Gunung Bromo ternyata Sisa Gunung Raksasa Purba, Begini Sejarahnya

  • 30 Mei 2026 18:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik panorama matahari terbit yang memikat jutaan wisatawan setiap tahun, Gunung Bromo menyimpan sejarah geologi yang penuh ledakan dahsyat. Kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling indah di dunia ternyata merupakan sisa dari gunung purba raksasa yang runtuh akibat serangkaian erupsi besar selama ratusan ribu tahun.

Bromo selama ini dikenal sebagai ikon wisata Jawa Timur dengan pemandangan matahari terbit yang memukau. Namun di balik lanskap yang indah itu tersimpan kisah tentang kehancuran gunung purba raksasa yang membentuk wajah kawasan tersebut hingga sekarang.

Bromo yang Kita Lihat Hari Ini Lahir dari Kehancuran Gunung Purba. (Foto: Unsplash)

Kawasan wisata Bromo kembali menjadi perhatian publik setelah kecelakaan tunggal kendaraan jip di jalur wisata Penanjakan-Lautan Pasir, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Jumat, 29 Mei 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia, yakni sopir kendaraan berinisial MS dan seorang wisatawan berinisial YWA.

Mengutip keterangan Polres Pasuruan, Kantor berita Antara menulis, kecelakaan itu diduga terjadi akibat rem kendaraan yang kurang berfungsi saat melintasi jalan menurun dan tikungan tajam di kawasan wisata Bromo. Kendaraan kehilangan kendali, menabrak tebing, lalu terguling.

Berikut selengkapnya kisah Gunung Bromo yang merupakan bagian dari sisa Gunung Tengger Purba yang runtuh akibat serangkaian erupsi besar sejak ratusan ribu tahun lalu:

Kanal YouTube BRIN Indonesia yang kami akses Sabtu, 30 Mei 2026, menjelaskan bahwa Gunung Bromo merupakan bagian dari Gunung Tengger Purba. Gunung ini diperkirakan menjulang hingga sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut dan menjadi salah satu gunung terbesar di Pulau Jawa pada masa lampau.

Peneliti menjelaskan bahwa Gunung Tengger tidak hancur dalam satu kali letusan. Aktivitas vulkanik berlangsung berkali-kali dalam rentang waktu yang sangat panjang sehingga menghasilkan sejumlah kaldera besar yang jejaknya masih terlihat hingga kini.

"Gunung Tengger kemudian berkali-kali mengalami keruntuhan akibat letusannya sendiri hingga membentuk Kompleks Gunung Bromo seperti sekarang," ujar pemaparan BRIN dalam tayangan edukasi sejarah Gunung Bromo.

Jejak kehancuran tersebut dapat dilihat dari keberadaan sejumlah kaldera yang tersebar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setidaknya terdapat enam kaldera yang berhasil diidentifikasi, di antaranya Kaldera Ngadisari, Kaldera Gunung Ijo, Kaldera Lautan Pasir, dan Kaldera Argo Wulan.

Para ahli geologi menilai keberadaan banyak kaldera itu menunjukkan bahwa sejarah letusan Gunung Tengger termasuk yang paling kompleks di Indonesia. Tidak seperti gunung api biasa yang memiliki satu pusat erupsi utama, aktivitas vulkanik di kawasan Tengger berpindah-pindah dan berlangsung dalam beberapa periode berbeda.

Menurut kajian yang dirangkum dalam buku Magma Gamma Expedition: The Secret of Bromo, pembentukan kawasan Bromo berlangsung setidaknya dalam lima periode besar. Pada fase awal sekitar 300 ribu hingga 50 ribu tahun lalu, pusat aktivitas vulkanik berada di kawasan yang kini menjadi Kaldera Ngadisari.

Sekitar 150 ribu tahun lalu terjadi letusan besar yang menyebabkan bagian timur tubuh Gunung Tengger runtuh. Peristiwa tersebut membentuk Kaldera Ngadisari sekaligus menciptakan bentang alam baru di wilayah Sukapura dan sekitarnya.

Aktivitas vulkanik kemudian bergeser ke kawasan Argo Wulan dan Penanjakan. Setelah berlangsung lama, kembali terjadi erupsi besar sekitar 100 ribu tahun lalu yang memicu keruntuhan baru di wilayah tersebut.

Periode paling menentukan terjadi sekitar 40 ribu tahun lalu ketika letusan eksplosif membentuk Kaldera Lautan Pasir. Kaldera ini memiliki diameter sekitar 10 kilometer dan menjadi salah satu struktur geologi paling mencolok di kawasan Bromo saat ini.

"Dari ukuran kalderanya yang sangat luas, kemungkinan kekuatan erupsi pada periode ini juga sangat dahsyat," ujar penjelasan BRIN dalam tayangan tersebut.

Setelah Kaldera Lautan Pasir terbentuk, aktivitas vulkanik tidak berhenti. Gunung-gunung baru mulai muncul di atas lantai kaldera, seperti Gunung Widodaren, Gunung Kursi, Gunung Watangan, hingga Gunung Batok.

Tahap terakhir dari proses panjang tersebut melahirkan Gunung Bromo. Gunung yang hingga kini masih aktif itu terbentuk setelah pusat aktivitas vulkanik bergeser ke bagian tenggara dan bergabung dengan kompleks gunung api yang sudah ada sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan kondisi masa lalu, perubahan yang terjadi sangat dramatis. Dari gunung purba setinggi sekitar 4.000 meter, kini titik tertinggi kawasan Bromo berada di Gunung Penanjakan yang memiliki ketinggian sekitar 2.772 meter di atas permukaan laut.

Lebih dari separuh tubuh Gunung Tengger Purba diperkirakan hilang akibat serangkaian letusan besar. Material vulkanik yang dimuntahkan ke atmosfer menyebabkan rongga besar di dalam tubuh gunung hingga akhirnya memicu keruntuhan raksasa.

Meski lahir dari rangkaian letusan dahsyat yang menghancurkan sebagian besar tubuh Gunung Tengger Purba, kawasan ini justru berkembang menjadi salah satu lanskap alam paling memukau di dunia. Pada Desember 2023, platform perjalanan asal Amerika Serikat, Bounce, melalui laporan The World’s Most Beautiful National Parks 2023, menempatkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai taman nasional terindah ketiga di dunia setelah Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan dan Taman Nasional Lençóis Maranhenses di Brasil. Penilaian itu didasarkan pada popularitas destinasi di media sosial, pencarian Google, serta ulasan wisatawan dari berbagai negara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....