Ancaman kesehatan dari Partikel Debu Halus dan Polusi Lintas Batas
- 07 Sep 2026 11:10 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for Blue Skies) diperingati setiap tahun pada tanggal 7 September. Hari peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya kualitas udara bersih bagi kesehatan, produktivitas, perekonomian, dan kelestarian lingkungan.
Poin Utama Peringatan
Sejarah Singkat: Diadopsi secara resmi melalui resolusi Sidang Umum PBB ke-74 pada 26 November 2019, setelah diinisiasi oleh Korea Selatan. Peringatan pertama kali dimulai pada 7 September 2020.
Sejarah Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru berakar dari keresahan global terhadap krisis lingkungan dan polusi udara. Inisiatif ini bermula ketika Republik Korea (Korea Selatan) mengusulkan pembentukan hari peringatan global pada Sidang Puncak Aksi Iklim PBB pada September 2019. Langkah ini diambil karena meningkatnya ancaman partikel debu halus dan polusi lintas batas yang berdampak serius pada kesehatan publik.
Linimasa Pembentukan
26 November 2019: Komite Kedua Sidang Umum PBB ke-74 secara resmi mengadopsi resolusi untuk menetapkan hari peringatan ini.
19 Desember 2019: Sidang Umum PBB mengetuk palu melalui Resolusi 74/212. Resolusi ini menegaskan urgensi peningkatan kualitas udara demi tercapainya target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).
7 September 2020: Peringatan pertama kali diadakan secara global di bawah koordinasi Program Lingkungan PBB (UNEP) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
PBB merancang hari ini sebagai wadah tahunan untuk mendorong komitmen politik lintas negara, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mendorong investasi nyata dalam teknologi rendah emisi.
PBB melalui gerakan global Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru secara konsisten menyuarakan urgensi mengalihkan pendanaan dari sektor fosil menuju investasi nyata dalam teknologi rendah emisi. Langkah ini krusial karena polusi udara dan krisis iklim adalah dua sisi dari koin yang sama.
Aksi investasi nyata pada teknologi rendah emisi berfokus pada beberapa pilar utama:
Dekarbonisasi Industri Skala Besar
Peta Jalan Industri Bersih: Sektor dengan intensitas energi tinggi seperti semen, baja, tekstil, dan petrokimia kini didorong mengadopsi teknologi penangkap karbon (Carbon Capture) dan elektrifikasi fasilitas produksi.
Pendanaan Inovasi Global: Program seperti Innovation Fund di Eropa menyalurkan dana miliaran Euro untuk mendanai puluhan proyek industri bersih guna memotong miliaran ton emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Transportasi Berkelanjutan & Bahan Bakar Alternatif
Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF): Industri penerbangan global mulai mengucurkan investasi besar ke startup bahan bakar sintetis rendah emisi guna menekan jejak karbon di udara.
| Baca juga: Kencing Manis Apa Sih Penyebabnya |
Elektrifikasi Massal: Alokasi modal besar-besaran dialihkan untuk memperbanyak bus listrik, armada logistik komersial (Last Mile Freight), hingga lokomotif kereta api tanpa emisi untuk memotong polusi udara perkotaan secara drastis.
Implementasi di Indonesia (Konteks Lokal)
Kawasan Rendah Emisi (Low Emission Zone): Kota-kota besar seperti Jakarta mulai mengintegrasikan tata kota dengan zona rendah emisi, tata kelola sampah sirkular, dan transisi bangunan hijau untuk mencapai ketahanan iklim.
Dana Inovasi Karbon Rendah: Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan mitra internasional meluncurkan Low Carbon Development Initiative - Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF). Dana katalis ini ditujukan untuk membiayai mitigasi risiko iklim dan solusi teknologi bersih di daerah.
Ekosistem Pasar Karbon: Pemerintah juga merancang regulasi perdagangan karbon sektor energi untuk memberi kepastian hukum bagi investor yang mendanai proyek teknologi hijau.
Tujuan Utama: Mengajak individu, komunitas, korporasi, dan pemerintah di seluruh dunia untuk berkolaborasi mengurangi polusi udara, mengubah gaya hidup demi lingkungan yang lebih sehat, serta menjaga kelestarian atmosfer bumi.
Dampak Polusi: PBB menekankan bahwa polusi udara adalah salah satu risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia, yang berkontribusi terhadap jutaan kematian dini setiap tahunnya akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....