan akan mampu menjaga stabilitas harga serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Papua dan tiga DOB.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....