Data Kenaikan Luasan Lahan Terbakar di Jambi Mencapai 408,58 hektare
- 30 Sep 2026 17:20 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian. Berdasarkan Laporan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per 29 September 2026 pukul 19.00 WIB, estimasi luas lahan terbakar telah mencapai 4.123,84 hektare. Angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 408,58 hektare dibandingkan laporan 27 September 2026. Perubahan paling mencolok terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam laporan 27 September, estimasi luas terbakar tercatat 271,70 hektare. Dua hari kemudian, angkanya menjadi 659,18 hektare.
Artinya, terdapat perubahan sebesar 387,48 hektare atau sekitar 142,6 persen. Kondisi tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata. Ia meminta perubahan data tersebut diverifikasi terlebih dahulu sebelum disimpulkan sebagai kebakaran baru.
“Saya meminta dilakukan verifikasi burn scar. Kita harus mengetahui apakah perubahan 387,48 hektare itu berasal dari kebakaran baru, perluasan kejadian lama, re-ignition atau pemutakhiran hasil pemetaan. Jangan membuat kesimpulan sebelum koordinat dan burn scar-nya diverifikasi,” tutur Ivan.
Menurut Ivan, perubahan luasan di Tanjung Jabung Timur perlu ditindaklanjuti dengan pemetaan yang lebih detail, termasuk membandingkan titik hotspot, fire spot dan burn scar dengan kawasan gambut, sumber air serta batas kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). “Jangan langsung mengatakan tambahan 387,48 hektare itu semuanya berada di TNBS karena laporan ini tidak menyatakan demikian. Yang harus dilakukan adalah overlay hotspot, fire spot, burn scar, batas TNBS, hutan primer, gambut dan sumber air. Setelah itu baru kita tahu posisi sebenarnya,” katanya.
Selain perkembangan luasan Karhutla, kualitas udara juga menjadi perhatian. Pada 29 September pukul 08.00 WIB, ISPU Muaro Jambi tercatat 300 dan Kota Jambi 229. Keduanya berada dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, ISPU Tebo berada di angka 153 dan Tanjung Jabung Timur 143, yang masuk kategori tidak sehat. Ivan menilai kondisi tersebut menunjukkan penanganan Karhutla harus dilakukan secara terpadu, tidak hanya dengan memadamkan titik api tetapi juga mengendalikan asap dan melindungi kesehatan masyarakat.
“Kalau api dipadamkan tetapi masyarakat tetap menghirup udara sangat tidak sehat, pekerjaan kita belum selesai. Pemadaman, pengendalian asap dan perlindungan kesehatan harus berjalan dalam satu sistem,” tuturnya.
Laporan yang sama mencatat 177 hotspot pada periode pengamatan, dengan total hotspot kumulatif sepanjang 2026 mencapai 10.742 titik. Untuk estimasi luas terbakar berdasarkan kabupaten, Batanghari masih menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 1.240,79 hektare.
Selanjutnya Tanjung Jabung Timur 659,18 hektare, Tanjung Jabung Barat 639,55 hektare, Muaro Jambi 577,71 hektare, Sarolangun 508,55 hektare dan Tebo 403,76 hektare. Ivan juga menyoroti kesiapan dukungan udara untuk operasi pemadaman. Dalam laporan 29 September, tiga helikopter water bombing yang tercantum, yakni RA-22840, N-224TH dan VN-8414, berstatus unserviceable atau maintenance.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....