Menjaga "amanah" di Tengah Debu Marunda: Kisah Henri, Penjaga Makam Kapitan Yongker

  • 25 Mei 2026 11:44 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta – Di balik riuh rendah suara truk kontainer dan kepulan debu di kawasan industri Marunda, Jakarta Utara, terdapat sosok pria senja yang setia menjaga secercah sejarah Maluku di tanah Betawi. Pak Henri (67), telah menghabiskan hampir seperempat abad hidupnya untuk merawat Makam Kapitan Yongker, sebuah situs cagar budaya yang hingga kini masih minim perhatian dari pemerintah.

Pak Henri resmi mengemban tugas sebagai juru kunci sejak tahun 2002, menggantikan pengurus sebelumnya yang telah tutup usia. Baginya, menjaga makam panglima perang abad ke-17 ini bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan sebuah "amanah" atau mandat suci.

"Ini amanah dari Tuhan dan orang tua. Sebelum pengurus lama meninggal, kami ada beberapa orang di sini yang dititipi kunci. Saya tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab ini," ujar Pak Henri saat ditemui RRI Jakarta dengan nada suara yang mantap namun tulus. Minggu 24 Mwi 2026.

Selama 24 tahun mengabdi, Pak Henri mengaku tidak pernah menerima gaji tetap atau dukungan finansial rutin dari pemerintah. Untuk biaya perawatan makam dan kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan kerelaan para peziarah yang datang.

"Kalau pemerintah, jujur sampai sekarang belum ada perhatian khusus (soal gaji). Saya tidak bisa memaksa orang. Seikhlasnya saja kalau ada yang kasih, saya terima. Saya bawa senang saja supaya tetap sehat," tambahnya.

Setiap hari, Pak Henri harus bergelut dengan kondisi lingkungan yang keras. Lokasi makam yang berada di jalur padat logistik membuatnya harus terus-menerus menyapu debu yang menebal dengan cepat. Selain itu, kondisi atap bangunan yang sering bocor saat hujan menjadi beban pikiran tersendiri baginya.

Meski menghadapi banyak kendala, Pak Henri memiliki visi besar untuk masa depan situs bersejarah ini. Ia bermimpi Makam Kapitan Yongker bisa ditata ulang seperti situs sejarah "Si Pitung" di Marunda.

Menurutnya, penataan kawasan yang lebih baik—seperti pembuatan taman dan area komersial—tidak hanya akan melestarikan sejarah, tetapi juga memberikan pemasukan bagi pemerintah.

"Harapannya pemerintah bisa menyamakan tempat ini seperti situs Si Pitung. Dibikinkan taman, ada tempat jualan aksesori atau kain tenun khas Ambon. Itu kan bisa jadi pemasukan buat pemerintah juga lewat parkir dan wisata," usul Pak Henri.

Melalui dedikasinya, Pak Henri berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap keberadaan cagar budaya ini. Baginya, sosok Kapitan Yongker adalah bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa yang patut dihargai dengan fasilitas yang layak.

Sambil memegang sapu lidi di tangannya, Pak Henri menutup perbincangan dengan sebuah pesan bahwa sejarah hanya akan hidup jika ada orang-orang yang peduli untuk merawatnya—bahkan jika harus dilakukan di tengah kepungan debu dan kebisingan kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....