Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Membentuk Persatuan Papua

  • 03 Sep 2025 10:39 WIB
  •  Jayapura

KBRN, Jayapura: Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan kokoh pemersatu ribuan suku, pulau, serta ratusan bahasa. Namun di Papua, bahasa daerah tetap menjadi identitas budaya yang kuat dan napas kehidupan sehari-hari.

Di sebuah kampung pedalaman Papua, seorang anak bernama Demianus, tekun mengeja buku lusuh dengan suara lantang penuh semangat. Bahasa Indonesia ia lafalkan, meski kesehariannya lebih fasih bercakap memakai bahasa daerah warisan leluhur kebanggaan.

Pemandangan sederhana itu menggambarkan pergulatan besar, yakni menjaga keseimbangan identitas melalui bahasa yang mereka gunakan. Generasi muda Papua, merajut persatuan lewat bahasa Indonesia, tanpa mengabaikan peran penting bahasa daerah.

“Kalau hanya pakai bahasa Indonesia, siapa yang menjaga bahasa ibu kami?" kata Yukius, seorang mahasiswa asal Wamena dengan penuh kesadaran.

Pertanyaan sederhana itu menyadarkan banyak pihak. Bahwa bahasa daerah, jangan sampai hilang meskipun ada bahasa nasional.

Di wilayah 3T Papua, akses pendidikan masih terbatas sehingga anak-anak lebih fasih berbahasa ibu daripada bahasa Indonesia. Ketika masuk sekolah, banyak dari mereka kesulitan belajar membaca dan menulis dengan bahasa Indonesia resmi.

Data BPS tahun 2023, menunjukkan masih banyak siswa Papua kesulitan membaca karena keterbatasan fasilitas pendidikan memadai. Sementara itu, dominasi bahasa Indonesia membuat bahasa daerah semakin terancam punah, akibat minimnya regenerasi penutur muda.

UNESCO mencatat ratusan bahasa Papua dalam kondisi kritis, karena penuturnya berkurang dan anak muda kurang mengenalinya. Fakta ini menegaskan, bahwa menjaga bahasa daerah sama pentingnya dengan memperkuat pemakaian bahasa Indonesia.

Namun anak muda Papua tak tinggal diam, mereka melahirkan kreativitas lewat media sosial dan ruang komunitas. Ada yang menulis puisi dwibahasa, menciptakan lagu rap, hingga membuat video pendek memperkenalkan kosa kata lokal.

Di Jayapura, komunitas literasi anak muda membuka taman baca multibahasa dengan buku Indonesia dan bahasa daerah. Tujuan mereka sederhana, yakni anak-anak Papua belajar bahasa Indonesia tanpa kehilangan bahasa ibu sebagai identitas.

“Bahasa Indonesia, membuat kita bisa bicara dengan banyak teman. Sedangkan bahasa daerah, menegaskan siapa kita," ujar Ellaboge, salah satu penggerak literasi.

Pernyataan itu mencerminkan semangat anak muda Papua, menjaga dua bahasa secara seimbang dan penuh kebanggaan. Bahasa Indonesia adalah sayap pertama, yang membuat orang Papua berkomunikasi secara nasional dan bahkan global.

Bahasa daerah adalah sayap kedua, menjaga identitas sejarah, kebanggaan, serta memperkuat akar budaya warisan leluhur. Generasi muda Papua sedang belajar terbang dengan dua sayap bahasa, yang saling melengkapi dan menguatkan.

Namun perjuangan mereka membutuhkan dukungan nyata berupa guru memadai, fasilitas layak, dan pemerataan sekolah berkualitas. Bahasa bukan hanya soal kata, melainkan juga soal rasa memiliki, rasa persatuan, dan kebanggaan identitas.

Anak muda Papua telah membuktikan, mampu menjadi penutur dua dunia yakni dunia nasional dan dunia lokal. Mereka hanya butuh ruang, keyakinan, dan dukungan masyarakat agar perjuangan melestarikan bahasa tak terhenti.

Menjaga bahasa berarti menjaga jati diri, dan merawat keberagaman berarti merawat persatuan bangsa. Sebab lewat bahasa, anak Papua tengah mengikat kembali benang tenun persatuan bangsa yang kokoh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....