Pemprov Papua Ingin Pangkas Rantai Pasok Kakao dan Vanila di Keerom

  • 02 Jun 2026 12:48 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan kerja sama dengan pengusaha Belanda untuk memperkuat pengembangan kakao dan vanila di Kabupaten Keerom. Langkah tersebut diharapkan dapat memangkas rantai pasok yang selama ini membuat petani belum menikmati harga komoditas sesuai nilai pasar.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Papua, Jimmy Thesia mengatakan harga kakao dan vanila saat ini cukup tinggi di pasar. Namun, menurutnya, petani masih menerima harga yang rendah karena hasil produksi dibeli melalui rantai distribusi yang panjang.

“Kalau kita bisa pangkas rantai pasok yang begitu panjang dan pembelian yang di bawah harga, maka masyarakat akan menerima harga kakao dan vanila sesuai harga pasar yang berlaku,” kata Jimmy kepada RRI, Selasa, 2 Juni 2026.

Ia mengatakan pengusaha Belanda telah meninjau sejumlah lokasi perkebunan di Keerom. Dari hasil kunjungan tersebut, ditemukan banyak lahan kakao dan vanila yang belum dikelola secara optimal karena rendahnya keuntungan yang diterima petani.

“Di sana sudah banyak sekali, tapi setelah kita datang dan melihat di perkebunan, itu tidak terawat. Karena dibelinya sangat kecil sehingga petani tidak merasakan manfaat ekonominya,” ujarnya.

Selain memperkuat pemasaran hasil produksi, Pemprov Papua juga menyiapkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Salah satu rencana yang sedang dibahas adalah peluang pendidikan bagi generasi muda di kawasan perkebunan kakao dan vanila melalui kerja sama dengan Belanda.

“Ada wacana untuk menyekolahkan anak-anak yang ada di sekitar wilayah perkebunan kakao dan vanila ke negeri Belanda untuk meningkatkan kapasitas mereka dari sisi pertanian,” ucap Jimmy.

Menurutnya, pengembangan komoditas kakao dan vanila tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran agar hilirisasi dapat berjalan optimal.

“Kita bicara produksi, distribusi dan pemasaran. Kalau ketersediaan bahan bakunya tidak diperbaiki, hilirisasi tidak akan berjalan seperti yang diharapkan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....