Aquaponik, Tren Pertanian Modern untuk Rumah Tangga yang Hemat dan Sehat
- 18 Mei 2026 10:58 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi – Budidaya aquaponik kini menjadi solusi cerdas bagi masyarakat perkotaan yang ingin bercocok tanam namun terkendala keterbatasan lahan. Sistem yang menggabungkan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah) ini terbukti efektif sebagai sumber pangan mandiri di pekarangan rumah.
Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BBRMP Jambi, Fairuz Ananta Putra, SP., menjelaskan bahwa aquaponik memberikan keuntungan ganda.
"Sistem ini membuat kita bisa panen sayuran sekaligus ikan secara bersamaan. Air dari kolam ikan yang mengandung kotoran justru menjadi nutrisi bagi tanaman, sehingga air kembali jernih setelah melewati akar tanaman," ujar Fairuz.
Menurut Fairuz, masyarakat seringkali terjebak dalam pemikiran bahwa bertani harus memiliki lahan luas. Padahal, sistem aquaponik skala rumah tangga dapat dimulai dengan peralatan sederhana seperti ember besar atau kolam terpal berukuran minimal 2x1 meter.
"Estimasi biaya untuk memulai skala rumahan berkisar antara Rp400.000 hingga Rp500.000, sudah termasuk terpal, paralon, pompa air, hingga bibit ikan dan tanaman," jelasnya.
Bagi pemula, Fairuz menyarankan pemilihan jenis ikan dan tanaman yang memiliki daya tahan kuat. Untuk ikan, jenis yang paling direkomendasikan adalah lele, nila, gurame, atau gabus. Sementara untuk sayuran, kangkung, sawi, dan pakcoy menjadi pilihan yang paling mudah dirawat.
Beberapa tips yang dibagikan untuk menjaga keberhasilan budidaya aquaponik:
- Pemberian Pakan: Cukup 2-3 kali sehari (pagi dan malam hari). Hindari memberi makan saat cuaca sangat panas.
- Perawatan Air: Lakukan pembersihan atau penggantian air secara rutin, terutama setelah ikan berumur lebih dari 1-2 bulan.
- Perawatan Pompa: Pastikan pompa air tetap bersih dari sumbatan kotoran ikan agar sirkulasi tetap berjalan lancar.
Selain sebagai sarana hiburan dan penyedia pangan segar bagi keluarga, aquaponik juga memiliki nilai ekonomi jika ditekuni dengan serius. Fairuz menekankan bahwa kunci keberhasilan sistem ini adalah niat dan konsistensi.
"Jangan menunggu punya lahan luas untuk mulai bertani. Mulailah dari pekarangan sendiri. Rumah jadi lebih hijau, sehat, dan produktif," tutupnya.
Inovasi ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah dan komunitas, sebagai langkah nyata mendukung ketahanan pangan keluarga di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....