Tradisi Topeng Labu Berakar pada Nilai Kemanusiaan & Kesetaraan

  • 02 Apr 2026 08:02 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Tradisi Topeng Labu adalah kesenian khas dari kawasan Percandian Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, yang rutin digelar setiap hari raya Idulfitri.

Tradisi ini berupa arak-arakan atau pawai di mana para pemuda desa mengenakan topeng yang terbuat dari buah labu tua yang telah dikeringkan dan dihias.

Setiap tahunnya pada momen lebaran Idul Fitri, ada tradisi unik di Desa Muarojambi, Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Jambi. Ratusan warga dengan sukacita merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan tradisi pawai topeng labu.

Dengan mengenakan aneka topeng labu, para warga baik orang tua, pemuda, remaja hingga anak-anak berkeliling kampung memeriahkan lebaran. Mereka pawai diiringi irama lagu dan musik tradisional Muarojambi sambil menari dan bernyanyi menghampiri setiap rumah warga.Warga yang rumahnya disinggahi kemudian memberikan sejumlah uang yang disiapkan dalam amplop kepada peserta pawai. Ekspresi riang gembira tersirat di wajah warga dalam merayakan Hari Kemenangan.

Pegiat Seni Budaya Muarojambi Borju mengatakan, pawai topeng labu merupakan tradisi turun temurun dari masyarakat Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Jambi. Menurutnya, tradisi ini berawal pada saat zaman dahulu terdapat warga yang menderita penyakit. Karena penyakit tersebut dapat menular dan membahayakan warga, penderitanya diasingkan ke tengah hutan dan jauh dari masyarakat.

Karena rindu dengan orang tuanya, setelah diasingkan puluhan tahun, penderita penyakit kusta tersebut ingin pulang kampung. Agar tidak dikenali warga, mereka menemui orang tuanya dengan cara memakai topeng labu. Hal inilah yang masih tetap dijaga tradisinya hingga hari ini, meskipun tidak ada lagi yang menderita kusta di daerah tersebut.

Berikut adalah poin-poin utama mengenai tradisi ini :

Asal-Usul & Legenda: Tradisi ini dipercaya berawal dari legenda seorang pemuda desa yang menderita penyakit kusta. Karena malu dengan kondisinya namun ingin tetap bersilaturahmi saat Lebaran, ia menutupi wajahnya dengan topeng dari kulit labu agar tidak dikucilkan oleh warga.

Waktu Pelaksanaan: Digelar setahun sekali, tepatnya pada hari raya Idulfitri sebagai bentuk hiburan rakyat dan sarana silaturahmi antarwarga desa.

Perkembangan:

Dahulu hanya berupa arak-arakan keliling kampung yang disebut "main topeng".

Kini, Topeng Labu telah dikemas menjadi pertunjukan tari dengan pola lantai dan gerak tradisi Jambi (seperti gerak melangkah dan tunduk) yang sering dipentaskan dalam berbagai acara budaya.

Jumlah penari yang dulunya terbatas (sekitar 5 orang laki-laki) sekarang tidak lagi dibatasi jumlahnya.

Nilai Budaya : Selain sebagai hiburan, tradisi ini merupakan simbol kepedulian generasi muda dalam merawat warisan turun-temurun di sekitar kawasan Candi Muaro Jambi. Saat ini, kerajinan topeng labu juga mulai dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif unggulan desa.

Filosofi tradisi Topeng Labu di Desa Muaro Jambi berakar pada nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kegembiraan hari kemenangan.

Berikut adalah beberapa makna filosofis di baliknya :

Kesetaraan & Inklusivitas: Berangkat dari legenda pemuda penderita kusta, topeng ini melambangkan bahwa setiap orang—terlepas dari kekurangan fisik atau status sosialnya—berhak merayakan kebahagiaan dan bersilaturahmi tanpa rasa malu atau diskriminasi.

Keikhlasan dalam Keterbatasan: Penggunaan buah labu (bahan alam yang sederhana dan mudah didapat) menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menciptakan kegembiraan dari apa yang disediakan alam, tanpa perlu kemewahan.

Kemenangan Melawan Ego : Topeng yang menutupi wajah asli disimbolkan sebagai upaya menanggalkan identitas diri atau keangkuhan saat merayakan Idulfitri, sehingga semua orang melebur dalam sukacita yang sama.

Harmoni dengan Alam: Penggunaan bahan organik (labu tua) mencerminkan hubungan erat masyarakat Jambi dengan lingkungan sekitarnya, di mana alam tidak hanya memberi makan tetapi juga memberi inspirasi seni.

Solidaritas Sosial : Arak-arakan keliling kampung memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah) antarwarga, memastikan tidak ada rumah yang terlewatkan dari suasana Lebaran. ()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....