Pramono: Desalinasi Air Laut Dapat Dijalankan setelah Proyek Giant Sea Wall Mulai
- 20 Sep 2026 18:28 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Gubernur Pramono Anung menyatakan proyek desalinasi air laut menjadi air tawar dapat terealisasi apabila Giant Sea Wall segera dibangun di Jakarta.
- Giant Sea Wall dirancang untuk mendukung ketersediaan pasokan air yang diperlukan dalam proses pengolahan air laut menjadi air bersih.
- Pernyataan ini disampaikan Pramono di Jakarta pada hari Minggu, 20 September 2026, menunjukkan komitmen pemerintah DKI dalam mengatasi krisis ketersediaan air bersih.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan rencana mengolah air laut menjadi air tawar melalui teknologi desalinasi dapat direalisasikan apabila proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall mulai dibangun. Menurutnya, proyek tersebut akan mendukung ketersediaan pasokan air yang dibutuhkan untuk proses pengolahan menjadi air bersih.
“Untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan bisa digunakan, maka salah satu hal adalah Giant Sea Wall-nya segera dimulai,” kata Pramono, di Jakarta, Minggu, 20 September 2026.
Pramono menjelaskan, pembangunan Giant Sea Wall akan membuat suplai air payau mencukupi untuk diproses menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PAM Jaya siap menjalankan pengolahan tersebut apabila pasokan air sudah tersedia.
“Kalau itu bisa dilakukan, maka suplai untuk air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang Pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, kami siap untuk melakukan itu,” ujarnya.
Seperti diketahui, pernyataan Pramono merespons usulan Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin yang meminta pemerintah daerah mulai mengantisipasi potensi kekurangan air bersih akibat kekeringan dengan memanfaatkan teknologi desalinasi.
Suhud mencontohkan penerapan teknologi tersebut di Kepulauan Seribu yang telah mengolah air laut menjadi air bersih. Menurutnya, langkah serupa perlu mulai dicoba di Jakarta sebagai upaya menghadapi kemungkinan kekurangan air bersih.
“Di Kepulauan Seribu sudah ada desalinasi ya, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar. Saya kira itu juga harus sudah mulai dicoba dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan Jakarta ini kekurangan air bersih,” kata Suhud.
Ia menilai ancaman kekeringan perlu disikapi secara serius karena dapat berlangsung cukup lama dan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat. Karena itu, ia meminta Pemprov DKI menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, termasuk memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar Jakarta.
Urgensi pembahasan tersebut mengemuka setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah ibu kota.
Berdasarkan analisis BMKG pada Dasarian II atau periode 11–20 September 2026, lima wilayah masuk kategori “Awas” kekeringan, yakni Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....