Hikayat Glodok, Monaco dari Hindia-Belanda minus Montecarlo
- 16 Jan 2025 07:50 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Kebakaran besar melanda Glodok Plaza di Tamansari, Jakarta Barat, Rabu malam, 15 Januari 2025. Peristiwa ini mendapat perhatian dari publik karena diwarnai sejumlah insiden dramatis yang menyertainya.
Suara ledakan terdengar dari lantai tujuh gedung, tempat kebakaran diduga bermula. Ledakan tersebut diduga berasal dari mobil yang terbakar di area parkir lantai tujuh.
Farid, petugas pemadam kebakaran Jakarta Barat, menyampaikan bahwa ledakan besar kemungkinan berasal dari kendaraan di parkiran. "Itu kan lantai 7 parkiran mobil. Sepertinya yang meledak itu mobil, ledakan yang besar tadi," ujar Farid seperti dilansir kantor berita antaranews.
Hingga Kamis dini hari, api masih berkobar di lantai 7, 8, dan 9 gedung. Proses pemadaman terus berlangsung di tengah upaya dramatis petugas penyelamat yang berhasil mengevakuasi sembilan orang dari kebakaran tersebut. Menurut Kepala Seksi Operasi Gulkarmat Jakarta Barat, Syarifudin, kebakaran ini berawal dari sebuah diskotek di lantai tujuh.
Namun, di balik musibah ini, Glodok Plaza memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perbelanjaan ikonik di kawasan Pecinan Jakarta. Berikut adalah kisahnya:

Suasana Glodok 1872. (Foto: buku Toponimi Jakarta Barat/geheugenvannederland.nl)
Asal Mula Nama Glodok
Banyak spekulasi tentang asal usul nama Glodok. Dua di antaranya, glodok berasal dari galodog, kata dalam Bahasa Sunda yang berarti tangga –terdiri dari tiga anak tangga – menuju rumah.
Kedua, glodok berasal dari kata grojok, grojok atau suara air jatuh dari pancuran, atau dari ketinggian. Dulu, masyarakat sering menyebut air terjun dengan nama grojogan. Kata ini juga sering digunakan masyarakat Jakarta pinggiran untuk pintu air sebagaimana ditulis dalam buku Toponimi Jakarta Barat yang kami akses melalui budbas.data.kemdikbud.go.id.
Spekulasi pertama mungkin tidak masuk akal. "Sebab, tidak ada catatan orang Sunda bermukim di kawasan yang saat ini bernama Glodok," kata Buku itu. Di buku Toponimi Jakarta Barat ini juga ditulis, kutipan seorang penulis novel bergaya humor asal Amsterdam, Justus van Maurik yang menggambarkan
Glodok adalah Monaco dari Hindia-Belanda, minus Montecarlo. Maurik menulis pengumpamaan itu dalam bukunya Indrukken van een Tòtòk terbitan Den Haag 1965.

Bagian dalam Penjara Glodok yang dilukis dengan pensil oleh seorang tahanan. (Foto: Foto: buku Toponimi Jakarta Barat/geheugenvannederland.nl
Alkisah, pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, perusahaan dagang Belanda yang dibentuk untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia, khususnya di Nusantara, kawasan Glodok dikenal dengan pancuran air yang menjadi sumber utama bagi pelaut dan pedagang untuk mengisi perbekalan air minum. Pancuran tersebut terletak di sekitar Jl Pancoran saat ini, dekat Kali Besar. Kala itu, pancuran air ini tidak hanya menjadi tempat strategis untuk logistik, tetapi juga untuk transaksi perdagangan.
Namun, tidak semua aktivitas berjalan mulus. Konflik kerap terjadi antara pelaut asing dan pedagang lokal yang memperebutkan akses ke pancuran air. Bahkan, kawasan ini dikenal sebagai pusat penyelundupan rempah-rempah oleh pedagang mancanegara yang memanfaatkan keramaian untuk menghindari pengawasan VOC.
Pada tahun 1740, tragedi besar menimpa komunitas Tionghoa di Batavia. Menurut sejarahnya, ribuan etnis Tionghoa dibantai, dan mereka yang selamat dipindahkan oleh VOC ke luar tembok kota, termasuk ke wilayah Glodok. Kawasan ini kemudian menjadi Chineesche Kamp atau kampung Cina, sebagaimana tercatat dalam peta tahun 1810.
Nama Glodok sendiri dipercaya sudah ada sebelum tragedi 1740, meski bentuknya belum menjadi pemukiman besar. Transformasi kata "grojok" menjadi "glodok" diduga akibat adaptasi bahasa, di mana pengucapan "r" oleh komunitas Tionghoa mengalami perubahan menjadi "l". Dalam waktu singkat, istilah ini melekat menjadi nama resmi kawasan.
Seiring waktu, Glodok berkembang pesat sebagai kawasan perdagangan. Kanal-kanal yang dulunya menjadi jalur distribusi air perlahan kehilangan fungsi. Sebagai contoh, Sirihgracht berubah menjadi Jl Tongkangan, sementara Areeksgracht kini dikenal sebagai Perniagaan Timur. Jejak sejarah Glodok juga tertanam dalam nama-nama jalan seperti Gang Kalimati, yang diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap korban tragedi 1740.
Blandongan, yang merupakan bagian dari Glodok, menjadi saksi akulturasi budaya Tionghoa. Nama Blandongan berasal dari istilah Hokkien "landung," yang berarti jalan menikung, menggambarkan topografi kawasan tersebut. Hingga kini, Glodok tetap menjadi simbol budaya Tionghoa di Jakarta, dengan keberadaan pasar tradisional, kuil, dan berbagai bangunan bersejarah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....