Kenaikan Harga Beras Membuat Petani Kesulitan
- 04 Mar 2024 15:27 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Tidak hanya konsumen, harga beras yang harganya naik beberapa bulan terakhir telah menjadi permasalahan yang kerap dihadapi oleh petani. Meskipun terdapat kenaikan harga beras belakangan ini, transmisi harga dari gabah yang dijual oleh petani masih belum terjadi dengan baik. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat petani kesulitan.
Kenaikan harga beras belakangan ini tentu terkait dengan faktor permintaan dan penawaran. Meskipun di pasar masih terdapat harga-harga yang relatif rendah, terutama dari operasi pasar, namun harga beras merek tertentu cukup tinggi.
Menurut J.J. Polong, Anggota Majelis Nasional Petani pada Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia, petani kadang-kadang tidak mendapatkan keuntungan yang signifikan dari kenaikan harga beras. Hal ini terutama karena mereka seringkali menjual gabah daripada beras, dan transmisi harga dari gabah ke beras tidak selalu terjadi secara proporsional.
"Kalau kenaikan harga beras itu Rp 4000 misalnya, kan di tingkat petani kenaikan harga gabah itu paling seribu perak. Kemudian petani kita ini kan konsumen beras juga. Jadi petani juga kena dampak dari kenaikan harga beras,” kata J.J. Polong saat menjadi pembicara dalam program siaran radio 'Jakarta Pagi Ini' di 91,2FM Pro1 RRI Jakarta pada Senin (4/3/2024).
Kondisi ini menurutnya semakin diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar petani tidak memiliki gudang penyimpanan yang memadai. Ketika musim panen tiba, mereka seringkali menjual seluruh panen mereka tanpa menyisakan stok beras di rumah. "Hal ini membuat mereka rentan terhadap kenaikan harga beras, karena mereka harus membeli beras dengan harga yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan mereka setelah panen,"ucapnya.
Selain itu, produksi beras dalam negeri pada tahun lalu mengalami penurunan karena pengaruh cuaca. Namun, kenaikan harga beras dapat mendorong petani untuk memperluas lahan tanam mereka pada tahun berikutnya. Meskipun demikian, menurutnya masih ada tantangan bagi petani kecil dalam memperluas produksi mereka, terutama terkait dengan akses terhadap modal dan distribusi pupuk yang terkadang kurang memadai.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa harga beras pada bulan Februari lalu mencapai level tertinggi dalam dekade terakhir. Hal ini menunjukkan ironi bahwa meskipun Indonesia adalah negara agraris, namun masih menghadapi tantangan dalam hal harga beras.
J.J. Polong menegaskan perlunya perhatian khusus dari pemerintah terhadap petani kecil yang memproduksi pangan. Kebijakan yang mendukung akses terhadap modal dan distribusi pupuk yang lebih baik menjadi kunci dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh petani.
Dengan mulai masuknya musim panen pada bulan Maret, Polong berharap bahwa harga beras akan kembali normal. Namun, tantangan dalam hal distribusi dan akses pasar masih perlu diperhatikan agar petani dapat merasakan manfaat dari kenaikan harga beras yang terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....