Sanggar Seni, Jalan Pengabdian dan Pelestarian Budaya
- 24 Des 2025 23:54 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Sebuah sanggar seni didirikan berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi lingkungan sekitar, di mana banyak anak-anak memiliki keinginan kuat untuk belajar menari, namun terbentur keterbatasan ekonomi. Bagi pendirinya, kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah sulit, apalagi harus membayar les tari. Dari situ tumbuh keikhlasan untuk membuka sanggar secara swadaya, dengan biaya yang sangat terjangkau, tanpa mengurangi kualitas pembelajaran seni.
Meski berawal dari keterbatasan, sanggar ini telah melahirkan penari-penari berprestasi hingga tingkat internasional. Salah satunya adalah Mala, yang kini telah memiliki sanggar sendiri bernama Gandrung. Sang pendiri juga memiliki rekam jejak panjang di dunia seni, termasuk mengikuti misi kebudayaan ke Filipina pada 2005 dalam Festival Pentados yang disaksikan Presiden Corazon Aquino, serta dipercaya menjadi juri FLS2N hingga tingkat Jakarta.
Ari Sumartani, pendiri Sanggar Seni Anyelir mengatakan, "Tujuan utama berdirinya sanggar saya ini adalah mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan sejak dini. Bagi saya, melestarikan budaya bukan soal besar atau kecilnya panggung, melainkan tentang warisan yang tetap hidup dan bisa diajarkan, meski kelak tidak lagi berada di negeri sendiri. Saat ini, jumlah anggota yang pernah bergabung mencapai sekitar 75 orang, dengan peserta aktif didominasi anak-anak usia 3 tahun hingga siswa sekolah dasar", Ujar Ari di saat wawancara di acara Obrolan Komunitas Pro 4 FM Jakarta, Selasa (23/12/2025), melalui sambungan telp.
Syarat bergabung di sanggar ini pun sederhana, yakni memiliki niat, mendapat izin orang tua, berusia minimal tiga tahun, membayar administrasi Rp50 ribu per bulan, serta memiliki keberanian untuk belajar. Konsep dan ide sanggar dikelola secara kekeluargaan, melibatkan seluruh anggota keluarga. “Semua ini hasil dari kebersamaan keluarga, bahkan enam adik perempuan saya semuanya bisa menari,” ujarnya.
Ari menyampaikan pula "suka duka menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sanggar. Kebahagiaan terbesar adalah ketika anak didik tumbuh menjadi insan seni yang berguna bagi bangsa. Namun, tantangan juga kerap datang, mulai dari stigma negatif hingga anak didik yang direkrut pihak lain setelah berhasil. Harapannya ke depan, sanggar seni mendapat perhatian nyata dari pemerintah, berupa fasilitas, akses panggung, regenerasi, serta dana pembinaan, Kami hanya ingin seni dirangkul, bukan diperdagangkan semata, agar budaya tetap hidup dan bermartabat,”kata Ari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....