Muhammad Yahdi Bangun Ekowisata Kapalo Banda dari Desa
- 08 Mei 2026 07:25 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Muhammad Yahdi membangun Ekowisata Kapalo Banda sejak 2014 berbasis pemberdayaan masyarakat.
- Desa Wisata Nagari Kapalo Banda Taram masuk 100 Besar ADWI 2024.
- Ekowisata dinilai menjadi sumber ekonomi baru sekaligus menjaga kearifan lokal masyarakat Minangkabau.
RRI.CO.ID, Jakarta – Perjuangan hidup Muhammad Yahdi dari anak petani di Nagari Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, kini menginspirasi banyak orang melalui pengembangan ekowisata Kapalo Banda. Pria kelahiran 19 Maret 1988 itu berhasil membangun kawasan wisata berbasis masyarakat yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga meningkatkan ekonomi warga desa.
Muhammad Yahdi tumbuh sebagai anak yatim dalam keluarga sederhana dan dibesarkan oleh sang ibu, Neli, seorang petani di Nagari Taram. Sebagai anak keempat dari keluarga bersuku Piliang, ia mengaku dididik dengan nilai kejujuran yang hingga kini menjadi pegangan hidupnya.
“Amak selalu bilang, pegang kejujuran itu saja,” ujar Yahdi saat mengenang pesan sang ibu dalam siaran radio Apresiasi Budaya Minangkabau di RRI Pro 4 Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026. Ia mengatakan pesan sederhana itu menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai keterbatasan hidup sejak kecil.
Meski pendidikan terakhirnya hanya sampai Sekolah Menengah Atas, Yahdi berhasil mencatat berbagai prestasi di bidang pariwisata dan pemberdayaan masyarakat. Ia pernah menjadi Konsultan Pariwisata Sumatera Barat, penerima penghargaan Teladan Wana Lestari, hingga Juara II Anugerah Pesona Indonesia.
Sebelum fokus mengembangkan wisata, Yahdi sempat bekerja di BPS Syariah sebagai pimpinan dan aktif sebagai atlet serta pelatih dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi. Namun, sejak 2014 ia memutuskan terjun penuh ke dunia ekowisata melalui pengembangan Ekowisata Kapalo Banda di Nagari Taram.
“Saya mulai terjun ke dunia ekowisata pada tahun 2014 melalui pengembangan Ekowisata Kapalo Banda di Taram. Bagi saya ekowisata bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan sarana membangun karakter masyarakat dan membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar,” ucap Yahdi.
Menurut Yahdi, pengembangan wisata alam Kapalo Banda dilakukan dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Kawasan yang berada tidak jauh dari Lembah Harau itu memanfaatkan bendungan dua sungai yang menjadi sumber kehidupan warga untuk pertanian, perikanan, hingga kebutuhan sehari-hari.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan Desa Wisata Nagari Kapalo Banda Taram masuk dalam 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024. Kawasan wisata tersebut juga dikenal memiliki potensi wisata alam, budaya, edukasi, hingga wisata religi yang terus berkembang.
Yahdi mengatakan kawasan wisata itu kini menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. “Ekowisata Kapalo Banda harus menjadi eskalator peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Yahdi.
Ia ingin para pemuda pengelola wisata diharapkan menjadi “etalase” keramahan dan budaya masyarakat Nagari Taram.
Sejak tahun 2024, Muhammad Yahdi semakin fokus mengembangkan ekowisata dan bisnis kreatif. Menurutnya, prospek wisata di Kabupaten Lima Puluh Kota sangat besar, terutama jika mampu mengedepankan kualitas produk wisata dan kearifan lokal sebagai nilai jual utama.
Dukungan masyarakat setempat pun disebut sangat kuat, karena mereka merasakan langsung manfaat ekonomi dan sosial dari berkembangnya kawasan wisata tersebut. Di akhir perbincangan, Yahdi menyampaikan pesan khusus bagi generasi muda Minang dan anak muda Indonesia pada umumnya agar berani berkarya dan keluar dari batasan pemikiran.
Ia berharap Ekowisata Kapalo Banda suatu hari dikenal dunia sekaligus mampu menjaga local wisdom masyarakat Taram. “Ayuk nan mudo, bekerjalah. Terbanglah bentangkan sayapmu. Bermimpilah tinggi, hantam penjara pemikiranmu, dan nikmatilah rasa sakit dalam perjuangan,” kata Yahdi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....