Literasi Sebagai Hak Asasi Manusia Menjaga Masa Depan Bumi Berkelanjutan

  • 08 Sep 2026 09:53 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Hari Literasi Internasional (atau Hari Aksara Sedunia) diperingati setiap tanggal 8 September untuk mengingatkan masyarakat dunia akan pentingnya literasi sebagai hak asasi manusia dan fondasi bagi masyarakat yang berkelanjutan.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai peringatan Hari Literasi Internasional 2026:

Tema Tahun 2026

Pada tahun 2026, UNESCO mengusung tema "Literacy for People, the Planet and Prosperity" (Literasi untuk Manusia, Planet, dan Kemakmuran). Tema ini menekankan peran krusial literasi dalam mendorong inklusi sosial, menjaga masa depan bumi yang berkelanjutan, serta memperluas kesempatan ekonomi bagi semua orang.

Perayaan Global ke-60Tahun 2026 menandai peringatan ke-60 sejak pertama kali diinisiasi oleh UNESCO. Acara puncak global tahun ini diselenggarakan pada 8–9 September 2026 di Chiapas, Meksiko, yang mencakup upacara penghargaan bergengsi UNESCO International Literacy Prizes.

Tantangan Literasi Global saat Ini

Meskipun banyak kemajuan telah dicapai, data global menunjukkan tantangan yang masih nyata:Sekitar 739 juta remaja dan dewasa di seluruh dunia masih kekurangan keterampilan literasi dasar.

Sebanyak 4 dari 10 anak belum mencapai kemampuan membaca minimum.Lebih dari 272 juta anak dan remaja putus sekolah.

Di era modern ini, fokus literasi tidak lagi sekadar bebas buta aksara, melainkan juga penguatan budaya membaca kritis serta peningkatan kemampuan literasi digital agar masyarakat bisa menyaring informasi dengan benar di dunia maya.

Penguatan budaya membaca kritis dan peningkatan kemampuan literasi digital adalah dua pilar utama untuk mencetak generasi yang cerdas di era informasi. Membaca kritis membantu kita menyaring apa yang kita baca, sementara literasi digital membantu kita memahami bagaimana berinteraksi dengan aman di dunia maya.

Berikut adalah panduan praktis dan langkah nyata untuk mengembangkan kedua kemampuan tersebut:

Strategi Penguatan Budaya Membaca KritisMembaca kritis bukan sekadar memahami teks, melainkan mengevaluasi kebenaran dan maksud di balik teks tersebut.

Terapkan Metode 5W+1H: Biasakan diri untuk mempertanyakan siapa penulisnya, apa tujuannya, kapan ditulis, dan mengapa informasi ini disebarkan.

Cek Fakta dan Konfirmasi Silang: Jangan mengandalkan satu sumber. Bandingkan satu berita dengan media kredibel lainnya untuk melihat sudut pandang yang objektif.

Kenali Bias Informasi: Pahami apakah tulisan tersebut bersifat objektif (berdasarkan data) atau subjektif (opini pribadi yang emosional).

Bedakan Fakta vs. Opini: Latih kemampuan untuk memisahkan antara pernyataan yang bisa dibuktikan secara ilmiah/data (fakta) dengan asumsi seseorang (opini).

Strategi Peningkatan Literasi Digital

Literasi digital melatih kecakapan teknis sekaligus etika dalam menggunakan teknologi internet.

Keamanan Data Pribadi: Lindungi privasi dengan menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan verifikasi dua langkah (2FA), dan tidak sembarangan mengklik tautan asing.

Saring Sebelum Sharing: Pikirkan dampak dari informasi yang akan dibagikan. Pastikan informasi tersebut bermanfaat dan bukan hoaks atau ujaran kebencian.Etika Komunikasi (Netiket): Terapkan sopan santun saat berkomentar di media sosial. Ingat bahwa ada jejak digital yang sulit dihapus.

Pemanfaatan AI secara Bijak: Gunakan kecerdasan buatan (seperti chatbot atau alat bantu kerja) sebagai mitra belajar, bukan peniru mentah-mentah yang mematikan kreativitas.

Hubungan Keduanya di Era Modern

Tanpa membaca kritis, pengguna internet akan mudah terjebak hoaks, penipuan online, dan manipulasi opini. Sebaliknya, tanpa literasi digital, seseorang akan kesulitan mengakses informasi berkualitas yang tersebar di internet. Kombinasi keduanya membentuk benteng pertahanan terbaik melawan misinformasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....