Museum NTB Pamerkan Alat Menginang, Jaga Warisan Leluhur

  • 28 Feb 2025 00:36 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Menginang merupakan tradisi mengunyah sirih yang telah diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat atau NTB. Tradisi ini tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya.

Menurut Ahmad Nuralam, Kepala Museum Negeri NTB, menginang sering kali menjadi simbol keramahan dan penghormatan dalam berbagai acara adat. "Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kesopanan, tetapi juga mempererat hubungan sosial di masyarakat," ujarnya dalam program siaran Suara Budaya Nusantara di radio 92,8 FM Pro4 RRI Jakarta pada Kamis 27 Februari 2025.

Sejarah menginang di NTB dapat ditelusuri hingga masa kerajaan, ketika kebiasaan ini menjadi bagian penting dalam interaksi sosial masyarakat. Ahmad Nuralam menyebutkan bahwa tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh orang tua, tetapi juga oleh para pemuda dalam acara adat tertentu.

Bahan utama dalam menginang terdiri dari sirih, kapur, pinang, dan gambir yang dikunyah secara bersamaan untuk menghasilkan efek khas. "Kombinasi bahan-bahan ini diyakini memiliki manfaat tertentu, seperti menjaga kesehatan gigi dan mulut," ujar Ahmad Nuralam.

Meskipun modernisasi terus berkembang, tradisi menginang tetap bertahan di beberapa wilayah di NTB. Hal ini disebabkan oleh nilai budaya yang kuat serta kepercayaan masyarakat akan manfaat kesehatannya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahan-bahan dalam menginang mengandung senyawa alami yang dapat membantu menjaga kebersihan mulut. Oleh karena itu, meskipun jumlah pelakunya semakin berkurang, masih banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi ini dalam kehidupan sehari-hari.

Di berbagai daerah di NTB, seperti perkampungan suku Sasak dan Sumbawa, menginang masih menjadi bagian dari prosesi adat yang tidak dapat ditinggalkan. Dalam upacara pernikahan, penyambutan tamu, dan acara adat lainnya, tradisi ini sering kali dijadikan simbol penghormatan dan persaudaraan.

Museum Negeri NTB turut berperan dalam melestarikan tradisi ini dengan memamerkan berbagai alat dan bahan yang digunakan dalam proses menginang. "Kami berharap generasi muda tetap mengenal dan menghargai warisan budaya leluhur mereka," ujar Ahmad Nuralam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....