Hal yang Dianggap Biasa, Padahal Bisa Menyakiti Orang Lain
- 29 Mei 2026 15:18 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Di kehidupan sehari-hari, banyak perilaku yang dianggap “normal” karena sering dilakukan banyak orang. Mulai dari bercanda berlebihan, membandingkan hidup orang lain, hingga memaksa seseorang selalu terlihat kuat. Padahal, kebiasaan kecil semacam itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.
Fenomena perilaku toxic yang dinormalisasi ini kini semakin sering dibahas, terutama di media sosial. Sejumlah ahli kesehatan mental menyebut bahwa perilaku toxic bukan hanya soal kekerasan verbal atau manipulasi besar, tetapi juga tindakan kecil yang terus berulang dan membuat orang lain merasa tidak nyaman, tertekan, atau tidak dihargai.
Salah satu contoh yang paling sering terjadi adalah kebiasaan berkata, “Ah, gitu aja baper.” Kalimat ini sering dianggap candaan ringan, padahal dapat membuat seseorang merasa emosinya tidak valid. Dalam jangka panjang, orang bisa memilih memendam perasaan karena takut dianggap lemah atau berlebihan.
Selain itu, budaya membanding-bandingkan juga masih sering dianggap lumrah. Misalnya membandingkan pencapaian, fisik, gaji, hingga kehidupan pribadi seseorang. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu tekanan mental, terutama pada anak muda yang aktif di media sosial.
Perilaku lain yang sering dianggap biasa adalah memaksa orang untuk selalu berpikir positif atau dikenal dengan istilah toxic positivity. Kalimat seperti “jangan sedih terus,” atau “masih banyak yang lebih susah,” memang terdengar menenangkan. Namun, jika diucapkan tanpa empati, justru membuat seseorang merasa tidak didengar.
Di lingkungan kerja dan pertemanan, sikap sarkastik atau merendahkan dengan alasan “bercanda” juga menjadi hal yang sering dinormalisasi. Banyak orang memilih diam karena takut dianggap tidak asyik atau terlalu sensitif. Padahal, komentar yang terus-menerus menyindir bisa meninggalkan luka emosional yang nyata.
Diskusi di media sosial juga menunjukkan bahwa banyak orang baru menyadari lingkungan mereka toxic setelah mengalami kelelahan mental. Beberapa warganet mengaku terbiasa hidup dengan teriakan, sindiran, atau perilaku manipulatif sejak kecil sehingga menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal.
Psikolog menilai, langkah pertama untuk menghentikan perilaku semacam ini adalah meningkatkan kesadaran diri. Tidak semua kebiasaan yang umum dilakukan berarti sehat. Mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai batasan orang lain, dan berhenti menjadikan rasa sakit sebagai bahan candaan bisa menjadi awal terciptanya lingkungan sosial yang lebih sehat.
Pada akhirnya, hal-hal kecil yang dianggap sepele sering kali memiliki dampak besar. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membedakan mana perilaku yang benar-benar normal dan mana yang hanya dinormalisasi karena terlalu sering terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....