Plesiran Tempo Doeloe Telusuri Passer Snees hingga Kampongnja Kwik Tang Kiam
- 01 Okt 2026 20:47 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kawasan Senen hingga Kwitang di Jakarta Pusat menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Melalui kegiatan Plesiran Tempo Doeloe: Passer Snees – Gang Kenanga – Kampongnja Kwik Tang Kiam, peserta diajak berjalan kaki sembari mengenal kembali berbagai kisah dan bangunan bersejarah yang pernah menjadi bagian penting dari kawasan tersebut. Kegiatan yang digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 15.00 hingga 18.00 WIB, akan dimulai dari titik kumpul di pintu masuk Terminal Bus Senen, sebelah barat, Jakarta Pusat.
Passer Snees merupakan sebutan lain untuk Pasar Senen. Nama tersebut tercatat dalam lukisan karya Johannes Rach dan asistennya pada 1770. Istilah “Snees” merupakan ungkapan dalam bahasa Belanda untuk “Chinese”, merujuk pada banyaknya orang Tionghoa yang berdagang di pasar tersebut.
Perjalanan akan dimulai dari pengkolan Jalan Pasar Senen menuju Jalan Senen Raya III, yang menjadi titik tempat Johannes Rach melukis panorama Passer Snees ke arah selatan. Dari lokasi tersebut, peserta akan diajak menyusuri sejumlah titik yang menyimpan cerita sejarah kawasan Senen hingga Kwitang.
Sejumlah lokasi bersejarah yang akan dibahas antara lain bekas Kapel Weltevreden, tempat umat Katolik beribadat sebelum berpindah ke Gereja Katedral di sebelah utara Lapangan Banteng. Peserta juga akan mengenal kembali kisah rumah mewah Gubernur Jenderal van der Parra yang bernama “Weltevreden”, yang kemudian menjadi nama sebuah kawasan di Jakarta Pusat pada masa sebelum kemerdekaan.
Perjalanan juga akan menyinggahi rumah Kapitan Tionghoa Tan Wang Seng. Bangunan tersebut disebut sebagai salah satu bangunan lawas yang masih bertahan setelah penghancuran berbagai bangunan heritage di kawasan Segitiga Senen pada akhir dekade 1980-an.
Tidak ketinggalan, peserta akan diajak mengenal sejarah Bioscoop Grand Cinema atau Grand Theater Senen. Bioskop yang dibangun pada 1930 itu pada awalnya bernama Kramat Theater, kemudian berganti menjadi Rex Theater pada 1935. Pada 1946, namanya berubah menjadi Grand Theater hingga sekarang.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kwitang, dengan tujuan akhir Gereja Kwitang. Gereja tersebut berawal dari sebuah bangunan sederhana pada 1876 dan kemudian berkembang menjadi bangunan yang lebih indah serta menjadi salah satu bagian dari sejarah kawasan Kwitang.
Nama Kwitang sendiri tidak terlepas dari sosok Kwik Tang Kiam, seorang tuan tanah kaya raya yang dahulu memiliki lahan luas di kawasan tersebut. Setelah Kwik Tang Kiam meninggal dunia, tanah peninggalannya kemudian dijual oleh anaknya hingga akhirnya sebagian besar harta warisan keluarga tersebut habis. Sejumlah lahan kemudian dibeli oleh saudagar keturunan Arab dan turut membentuk perkembangan kawasan Kwitang seperti yang dikenal hingga sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....