Yanni Dorong Langkah Konkret Atasi Penyakit Menular di Papua

  • 14 Jun 2026 03:19 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (KEPP Otsus) Papua, Yanni mendorong langkah konkret dalam penanganan penyakit menular di Papua, seperti HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), malaria, dan kusta.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga menyangkut regulasi, akses pemeriksaan, hingga stigma sosial yang masih melekat pada para penderita.

Hal itu disampaikan Yanni dalam diskusi bersama sejumlah dokter spesialis, tenaga kesehatan, aktivis, tokoh agama, dan pegiat kesehatan masyarakat di Jayapura, Kamis (4/6/2026).

“Kalau masyarakat masih takut memeriksakan diri karena khawatir mendapat stigma, maka kita akan selalu terlambat menemukan kasus. Penyakitnya bisa diobati, tetapi ketakutan dan diskriminasi juga harus kita lawan,” kata Yanni.

Ia menilai penanganan penyakit menular tidak dapat mengandalkan pendekatan medis semata. Edukasi masyarakat, peningkatan kesadaran publik, serta penghapusan diskriminasi harus berjalan beriringan dengan upaya pengobatan dan pencegahan.

Dalam diskusi tersebut, masih adanya kendala ketersediaan alat pemeriksaan untuk mendeteksi HIV maupun TBC yang masih ketergantung terhadap distribusi dari pemerintah pusat.

“Kalau deteksi dini terganggu, maka seluruh rantai penanganan ikut terganggu. Penyakit menular membutuhkan kecepatan. Keterlambatan pemeriksaan akan memperbesar risiko penularan,” ujarnya.

Bahkan menyoroti proses administrasi dan pemeriksaan yang harus dilalui pasien TBC sebelum memperoleh layanan yang ditanggung BPJS Kesehatan. “Yang harus dipikirkan bukan hanya pasiennya. Ada keluarga, ada lingkungan sekitar, ada masyarakat yang juga harus dilindungi dari risiko penularan,” tegasnya.

Sementara regulasi kerahasiaan pasien HIV/AIDS maupun keterbatasan tenaga medis dalam menyampaikan status HIV pasien kepada pasangan hidupnya.

Ia menyadari pentingnya memperkuat edukasi kesehatan reproduksi dan kampanye pencegahan penyakit menular. Termasuk terapi antiretroviral yang teratur. Apalagi kata dia, tren peningkatan kasus HIV pada kelompok usia muda akibat perilaku seks berisiko pada kelompok rentan di usia 15 hingga 24 tahun.

“Artinya HIV bukan akhir dari segalanya. Kuncinya ada pada deteksi dini, akses pengobatan, dan kepatuhan menjalani terapi. Karena itu negara harus memastikan seluruh rangkaian layanan itu tersedia,” ujar Yanni.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....