Stop Sebut "Ngapak", Upaya Menghargai Keberagaman Bahasa.

  • 07 Okt 2024 11:17 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Bahasa merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan kekayaan dan keunikan suatu daerah. Di Indonesia, setiap daerah memiliki dialek dan logat yang berbeda, salah satunya adalah dialek Banyumasan atau yang sering disebut "Ngapak". Meski begitu, sebutan "Ngapak" kerap kali digunakan dengan konotasi negatif, menyebabkan sebagian penutur asli merasa terpinggirkan atau tidak dihargai.

Jatmiko Wicaksono, Sebagai Founder Banjoemas History Heritage Community dalam Obrolan Komunitas RRI Pro4 Jakarta mengatakan untuk menghilangkan penggunaan istilah "Ngapak" dengan cara yang merendahkan. Aktivis bahasa, budayawan, dan komunitas Banyumasan. Jatmiko juga menyerukan agar masyarakat lebih menghargai keberagaman bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang majemuk, menekankan pentingnya untuk tidak menggunakan logat atau dialek tertentu sebagai bahan olok-olok, karena hal tersebut dapat merusak rasa kebanggaan masyarakat terhadap bahasa dan budayanya sendiri.

"Dialek Banyumasan atau yang biasa disebut 'Ngapak' adalah bagian dari kekayaan bahasa Indonesia. Ini bukan sesuatu yang harus ditertawakan, melainkan dihargai sebagai identitas budaya yang memperkaya negeri kita," ujar Jatmiko lebih lanjut.

Melalui kampanye edukasi, baik di media sosial maupun melalui diskusi budaya, Banjoemas History Heritage Community berharap masyarakat luas bisa lebih bijak dalam memandang keberagaman bahasa. Menghentikan sebutan "Ngapak" dengan cara merendahkan adalah langkah penting untuk mendorong kesetaraan dan menghormati keberagaman budaya di Indonesia.

Sebagai penutup Jatmiko berharap Banjoemas History Heritage Community dapat membuka mata masyarakat bahwa setiap dialek dan logat, termasuk Banyumasan, adalah bagian dari kekayaan bangsa yang patut dirayakan, bukan dijadikan bahan lelucon.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....