Kesehatan Mental Pilar Kesejahteraan, Potret dan Tantangan di Jambi
- 24 Apr 2026 10:56 WIB
- Jambi
RRI.co.id, Jambi - Di tengah dinamika kehidupan modern, kesehatan mental telah menjadi isu yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Perubahan sosial yang cepat, tekanan ekonomi, serta arus digitalisasi yang masif menjadikan individu semakin rentan terhadap gangguan psikologis. Fenomena ini juga terlihat di Jambi, di mana kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental mulai meningkat, meskipun tantangan yang dihadapi masih cukup kompleks.
Menurut Ary Irfan, dosen Promosi Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Jambi, kesehatan mental merupakan kondisi di mana individu mampu mengelola stres kehidupan, bekerja secara produktif, serta berkontribusi dalam lingkungannya. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan, melainkan sebuah kondisi kesejahteraan yang utuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren gangguan mental di tingkat lokal menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, khususnya pada kelompok usia produktif. Remaja dan dewasa muda menjadi kelompok yang paling rentan akibat tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, serta ekspektasi sosial yang semakin tinggi.
Di Jambi, fenomena ini diperkuat oleh beberapa kondisi khas daerah, seperti ketimpangan akses layanan kesehatan mental, stigma sosial terhadap gangguan psikologis, serta rendahnya literasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Banyak individu yang masih menganggap masalah mental sebagai kelemahan pribadi, sehingga enggan mencari bantuan.
Ary Irfan menjelaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor individu seperti kemampuan mengelola emosi dan pengalaman hidup menjadi dasar penting. Namun, faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, tekanan ekonomi, hingga pengaruh media sosial juga memainkan peran besar.
Di era digital, paparan informasi yang berlebihan sering kali menciptakan tekanan psikologis baru. Perbandingan sosial yang tidak sehat, cyberbullying, serta tuntutan untuk selalu tampil “sempurna” di media sosial menjadi pemicu meningkatnya kecemasan dan depresi, khususnya di kalangan generasi muda.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi juga menjadi faktor signifikan. Kondisi finansial yang tidak stabil dapat memicu stres berkepanjangan, yang jika tidak ditangani dengan baik, berpotensi berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
Sebagai dosen di bidang promosi kesehatan, Ary Irfan menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam menangani masalah kesehatan mental. Ia menyebutkan bahwa intervensi tidak bisa hanya berfokus pada pengobatan, tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Beberapa strategi yang dinilai efektif antara lain:
- Edukasi kesehatan mental sejak usia dini di sekolah dan perguruan tinggi
- Kampanye publik berbasis komunitas untuk mengurangi stigma
- Pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi yang positif
- Penguatan peran keluarga sebagai sistem dukungan utama
- Integrasi layanan kesehatan mental di fasilitas kesehatan primer
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih terbuka, peduli, dan responsif terhadap isu kesehatan mental.
Kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga keseimbangan emosionalnya, sekaligus mendukung orang lain di sekitarnya.
Langkah-langkah sederhana seperti menjaga pola hidup sehat, membangun komunikasi yang baik, serta berani mencari bantuan profesional merupakan bentuk upaya yang sangat penting. Dalam konteks komunitas, solidaritas sosial dan kepedulian antarindividu menjadi faktor pelindung yang kuat.
Kesehatan mental adalah fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang produktif dan sejahtera. Di tengah berbagai tantangan yang ada, diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat untuk membangun sistem yang lebih responsif terhadap isu ini.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ary Irfan, upaya menjaga kesehatan mental harus dilakukan secara berkelanjutan dan kolektif. Dengan meningkatnya kesadaran serta akses terhadap layanan kesehatan mental, diharapkan masyarakat Jambi dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik—tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis.
penulis : maimuna septriani
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....