Anak Kritisi Perundungan hingga Intoleransi Lewat Karya Seni
- 23 Jul 2024 11:40 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Kasus perundungan dan kekerasan seksual pada anak terus menjadi perhatian dari berbagai pihak. Data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan, sepanjang tahun 2023, terjadi 30 kasus perundungan di satuan pendidikan. Situasi ini turut menjadi keresahan bagi Gie Sanjaya, Ketua Yayasan Kids Biennale sekaligus Kurator, yang mendorongnya untuk menginisiasi pameran Kids Biennale Indonesia.
Kids Biennale Indonesia adalah pameran seni dua tahunan yang mengangkat isu-isu relevan melalui praktik seni modern serta aktivitas intelektual dan budaya. Pameran ini menjadi platform bagi anak-anak dan remaja untuk menyampaikan isu-isu terkini, termasuk pengalaman perundungan, melalui medium seni.
Menurut Gie Sanjaya, Kids Biennale Indonesia memberikan rumah dan tempat bagi anak-anak untuk menyuarakan pengalaman mereka. "Bagi saya, Kids Biennale adalah platform untuk anak dan remaja mengangkat isu terkini melalui seni dan budaya. Jadi mereka bisa mengadvokasi, mengkritisi, dan juga menjadi agen perubahan," ujar Gie dalam wawancara dengan penyiar Binda Umar dan Bams Hari di radio 91.2FM Pro1 RRI Jakarta pada Selasa (23/7/2024).
Gie menjelaskan bahwa pameran ini menitikberatkan pada tiga dosa besar dalam pendidikan: kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Melalui seni, anak-anak dapat merespon isu-isu tersebut dengan cara yang kreatif dan personal, seperti melalui lukisan, kolase, dan puisi.

Gie Sanjaya, Ketua Yayasan Kids Biennale (belakang) mendampingi aktris Cornelia Agatha, Ketua Komnas Perlindungan Anak Jakarta dalam acara Pameran Road to Kids Biennale di Creativite Indonesia, Jalan Cilandak Tengah nomor 11A pada Sabtu (20/7/2024). (Foto: RRI / Kids Biennale)
Anak Berkebutuhan Khusus dan Ekspresi Seni
Tema perundungan dan intoleransi tahun ini lebih fokus pada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dan difabel. "Banyak anak-anak ABK yang mengalami perundungan. Mereka merespon isu tersebut melalui berbagai bentuk karya seni, seperti melukis, membuat game, atau video," kata Gie menceritakan interaksinya dengan anak anak.
Gie menambahkan bahwa Kids Biennale Indonesia juga bekerja sama dengan perupa dewasa yang spesial, seperti Dwiputra, untuk mendukung karya anak-anak. "Anak-anak ini sangat kreatif dan mampu menyampaikan isu-isu berat melalui karya seni mereka."
Pameran Kids Biennale Indonesia 2024
Pameran Kids Biennale Indonesia tahun ini berlangsung dari tanggal 20 Juli hingga 10 Agustus di Creativite Indonesia, Jalan Cilandak Tengah nomor 11A. Pameran ini terbuka setiap hari dari jam 10.00 hingga 18.00.
Pameran ini menampilkan 54 karya seni, termasuk karya kolaboratif dari satu sekolah yang terlibat dalam terapi batik. Gie Sanjaya menjelaskan bahwa beberapa karya dijual untuk mendukung Yayasan Kids Biennale serta memberikan penghargaan kepada anak-anak yang membuatnya.
Inspirasi dari Pengalaman Pribadi
Gie Sanjaya, yang memiliki latar belakang sebagai kurator independen dan sering bekerja di dunia seni, baik nasional maupun internasional, merasa bahwa anak-anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, memiliki hak untuk menyuarakan pendapat mereka. "Anak-anak Indonesia luar biasa. Mereka mampu mengkritisi isu-isu besar melalui seni dan budaya. Kita harus bisa menjembatani kreativitas mereka dan membawa mereka ke kancah dunia," katanya sambil mengajak semua orang untuk bergerak memberikan suara kepada anak-anak dan remaja, terutama mereka yang berkebutuhan khusus. Melalui seni, kata Gie, mereka juga bisa mengungkapkan pengalaman mereka, mendapatkan dukungan, dan menjadi agen perubahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....