Menpar Ajak Wisatawan Jaga Kelestarian Bromo Pascakebakaran

  • 25 Agt 2026 20:18 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kawasan Gunung Bromo kembali dibuka untuk wisatawan, setelah sebelumnya terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pembukaan kembali kawasan tersebut diharapkan dapat menggerakkan aktivitas pariwisata sekaligus perekonomian masyarakat sekitar, dengan tetap mengutamakan kelestarian lingkungan.

Dilansir dari Antara, Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Widiyanti Putri Wardhana, mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian dan keberlanjutan kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

“Bromo sudah kembali menerima wisatawan, tetapi kita semua mempunyai tanggung jawab untuk menjaganya. Menikmati Bromo berarti ikut menjaga Bromo,” kata Widiyanti, Minggu 23 Agustus 2026.

Ia menekankan bahwa dibukanya kembali kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bukan berarti kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dapat dikurangi. Terlebih, Indonesia masih menghadapi musim kemarau sehingga wisatawan diminta mematuhi ketentuan dan arahan petugas di lapangan.

Wisatawan juga diimbau menjaga kebersihan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran, seperti membuat perapian maupun membuang puntung rokok dan benda lain yang dapat menjadi sumber api.

Menurut Widiyanti, Gunung Bromo tidak hanya menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia, tetapi juga merupakan bentang alam penting sekaligus ruang hidup masyarakat Tengger yang memiliki nilai budaya dan lingkungan.

“Pemulihan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan. Kita ingin aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat kembali bergerak, namun alamnya juga harus tetap terlindungi,” ujarnya.

Kawasan wisata Gunung Bromo kembali dibuka untuk kunjungan sejak Kamis 20 Agustus 2026, pukul 00.01 WIB, setelah Balai Besar TNBTS melakukan pemantauan dan evaluasi kondisi kawasan pascakebakaran. Kuota kunjungan ditetapkan sebanyak 2.752 wisatawan per hari.

Pembukaan kembali kawasan Bromo turut memberikan dampak terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata, mulai dari pengemudi jip, pemandu wisata hingga pelaku UMKM di sekitar kawasan.

Kementerian Pariwisata pun terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata untuk mendukung pemulihan aktivitas wisata sekaligus memastikan kelestarian kawasan tetap terjaga.

(Siti Safitri - Mahasiswa UHAMKA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....