Kasus Video Porno Anak, Kenapa Sulit Dihentikan?

  • 03 Jun 2024 13:47 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Kasus pelecehan anak, terutama dalam bentuk eksploitasi dan pornografi, masih menjadi momok serius di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia bahkan telah menyandang status darurat terkait masalah pornografi anak. Salah satu kasus yang mengejutkan adalah penjualan ribuan video porno anak yang dilakukan melalui platform digital oleh seorang pria bernama DY, asal Bekasi, yang mencapai keuntungan mencapai ratusan juta.


Adi Abdillah Marta, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Banten, memberikan analisis tentang mengapa kasus-kasus seperti ini sulit untuk dihentikan. Salah satu faktor utama adalah kompleksitas anak-anak yang terlibat dalam industri pornografi yang semakin meluas, bahkan lintas negara.


Pertama, kemajuan teknologi telah memungkinkan perubahan pola dan budaya anak-anak. Penggunaan teknologi yang seharusnya positif untuk pendidikan dan hiburan juga dimanfaatkan untuk kegiatan negatif seperti pornografi anak.


Kedua, ketidakmampuan sistem dalam menangani masalah ini secara efektif. "Meskipun polisi telah bertindak, namun penegakan hukum masih menghadapi tantangan, terutama dalam menindak pelaku secara efektif sesuai dengan undang-undang perlindungan anak dan hukum terkait pornografi," kata Adi saat menjadi pembicara dalam program siaran radio 'Jakarta Pagi Ini' di 91,2FM Pro1 RRI Jakarta pada Senin (3/6/2024).


Dalam siaran pagi itu, Adi juga menyoroti peran media sosial yang seharusnya dapat digunakan untuk mengawasi dan melaporkan konten negatif, tetapi masih banyak kejahatan yang terjadi di bawah pengetahuan publik.


Tantangan lainnya adalah koordinasi antar stakeholder. Perlindungan anak melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga aparat penegak hukum. Koordinasi yang baik menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini.


Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Banten, bersama dengan para stakeholder lainnya, terus berupaya untuk mengatasi masalah ini melalui pendekatan preventif dan promotif. Sosialisasi, edukasi, dan pembentukan kesadaran menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan.


Dalam menangani kasus-kasus seperti ini, LPAI juga memberikan pendampingan kepada korban dan melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk tindakan penegakan hukum yang tepat.


Adi menekankan pentingnya hukuman yang tegas bagi pelaku, termasuk orang tua yang terlibat dalam kasus pelecehan anak. Hal ini tidak hanya sebagai efek jera bagi pelaku, tetapi juga sebagai upaya pencegahan bagi calon pelaku.


Sebagai orang tua, Adi juga mengajak untuk lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak-anak, dengan memberikan perhatian dan komunikasi yang baik. Menghilangkan kata 'sibuk' dan menyadari tanggung jawab dalam mendidik anak menjadi kunci dalam melindungi generasi penerus dari ancaman pelecehan dan eksploitasi.


Melalui kerja sama antar semua pihak, baik itu pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, keluarga, dan masyarakat secara luas, LPAI berharapa kasus-kasus pelecehan anak dapat diminimalisir dan akhirnya dihapuskan, menjadikan Indonesia sebagai lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....