di Atas Terpal, Mama-Mama Papua, Menjaga Pangan

  • 18 Mei 2026 15:53 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Matahari siang mulai membakar terpal kecil di sisi utara Pasar Hamadi, Jayapura. Di atas tanah beralas papan dan karung, mama-mama Papua duduk menjaga tumpukan singkong, ubi, pisang, pepaya, dan nanas hasil kebun mereka.

Tak ada kios beton. Tak ada pendingin ruangan. Hanya payung seadanya yang menahan panas yang memantul dari aspal pasar.

“Ini dorang harus pasang kipas angin boleh, supaya kita tidak kepanasan to,” celetuk Maria Wenda sambil tertawa kecil bersama Yance Tabuni.

Tawa itu tak berlangsung lama. Langkah para pembeli yang berlalu begitu saja di depan lapak mereka perlahan membuat wajah keduanya kembali murung.

Di Pasar Hamadi, mama-mama Papua dari Kelurahan Angkasa dan kawasan belakang Kantor Wali Kota Jayapura memang tak memiliki kios permanen seperti pedagang lain. Mereka hanya menggelar terpal di atas tanah, lalu menumpuk hasil kebun di sekeliling tubuh mereka.

Di situlah mereka bertahan sejak pagi hingga sore.

Pasar mulai ramai sejak pagi. Di tengah hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, Yance Tabuni sesekali merapikan singkong dan pisang dagangannya sambil menganyam noken.

Perempuan Papua berusia sekitar 50 tahun itu setiap hari menempuh perjalanan sekitar enam kilometer dari Kelurahan Angkasa menuju Pasar Hamadi demi menjual hasil kebun keluarganya.

Di dalam noken yang dibawanya terdapat nanas, pepaya, singkong, dan pisang hasil kebun yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Dari hasil jualan itulah Yance membeli beras untuk makan bersama suami dan ketiga anaknya yang kini duduk di bangku SD hingga SMP.

“Kalau tra jualan, anak-anak tra makan,” ujarnya pelan.

Untuk sampai ke pasar, Yance harus berganti angkutan umum hingga dua kali. Namun karena kendaraan umum di wilayah tempat tinggalnya jarang beroperasi, ia sering kali terpaksa menggunakan ojek.

Dalam sehari, ongkos transportasi yang harus dikeluarkannya bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, hampir setara dengan setengah penghasilannya sehari.

Pendapatan Yance pun tak menentu. Dalam sehari ia biasanya memperoleh Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Uang itu digunakan membeli beras, kebutuhan rumah tangga, hingga uang jajan sekolah anak-anaknya.

Satu tumpuk singkong dijual Rp20 ribu. Pisang dijual mulai Rp20 ribu hingga Rp35 ribu tergantung ukuran dan jenisnya. Sementara satu buah nanas besar dijual Rp30 ribu.

Namun harga itu kerap dianggap mahal oleh pembeli.

Padahal bagi Yance, harga tersebut sudah sangat murah jika dibandingkan dengan biaya perjalanan dan tenaga yang harus dikeluarkannya setiap hari.

“Kadang dorang hanya tanya harga saja, baru dorang pergi,” katanya sambil menundukkan kepala.

Beberapa kali calon pembeli berhenti di depan lapaknya. Wajah Yance dan Maria langsung berubah cerah.

“Mari mama beli… murah saja mama… singkong Rp20 ribu… ubi Rp20 ribu… ada Rp30 ribu juga,” ujar mereka sambil cepat-cepat mengambil kantong kresek, berharap dagangan mereka jadi dibeli.

Namun tak semua calon pembeli benar-benar membeli.

Ketika pembeli pergi begitu saja setelah menanyakan harga, Yance hanya menarik napas panjang lalu kembali duduk memandangi dagangannya yang belum banyak berkurang.

Tak hanya soal pembeli, perjalanan menuju pasar pun menjadi tantangan tersendiri.

Yance bercerita, beberapa sopir angkutan umum terkadang enggan mengangkut dirinya dan mama-mama Papua lainnya karena mereka membawa banyak hasil kebun di dalam noken.

“Dorang bilang, barang banyak sekali mama, naik ojek saja,” kata Yance.

Mama - mama Papua menjual hasil kebun di pasar Hamadi demi memastikan dapur di rumah tetap menyala.(RRI/Lina)

Cerita serupa dialami Maria Wenda.

Perempuan berusia 30 tahun itu setiap hari meninggalkan rumah sejak pukul 04.00 WIT untuk mencari ubi-ubian di Pasar Yotefa yang kemudian dijual kembali di Pasar Hamadi.

Maria memiliki seorang anak berusia lima tahun yang sebentar lagi masuk sekolah dasar. Saat berjualan, anaknya dititipkan kepada sang ayah di rumah.

Maria harus mengeluarkan ongkos Rp20 ribu untuk ojek menuju pasar. Sementara biaya mengangkut barang dagangannya mencapai Rp50 ribu.

Di atas ojek itu, Maria membawa singkong, ubi ketela, keladi, dan bete.

Dalam sehari, keuntungan yang dibawanya pulang terkadang hanya Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Namun Maria tak punya banyak pilihan selain kembali datang ke pasar setiap pagi.

“Kalau tra jualan, saya tidak bisa beli beras,” katanya.

Beras lima kilogram yang dibeli Maria biasanya hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga selama satu minggu.

Ketika dagangan sepi dan uang tidak cukup membayar ongkos, Maria terpaksa berutang kepada tukang ojek langganannya.

Ia masih mengingat bagaimana para tukang ojek itu tetap mempercayainya meski dirinya belum memiliki uang.

“Kalau belum ada uang, saya bilang, kaka nanti e… baru ojek dia jawab, iyo tenang saja Maria, tonk su kenal to. Besok jualan laku baru saya bayar,” ujarnya lirih.

Pimpinan Perum BULOG Kantor Wilayah Papua, Ahmad Mustari, mengatakan kondisi geografis Papua menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat. Distribusi ke wilayah pegunungan harus menggunakan jalur udara, sementara daerah pesisir mengandalkan transportasi laut yang membutuhkan waktu dan biaya besar.

Namun di balik rumitnya rantai distribusi pangan itu, ada perjuangan-perjuangan kecil yang berlangsung setiap hari di sudut Pasar Hamadi.

Di atas terpal lusuh yang menahan panas aspal, mama-mama Papua duduk menjaga hasil kebun mereka sejak pagi hingga sore. Menunggu pembeli datang. Berharap singkong, ubi, pisang, dan nanas yang dibawa dari rumah bisa terjual sebelum hari gelap.

Menjelang petang, satu per satu dagangan mulai dirapikan. Noken yang sejak pagi dipenuhi hasil kebun kini berganti dengan beberapa kilogram beras untuk dibawa pulang ke rumah.

Besok subuh, mereka akan kembali datang.

Kembali duduk di atas tanah yang panas. Menjual hasil kebun dengan harapan sederhana agar dapur tetap menyala dan anak-anak mereka tidak tidur dalam keadaan lapar.

Di tengah berbagai pembahasan besar tentang ketahanan pangan, mama-mama Papua itu mungkin tak pernah berdiri di depan podium atau masuk dalam laporan-laporan resmi.

Namun dari atas terpal kecil di sudut Pasar Hamadi, merekalah yang setiap hari diam-diam menjaga pangan tetap ada di meja makan keluarga mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....