Presiden Prabowo Arahkan Masyarakat Indonesia Gunakan Atap Genteng Tanah Liat

  • 05 Okt 2026 08:16 WIB
  •  Jambi
Poin Utama
  • Presiden RI, Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan genteng pada rumah masyarakat Indonesia.
  • Genteng tanah liat membuat rumah lebih sejuk dan tidak menimbulkan suara bising ketika hujan seperti atap seng.
  • Tito mengakui tidak semua wilayah cocok menggunakan genteng tanah liat, terutama daerah yang rawan gempa.

RRI.CO.ID, Jambi - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan program Gentengisasi merupakan arahan Presiden RI, Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan genteng pada rumah masyarakat Indonesia. Program tersebut sekaligus diharapkan dapat menghidupkan sentra produksi genteng dan memberdayakan UMKM lokal.

Menurut Tito, program Gentengisasi berawal dari keprihatinan Presiden Prabowo karena masih banyaknya rumah warga yang menggunakan atap seng atau asbes.

"Jadi program gentengisasi ini ialah perintah Bapak Prabowo memang. Saya mendampingi beliau waktu itu. Karena prihatin melihat rumah-rumah yang banyak menggunakan atap seng, yang dari sisi keindahan kurang begitu indah kalau seng, dan panas," ujar Tito.

Tito menjelaskan, genteng tanah liat dipilih karena dinilai lebih sesuai untuk hunian. Menurutnya, material tersebut membuat rumah lebih sejuk dan tidak menimbulkan suara bising ketika hujan seperti atap seng.

"Dia (genteng tanah liat) lebih dingin, karena di tengah-tengahnya itu ada aliran air, aliran udara. Jadi kalau seng, dia enggak ada aliran udara, panas. Yang kedua, kalau seng itu kalau hujan, dia bising suaranya, kalau genteng tanah lihat enggak, dia krik-krik-krik-krik-krik gemericik air," papar Tito.

Selain faktor kenyamanan, Tito menyebut genteng memiliki nilai estetika dan menjadi bagian dari karakter bangunan di Indonesia.

“Di negara-negara lain tuh pakai beton, macam-macam. Nah, di kita ini, genteng ini memang asli dari zaman dulu. Khasnya Indonesia itu adalah genteng tanah liat, betul enggak?" kata Mendagri.

Tito menyebut berdasarkan data yang dimilikinya, sekitar 57 persen rumah di Indonesia menggunakan genteng. Sementara hampir 37 persen menggunakan seng dan sebagian lainnya menggunakan asbes.

"Nah, asbes itu kurang bagus buat kesehatan, mohon maaf kalau untuk produsen asbes, ya, faktanya begitu datanya. Yang berikutnya lagi kurang dari 1 persen yang gunakan bahan alami seperti papan, atap sirap dari bambu. Kurang dari 1 persennya lagi menggunakan atap yang lain dari daun-daunan, dari ijuk, dari pelepah misalnya, dari jerami," ucapnya.

Menurut Tito, genteng yang digunakan masyarakat memiliki beragam material, mulai dari tanah liat, baja, hingga beton. Namun, ia menilai genteng tanah liat memiliki sejumlah keunggulan karena relatif sejuk dan murah.

"Nah, tapi yang bagus adalah memang genteng dari tanah lihat. Dingin, kemudian relatif murah, ya, dan asli Indonesia," ucapnya.

Meski demikian, Tito mengakui tidak semua wilayah cocok menggunakan genteng tanah liat, terutama daerah yang rawan gempa. Karena itu, pemerintah tengah mencari alternatif material genteng yang lebih ringan.

“Saya muter daerah-daerah rawan gempa mereka pilihnya yang ringan. Makanya mereka pilih seng. Tapi sebetulnya enggak indah. Bapak Presiden sedang mengupayakan untuk mencari bahan genteng tapi dari bahan yang ringan, ya, misalnya dari serabut kelapa yang dijadikan genteng. Itu salah satu solusi, sedang dikerjakan," tutur Mendagri Tito.

Tito mendorong daerah yang relatif aman dari gempa untuk menggunakan genteng tanah liat. Menurutnya, peningkatan penggunaan genteng juga dapat menggerakkan sentra produksi dan UMKM lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....