IELC 2025 Kukuhkan Experiential Tourism
- 28 Jun 2025 00:01 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) resmi menggelar Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2025 di Gedung Caping Gunung, TMII – Jakarta. Mengusung tema “From Destination to Transformation”, konferensi ini menjadi edisi perdana dari forum tahunan yang dirancang sebagai platform strategis untuk membangun ekosistem Experiential Learning (EL) di Indonesia.
Dalam sambutannya Ketua Umum AELI periode 2025–2029, Gigih Gesang, biasa dipanggil MasGih “menegaskan arah baru AELI sebagai ekosistem pembelajaran berbasis pengalaman yang kolaboratif, profesional, dan berdampak nasional.” Ia menyampaikan bahwa konferensi ini adalah titik mula dari langkah besar membumikan Experiential Learning dalam ruang-ruang wisata, pendidikan, dan pembangunan karakter bangsa.
Ada pesan khusus dari tokoh dunia experiential learning, Prof. Simon Priest memperkenalkan konsep Experiential Tourism & Travel (ET&T) sebagai integrasi antara tantangan, alam, dan warisan budaya — yang difasilitasi secara sadar untuk membentuk manusia seutuhnya.
“Experiential Tourism & Travel, sebagai praktik turunan dari metode Experiential Learning, memiliki dampak luar biasa — bukan hanya pada kesan wisata, tapi pada peningkatan 9 aspek well-being manusia. Bukan sekadar mendatangi destinasi wisata, tapi menciptakan pengalaman yang dapat mentransformasi diri,” ujar MasGih, melalui keterangannya, Jumat (27/6/2025).
Hadir mewakili Wakil Menteri Pariwisata RI. Dr. Masruroh, S.Sos., MAB, Staf Ahli Menteri Pariwisata RI bidang Transformasi Digital dan Inovasi, dalam keynote-nya, beliau menegaskan bahwa Quality Tourism adalah masa depan pariwisata Indonesia — pariwisata yang tidak sekadar ramai dikunjungi, tetapi juga berkualitas dalam dampak dan berkelanjutan secara nilai.
Dr. Masruroh menambahkan bahwa Experiential Tourism menjadi kunci penting dalam mewujudkan Quality Tourism, karena mampu menghadirkan pengalaman yang memperkaya makna perjalanan dan memperkuat dampaknya terhadap pembangunan karakter, wawasan, dan kapasitas manusia Indonesia.
“Inilah arah baru pariwisata Indonesia — dari sekadar berkunjung menjadi belajar, dari sekadar melihat menjadi mengalami,” ujarnya.
Melalui pendekatan ini, Kementerian Pariwisata memberi sinyal kuat bahwa pengembangan sektor wisata ke depan perlu semakin terintegrasi dengan strategi penguatan SDM bangsa — dan AELI dipandang sebagai mitra strategis dalam agenda besar ini.
Dengan ditutupnya IELC 2025, Konferensi ini juga menghasilkan beberapa tindak lanjut strategis, antara lain:
1. Penguatan praktik Experiential Tourism di berbagai destinasi wisata, khususnya desa wisata
sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman.
2. Harapan dari Kementerian Pariwisata agar AELI terlibat aktif dalam penyusunan standar nasional Edutourism dan Study Tour.
3. Penguatan peran Experiential Learning dalam pembangunan karakter pemuda dan aparatur negara.
4. Peningkatan kontribusi AELI dalam pengembangan wilayah berbasis pengalaman, melalui sinergi dengan komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah.
5. Pengembangan transformasi digital experiential learning melalui kolaborasi dengan Hoople, untuk mendukung proses fasilitasi dan dokumentasi pembelajaran yang lebih terukur dan partisipatif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....