Strategi Hidup Sukses Dunia Akhirat dalam Pandangan Islam

  • 06 Agt 2026 12:46 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Bahwasanya kehidupan kita ini tidak hanya terbatas di dunia saja. Ada kehidupan setelah kita berada di dunia ini, itulah yang dinamakan dengan kehidupan di akhirat. Kita hidup dua kali dan kita akan dimatikan dua kali dalam Al-Qur'an dikatakan seperti itu, dulu kita tidak ada, kemudian nanti kita tidak ada lagi dan kemudian kita akan dibangkitkan artinya kita diadakan kembali. Dunia ini adalah alam fanah hanya sementara yang kekal adalah akhirat. Oleh karena itu, hidup di dunia tentu kita memerlukan amunisi ataupun persiapan dan seperti itupun di akhirat. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz H. Adi Sumarno, S. Ag pada Mutiara Pagi RRI Jambi, kamis 08 Agustus 2026.

Kehidupan dunia harus kita pergunakan dengan sebaik baiknya dan dunia ini merupakan sawah ladang kita nanti hasilnya akan kita nikmati di akhirat kelak. Setiap kita tentu ingin hidup bahagia, dan setiap kita muslim kebahagiaan itu haruslah dinikmati tidak hanya di dunia saja, tapi juga harus bahagia di akhirat. Sesungguhnya Al Quran memerintahkan kita untuk memperoleh kebahagiaan diantara keduanya, akan tetapi yang paling baik kata Al-Qur'an adalah kebahagiaan di akhirat itu lebih utama.

Beliau memaparkan "Pertama bahwasanya tujuan kita hidup hanya di dunia saja tetapi harus kita ingat tujuan kita hidup ini yang panjang adalah di akhirat dan sesungguhnya kehidupan di akhirat itu sangat panjang sekali bahkan kalau kita lihat Nabi Allah Adam alaihissalam itu sudah wafat berapa ribu tahun tapi sekarang beliau masih berada di alam kubur itu merupakan masih bagian dalam menuju alam akhirat dan belum dibangkitkan sampai dengan hari ini.

Oleh karena itu harus kita sadari sesungguhnya di akhirat itu jualannya sangat panjang sehingga kita bisa mempersiapkan diri untuk bekal kita di akhirat".

Selanjutnya kata beliau yang kedua harus ikhtiar, kalau kita ingin hidup di dunia, harus ikhtiar. Kalau kita pun pengin hidup bahagia di akhirat juga harus ikhtiar, harus ada usaha. Kebahagiaan itu harus dicari tidak akan datang sendiri. Makanya kalau orang yang berpegang pada mazhab materialis, maka untuk menggapai kebahagiaan di dunia, seluruh kebutuhan di dunia dia penuhi, baik itu sandang, pangan, ataupun papan, ataupun juga tersier. Ketika itu sudah terpenuhi, maka kebahagiaan dunia akan mereka dapatkan. Tapi kita di dalam Islam tidak hanya itu, tidak hanya kebahagiaan akan materialis, material yang kita kejar.

Tapi juga harus kebahagiaan, ketenangan jiwa, spiritual juga harus kita dapatkan.

Jadi dunia harus kita dapatkan, akhirat kita harus dapatkan.

Beliau menambahkan, "Bagaimanakah caranya supaya mereka dapat kedua-duanya,

Maka ketika kita berusaha, haruslah sesuai dengan tuntunan-tuntunan yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Silakan jadi orang yang kaya, silakan anda memperoleh harta yang banyak, tetapi jalan memperolehnya harus sesuai dengan yang disyariatkan oleh agama. Jadi sehingga yang kita dapatkan itu adalah keberkahan, harta yang kita cari dan itu sesuai dengan ketatuhan agama dan kita pun akan menjadi orang yang ketika harta harta kita berkah, kita pun akan menjadi orang yang dermawan, bisa bermanfaat tidak hanya bagi diri kita sendiri, tapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain".

Terakhir kata beliau supaya kita bisa bahagia dunia dan akhirat, kita harus tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bahwasanya hidup kita ini diatur, mati kita, kaya kita, miskin kita itu sudah ada ketentuannya di lauhil makhfus. Akan tetapi kita kan tidak tahu apakah kita hari ini bisa menjadi takdir kita menjadi orang yang kaya, takdir kita menjadi orang yang sukses atau tidak harus kita usahakan dan pada akhirnya harus kita tawakal di doa kemudian kita tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....