Jaga Kesehatan Tulang Belakang sejak Dini

  • 26 Jul 2026 14:56 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Gaya hidup modern yang membuat masyarakat semakin banyak duduk di depan komputer dan minim bergerak menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus nyeri punggung dan nyeri pinggang di seluruh dunia. Karena itu, menjaga kesehatan tulang belakang sejak dini menjadi langkah penting agar kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut.

Hal tersebut disampaikan dr. Husnul Verdian yang merupakan dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi saat menyampaikan materi tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang Belakang di Era Modern, dalam kegiatan Health Talk atau edukasi kesehatan yang diselenggarakan Siloam Hospitals Jambi, Sabtu 25 Juli 2026.

Menurut dr. Husnul, masyarakat perlu mulai memikirkan kesehatan tulang belakang sejak sekarang, bukan ketika keluhan sudah muncul.

"Saya mengajak kita membayangkan, 20 sampai 30 tahun ke depan apakah kita masih bisa bangun dari tempat tidur, berdiri, berjalan, dan melakukan aktivitas sederhana dengan nyaman seperti hari ini. Tubuh kita suatu saat akan berkata, 'Saya tidak bisa lagi', kalau sejak sekarang kita tidak menjaganya," ujarnya.

Ia menjelaskan, tulang belakang merupakan salah satu bagian tubuh yang bekerja tanpa henti. Mulai dari menopang kepala dan tubuh saat berdiri, menjaga postur ketika duduk bekerja, hingga tetap berfungsi saat seseorang sedang tidur.

"Tulang belakang adalah struktur yang hampir tidak pernah beristirahat. Hampir setiap detik ia bekerja menopang tubuh kita. Namun, sering kali kita baru peduli ketika rasa sakit muncul," katanya.

Nyeri Pinggang Jadi Penyebab Disabilitas Nomor Satu

Dr. Husnul mengungkapkan, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini sekitar 600 juta orang di dunia hidup dengan keluhan nyeri pinggang. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 800 juta orang pada tahun 2050.

Yang lebih mengkhawatirkan, nyeri pinggang kini menjadi penyebab disabilitas nomor satu di dunia karena berdampak pada penurunan produktivitas dan kualitas hidup seseorang.

"Ketika seseorang mengalami sakit pinggang kronis, produktivitasnya menurun. Dia tidak bisa duduk lama, tidak bisa berjalan jauh, bahkan tidak mampu bekerja secara maksimal," jelasnya.

Menurutnya, perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus tersebut. Jika dahulu masyarakat lebih banyak bergerak dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, kini sebagian besar pekerjaan dilakukan di depan komputer dengan aktivitas fisik yang jauh lebih sedikit.

Tidak Ada Posisi Duduk yang Paling Benar

Salah satu pertanyaan yang paling sering diterima dr. Husnul di ruang praktik adalah mengenai posisi duduk yang benar.

Namun, menurutnya, tidak ada satu posisi duduk yang bisa disebut paling benar apabila dilakukan dalam waktu lama.

"Tubuh manusia tidak dirancang untuk diam. Meskipun posisi duduk sudah ergonomis, kalau dilakukan berjam-jam tetap akan membuat otot lelah. Ketika otot lelah, beban akan berpindah ke tulang belakang dan akhirnya menimbulkan nyeri," jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk membiasakan bergerak secara berkala ketika bekerja.

"Bangunlah setiap beberapa waktu, berjalan sebentar, lakukan peregangan agar beban tidak terus-menerus bertumpu pada tulang belakang, " ujarnya.

Sebagian Besar Nyeri Pinggang Tidak Berbahaya

Dr. Husnul menjelaskan bahwa nyeri pinggang tidak selalu berarti seseorang mengalami saraf terjepit atau harus menjalani operasi.

Menurutnya, sebagian besar keluhan nyeri pinggang merupakan mechanical pain, yaitu nyeri yang timbul akibat interaksi antara otot, tulang, bantalan tulang belakang, dan ligamen yang mengalami kelelahan atau gangguan mekanis.

"Sebagian besar sakit pinggang bukan kondisi yang berbahaya. Jangan setiap mendengar sakit pinggang langsung berpikir saraf terjepit atau harus operasi," katanya.

Ia menambahkan bahwa dokter akan mencari penyebab utama keluhan terlebih dahulu sebelum menentukan jenis terapi yang sesuai.

Obati Pasien, Bukan Hasil MRI

Dalam praktik sehari-hari, dr. Husnul juga sering menemui pasien yang datang dengan hasil MRI yang menunjukkan adanya saraf terjepit, tetapi tidak memiliki gejala yang sesuai.

Menurutnya, keputusan terapi tidak boleh hanya didasarkan pada hasil pemeriksaan penunjang.

"Kami mengobati pasien, bukan mengobati hasil MRI. Kalau hasil MRI terlihat ada kelainan tetapi pasien tidak memiliki keluhan yang sesuai, belum tentu tindakan operasi diperlukan," tegasnya.

Operasi, lanjutnya, baru dipertimbangkan apabila pasien mengalami gangguan fungsi yang jelas, keluhan menetap meski sudah menjalani pengobatan konservatif, serta hasil pemeriksaan fisik dan radiologi saling mendukung.

Luruskan Mitos Seputar Sakit Pinggang

Dalam kesempatan tersebut, dr. Husnul juga meluruskan beberapa anggapan yang masih banyak dipercaya masyarakat.

Menurutnya, anggapan bahwa sakit pinggang harus diatasi dengan istirahat total atau bed rest merupakan mitos yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.

"Kalau sakit pinggang biasa, tubuh justru harus tetap bergerak. Kalau terlalu lama berbaring, otot akan melemah sehingga beban semakin banyak ditanggung oleh tulang belakang. Akibatnya rasa sakit justru bisa bertambah," ujarnya.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa tidak semua kasus saraf terjepit membutuhkan operasi. Sebagian besar pasien dapat membaik melalui pengobatan, fisioterapi, latihan penguatan otot, serta perubahan gaya hidup.

Kenali Tanda Bahaya

Meski sebagian besar nyeri pinggang tidak berbahaya, dr. Husnul mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila nyeri disertai tanda bahaya seperti riwayat benturan berat, demam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, gangguan buang air kecil atau buang air besar, maupun kelemahan anggota gerak.

"Kalau ada tanda-tanda tersebut, jangan ditunda. Segera datang ke rumah sakit agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat."

Menjaga Tulang Belakang Dimulai dari Gaya Hidup

Dr. Husnul menekankan bahwa menjaga kesehatan tulang belakang tidak hanya dilakukan ketika sudah sakit, tetapi harus dimulai sejak masih sehat.

Ia menyarankan masyarakat rutin berolahraga, memperkuat otot-otot penyangga tulang belakang, menjaga berat badan tetap ideal, menghindari duduk terlalu lama, serta menerapkan pola hidup aktif.

"Jangan tunggu tulang belakang sakit baru kita peduli. Justru ketika masih sehat, itulah saat terbaik untuk menjaganya. Tetap bergerak, rutin berolahraga, dan pertahankan berat badan ideal agar tulang belakang tetap kuat menopang aktivitas kita hingga usia lanjut," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....