Liburan Berarti, Coba Rasakan Getar Sejarah di Sini
- 27 Apr 2026 20:25 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah hiruk pikuk ibu kota, Museum Sumpah Pemuda menjadi ruang sunyi yang menyimpan denyut sejarah pergerakan pemuda Indonesia. Bukan sekadar tempat rekreasi, gedung di Jalan Kramat Raya ini mengungkap bagaimana gagasan persatuan lahir dari diskusi panjang generasi muda.
Gedung yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda awalnya merupakan rumah tinggal milik Sie Kong Lian pada awal abad ke-20. Bangunan ini kemudian menjadi tempat tinggal pelajar STOVIA dan berkembang menjadi pusat aktivitas pergerakan pemuda sejak 1927.

Gedung Museum Sumpah Pemuda. Foto: kemenbud)
Di lokasi inilah Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928 digelar, yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan bangsa. Peristiwa tersebut menjadikan Gedung Kramat 106 sebagai simbol lahirnya identitas nasional Indonesia.
Seiring waktu, fungsi gedung ini sempat berubah menjadi rumah tinggal, toko bunga, hingga hotel sebelum akhirnya dipugar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1973. Penetapan sebagai cagar budaya melalui kebijakan Gubernur Ali Sadikin menjadi titik awal pelestarian nilai sejarahnya.
Pengunjung museum, Aristya, mengaku mendapatkan perspektif baru setelah melihat langsung koleksi dan diorama di dalam museum. “Datang ke sini bareng teman-teman bikin kami sadar kalau semangat persatuan itu harus terus dirawat oleh generasi kami,” ujar Aristya saat ditemui di ruang pameran.
Ia juga menyoroti koleksi autentik seperti biola milik Wage Rudolf Supratman yang menjadi daya tarik tersendiri. “Tempatnya adem dan informasinya sangat mudah dipahami, jadi kami bisa seru-seruan sambil nambah pengetahuan di hari libur ini,” ucapnya.
Data dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menunjukkan museum ini resmi menjadi unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak 1983. Pengelolaannya terus bertransformasi mengikuti perubahan struktur kelembagaan hingga kini berada di bawah pemerintah pusat.
Museum ini buka setiap Selasa hingga Minggu pukul 08.00–16.00 WIB dengan harga tiket terjangkau. Kehadirannya menjadi alternatif wisata edukatif yang tidak hanya menyajikan sejarah, tetapi juga menanamkan kembali nilai persatuan bagi generasi masa kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....