Jejak Boedi Oetomo di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta
- 13 Sep 2024 16:33 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta menyimpan sejarah penting tentang berdirinya organisasi Boedi Oetomo, yang didirikan oleh para pelajar STOVIA pada 20 Mei 1908. Organisasi ini muncul sebagai respons terhadap kondisi masyarakat yang menderita akibat penjajahan, yang disaksikan langsung oleh para pelajar saat melakukan kegiatan pengobatan di sekitar lingkungan mereka.
Nur Khozin, Pamong Budaya di Museum Kebangkitan Nasional, menjelaskan bahwa para pelajar STOVIA telah terbiasa terjun langsung ke masyarakat, sehingga kemanusiaan mereka terasah sejak dini. "Mereka melihat penderitaan rakyat akibat penjajahan, dan hal ini yang mendorong mereka mendirikan Boedi Oetomo," ujarnya saat ditemui di museum, Jumat (13/9/2024).
Menurut Nur Khozin, pendirian Boedi Oetomo tidak hanya diprakarsai oleh Dr. Soetomo yang saat itu masih berusia belasan tahun. "Selain Soetomo, ada juga nama-nama lain seperti Soeraji, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Saleh yang terlibat dalam pembentukan organisasi ini," ucapnya.

Boedi Oetomo dianggap sebagai gerakan awal yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat, terutama melalui pendidikan dan kesehatan. Dalam kongres pertama Boedi Oetomo, tokoh-tokoh seperti Dr. Wahidin Soedirohoesodo turut berperan dalam memperkenalkan gagasan pentingnya beasiswa bagi kaum muda.
Peran Boedi Oetomo dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia begitu besar, terutama dalam menginspirasi gerakan sosial dan politik di masa berikutnya. "Boedi Oetomo menjadi contoh bagi organisasi-organisasi selanjutnya, termasuk Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan yang juga anggota Boedi Oetomo," kata Nur Khozin.
Namun, tantangan bagi Boedi Oetomo tidak sedikit, setelah kongres di Yogyakarta pada Oktober 1908, kepemimpinan organisasi berpindah ke para pejabat pemerintah yang dianggap kurang radikal. "Akibatnya, Boedi Oetomo berjalan lambat dan dianggap terlalu mendukung pemerintah kolonial," ujarnya.
Walaupun mengalami tantangan tersebut, Boedi Oetomo tetap menggelar kongres tahunan dan terus memperjuangkan pendidikan serta kesejahteraan rakyat. "Gerakan mereka lebih terfokus pada kebudayaan, pendidikan, dan ekonomi, meskipun ada tekanan untuk terlibat dalam politik," ucapnya Nur Khozin.
(Wafa Abidzar/Mahasiswa Magang).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....