Mengenal Lebih Dekat Presiden-Presiden Indonesia di “Balai Kirti”
- 17 Jan 2024 19:48 WIB
- Jakarta
KBRN: Museum Kepresidenan Republik Indonesia “Balai Kirti” merupakan museum
khusus yang digagas dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tanggal 18 Oktober 2014. Pembangunan museum
yang berada di lingkungan Istana Bogor ini dimulai pada 2012 dan dibuka untuk umum di tanggal 10
November 2014 tepat di moment Hari Pahlawan.
Penamaan Museum Balai Kirti berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Balai memiliki arti ruang dan Kirti berarti kemasyhuran. Balai Kirti dapat diartikan sebagai bangunan yang menyimpan dan memamerkan berbagai benda peninggalan bersejarah yang pernah membawa kemasyhuran.
Kepala Unit Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Linda Siagian menjelaskan, museum ini memiliki tiga lantai yang terdiri dari ruang pamer tetap , perpustakan dan ruang terbuka hijau yang bisa digunakan pengunjung untuk refreshing. Linda mengatakan, saat ini ada seribu koleksi dari enam presiden Republik Indonesia yang telah purna bakti, tiga ratus diantaranya dipamerkan dalam ruang pamer tetap di museum.
Untuk lantai pertama dengan tema Galeri Kebangsaan, koleksi yang dipamerkan terdiri dari relief patung garuda pancasila, teks proklamasi, teks pancasila, teks pembukan UUD 1945, teks sumpah pemuda, teks Indonesia Raya, peta digital, dan enam patung presiden RI yang purna bakti. Lantai kedua, dengan tema Galeri kepresidenan, terdiri dari enam klaster ,yang berisi memorabilia , pilihan presiden, dokumentasi kegiatan kenegaraan dan karya cipta presiden. Tidak hanya itu saja, masih di lantai dua, terdapat ruang pojok anak yang bisa digunakan untuk belajar sambil bermain. “ Bagaimana caranya informasi museum kepresidenan ini selain untuk orang dewasa bisa sampai ke usia dini,” ujarnya.
Tahun ini Museum Kepresidenan RI Balai Kirti memiliki program yang dinamakan ”museum keliling” yang kegiatannya berisi pameran kontemporer yang temanya sudah dikurasi terkait sisi lain dari presiden. “ Program museum keliling ini bertujuan untuk memperkenalkan ke daerah-daerah yang aksesnya sulit atau semacam sosialisasi”, menurutnya saat diwawancara, Jakarta, ( 17/1/2023).
Linda berharap masyarakat bisa mengenal dan mencintai koleksi-koleksi yang ada di museum, karena saat ini peran museum tidak hanya untuk ranah penelitian tetapi sudah menjadi wahana edukasi yang menyenangkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....