Alasan Radio Masih Dibutuhkan saat Banjir untuk Konten Media Sosial
- 01 Sep 2026 17:07 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Setiap hari, masyarakat dibanjiri berbagai macam konten. Mulai dari video pendek di TikTok dan Instagram, berita di media online, podcast, hingga jutaan pilihan lagu di platform streaming. Hanya dengan satu ponsel, hampir semua jenis hiburan dan informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik.
Di tengah kondisi tersebut, radio sempat diprediksi akan kehilangan pendengarnya. Namun kenyataannya, radio belum benar-benar ditinggalkan. Bahkan, data yang dipaparkan Dewan Pengawas LPP RRI pada Juli 2026 menyebutkan sekitar 52 persen anak muda Indonesia masih mendengarkan radio setidaknya satu kali dalam sebulan. Lantas, apa yang membuat radio masih dibutuhkan?
Salah satu kekuatan radio adalah kedekatan. Berbeda dengan media sosial yang bekerja berdasarkan algoritma, radio menghadirkan sosok penyiar yang menemani pendengar secara langsung. Suara penyiar bisa menjadi teman saat seseorang berkendara, bekerja, belajar, berolahraga, bahkan ketika sedang sendirian.
Radio juga memiliki kekuatan dalam menghadirkan informasi lokal dan interaksi secara langsung. Pendengar bisa ikut berkomentar, mengirim pesan, request lagu, hingga berbagi cerita. Hubungan tersebut membuat radio terasa lebih personal, bukan sekadar tempat mendapatkan informasi atau hiburan.
| Baca juga: Telecaster Cocok untuk Semua Genre Musik |
Menariknya, radio juga tidak tinggal diam menghadapi perubahan zaman. Kini radio tidak hanya hadir melalui frekuensi. Siaran dapat dinikmati melalui streaming, website, podcast, YouTube, hingga media sosial. Potongan obrolan penyiar bahkan bisa berubah menjadi konten video pendek yang kembali menjangkau audiens di platform digital.
Artinya, persaingan radio dengan media sosial tidak selalu harus dilihat sebagai pertarungan. Justru, keduanya bisa saling melengkapi. Radio memiliki kekuatan berupa suara, spontanitas, kedekatan dan interaksi, sementara media sosial memberikan ruang untuk memperluas jangkauan dan membuat konten radio ditemukan oleh lebih banyak orang.
Menjelang 11 September, yang menjadi momentum Hari Radio sekaligus hari lahir RRI, pertanyaan tentang masa depan radio kembali menarik untuk dibicarakan. Setelah puluhan tahun menemani masyarakat, radio kini menghadapi tantangan baru: bukan hanya bagaimana membuat orang mau mendengarkan, tetapi bagaimana tetap relevan dengan cara generasi baru mengonsumsi media.
Pada akhirnya, radio mungkin tidak lagi hanya berarti sebuah perangkat dengan tombol frekuensi. Radio adalah suara yang menemani, informasi yang dekat, dan ruang untuk terhubung dengan orang lain. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh konten, mungkin justru suara manusia yang terasa dekat menjadi sesuatu yang semakin dibutuhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....