Hilangnya Bahasa Ibu, Ancaman Nyata bagi Identitas Bangsa

  • 24 Jan 2026 21:40 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Isu hilangnya bahasa ibu menjadi topik dalam wawancara RRI yang dipandu oleh Nova Calysta (Host RRI Jakarta) bersama Dr. Yusuf W. Sawaki, S.Pd., M.A. Dosen UNIPA dan peneliti Bahasa dari Manokwari sebagai narasumber.

Wawancara ini membahas kondisi kebahasaan di Indonesia, khususnya Papua, yang memiliki keragaman bahasa tinggi namun sekaligus menghadapi risiko kepunahan bahasa akibat jumlah penutur yang semakin sedikit.

Dr. Yusuf menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 726 bahasa daerah, dan sebagian besar masih digunakan sebagai alat komunikasi di komunitasnya. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua bahasa berada dalam kondisi aman.

“Masih banyak bahasa yang kuat, tetapi ada juga yang sudah mengalami degradasi. Ada yang penurunannya total, ada juga yang hanya di kelompok usia tertentu,”jelasnya. Ia mencontohkan bahasa yang telah punah dan bahasa yang kini berada dalam kondisi kritis dengan jumlah penutur yang sangat terbatas.

Menurut Dr. Yusuf, penyebab hilangnya bahasa ibu berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan perubahan sikap berbahasa penuturnya. "Mereka tidak lagi memilih bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi, dan lebih menggunakan bahasa nasional atau bahasa Melayu Papua,” ujarnya. Akibatnya, bahasa ibu tidak lagi diturunkan dari generasi ke generasi. Sementara faktor eksternal meliputi modernisasi, kemajuan teknologi, migrasi penduduk, serta perkawinan antarsuku.

Meski demikian, Dr. Yusuf menegaskan bahwa bahasa ibu belum sepenuhnya hilang. Bahasa daerah masih digunakan di sejumlah lingkungan, namun mengalami penurunan signifikan di kalangan generasi muda yang kini bersifat multibahasa. "Mereka bisa bahasa daerah, bahasa Melayu Papua, dan bahasa Indonesia, tetapi justru bahasa daerah yang jarang dipakai,” ungkapnya, yang membuat keberadaan bahasa ibu menjadi semakin rentan.

Lebih jauh, Dr. Yusuf menekankan bahwa dampak hilangnya bahasa ibu sangat besar karena bahasa merupakan identitas suku bangsa. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi cerminan jati diri, kebanggaan, dan sarana menyampaikan nilai budaya serta pengetahuan,tegasnya.

Ia menambahkan, jika bahasa ibu hilang, maka ekspresi budaya seperti ritual, kesenian, dan pengetahuan lokal juga akan ikut lenyap. Oleh karena itu, upaya pelestarian bahasa ibu perlu dilakukan bersama oleh keluarga, masyarakat, dan negara agar identitas budaya tidak hilang ditelan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....