Pengabdian Berawal dari Cinta di Lapangan Hijau

  • 07 Feb 2026 21:07 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Mencintai dan mengabdikan hidupnya di sepak bola, khususnya sepak bola wanita, bermula dari kisah percintaannya di lapangan hijau. Dengan sesama pemain sepak bola, calon suaminya dulu adalah salah satu pemain  Persipura di Era Timo Kapisa.

Yustien Mebri, seorang perempuan Papua, anggota Executive Comitte  Persatuan Sepak Bola seluruh Indonesia ( Exco PSSI) Papua. Sejak tahun 1987  Mama Mebri sebutan sayang bagi wanita Papua, telah menjadi anggota PSSI hingga sekarang.  

Mantan pemain Persipura wanita di era tahun 70-an. Kala itu klub sepak bola seperti Persidafon, Bon Abe, Bon Jayapura, Bon Apuse. Setelah menjadi pegawai negeri,  Stien membentuk klub Galanita Cenderawasih tahun 1979.

Tahun 2021, ia bersama  tim sepak bola wanita pada PON Papua  sukses raih juara satu Papua. Banyak cerita sedih yang ia rasakan, salah satunya kami ikuti invitasi sepak bola wanita. Ada banyak foto yang menceritakan  perjuangannya sejak 2003 juara di Jawa Barat.

“Saat itu kami tinggal di Area kebun teh daerah Sumedang. Pelatih dari Sumedang begitu sangat simpatik dan begitu kekeluargaan," ujar Stien Mebri.

Ditambahkannya, saat itu mereka meraih juara. "Kami kasih makan petani kebun teh di Sumedang, baju dan  semua  kami kasih," ucap Mama Stien. 

Menurut wanita berusia 73 tahun ini, majunya sepak bola wanita adalah berani diplomasi, berani bertindak. "Kalau kita ikut saja tidak bisa, karena sumber dana papua hanya APBD,” katanya.

Yustien Mebri muda dulunya mendobrak DPR dan bersuara,  dana Otsus digunakannya untuk memberdayakan perempuan Papua di lapangan hijau,“ saya berjuang demi Galanita, kalau saya salah, salah saya dimana," ucapnya. 

Di masa Ketua PSSI Pusat Nurdin Halid dan saat pemerintahan Barnabas Suebu mantan Gubernur Papua mempercayakannya mengawal Galanita. Kejayaan sepak bola wanita menembus Woman Champion di Myanmar. Tahun 2009  mewakili Indonesia di Woman Champion di Hongkong urutan kelima.

Wanita Papua kelahiran Jayapura  13  Mei 1953 , pikiran dan pengabdiannya masih terus dipertahankan. Untuk memberikan support dan perhatian bagi pesepakbolaan wanita Papua

Harapannya ada yang menggantikannya walau sulit karena perlu keberanian untuk memperjuangkan prestasi dan kesejahteraan sepak bola wanita.  Tergantung kepandaian kita karena masa depan sepak bola wanita menurutnya masih penuh tanda tanda tanya.

Rekomendasi Berita