Belajar Menjadi Profesional Tidak Cukup di Ruang Kelas

  • 07 Jul 2026 10:44 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Dunia kerja modern memerlukan lebih dari akademik: mahasiswa harus mampu berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, menjaga etika, dan membangun kepercayaan melalui sikap profesional yang konsisten.
  • Professional Image bukan sekadar tata cara makan atau penampilan fisik, tetapi tentang membangun kepercayaan, integritas, dan kemampuan berkomunikasi nonverbal yang mencerminkan karakter profesional yang konsisten.
  • Mahasiswa belajar bahwa kesan pertama terbentuk sebelum kata pertama diucapkan melalui penampilan, bahasa tubuh, postur, dan cara berinteraksi yang sesuai dengan konteks profesional.

DUNIA kerja berubah jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu. Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik yang tinggi. Mereka membutuhkan individu yang mampu berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dalam tim, beradaptasi terhadap perubahan, menjaga etika, serta membangun kepercayaan melalui sikap dan perilakunya.

Perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi ruang untuk mentransfer pengetahuan. Kampus juga memiliki tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan profesional yang sesungguhnya. Sebab, ketika memasuki dunia kerja, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh bagaimana ia mampu membangun hubungan dengan orang lain dan menghadirkan dirinya sebagai pribadi yang profesional.

Kesadaran itulah yang selalu saya bawa setiap kali memulai perkuliahan mata kuliah Professional Image. Ada satu pertanyaan sederhana yang hampir selalu saya ajukan kepada mahasiswa pada pertemuan pertama.

"Menurut kalian, apa yang membuat seseorang terlihat profesional?"

Hampir setiap semester, jawabannya tidak jauh berbeda. Ada yang menyebut pakaian yang rapi, kemampuan berbicara di depan umum, rasa percaya diri, jabatan yang tinggi, atau bekerja di perusahaan besar. Tidak ada jawaban yang salah. Semua itu memang merupakan bagian dari profesionalisme. Namun saya selalu mengajak mereka melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.

Seseorang dapat memiliki indeks prestasi yang tinggi, menguasai teori komunikasi dengan baik, bahkan mengantongi berbagai sertifikat kompetensi. Namun ketika memasuki ruang wawancara kerja, menghadiri jamuan bisnis, bertemu klien, atau berdiskusi dengan pimpinan perusahaan, ada kompetensi lain yang ikut menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan.

Cara menyapa, memperkenalkan diri, berjabat tangan, mendengarkan lawan bicara, memilih penampilan yang sesuai, memahami etika ketika berada dalam jamuan formal, hingga kemampuan menjaga komunikasi dalam situasi yang berbeda merupakan bagian dari Professional Image yang sering kali tidak diajarkan secara eksplisit di ruang kelas.

Padahal, dunia profesional saat ini menuntut lebih dari sekadar hard skills. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, menjaga etika, membangun kepercayaan, serta menghadirkan citra diri yang positif telah menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan kemampuan akademik.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena tersebut dapat dipahami melalui Impression Management Theory yang diperkenalkan oleh Erving Goffman dalam karya klasik The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman menjelaskan bahwa ketika berada di hadapan orang lain, setiap individu secara sadar maupun tidak sadar berupaya mengelola kesan atau manage impressions melalui penampilan, perilaku, bahasa tubuh, serta cara berkomunikasi.

Dengan kata lain, persepsi orang lain terhadap diri kita sering kali mulai terbentuk bahkan sebelum kita mengucapkan kalimat pertama.

Pemikiran Goffman menjadi semakin relevan pada era digital. Profesionalisme tidak lagi hanya dinilai ketika seseorang berada di ruang rapat atau kantor. Cara seseorang berinteraksi di media sosial, mengikuti rapat daring, merespons pesan, hingga memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari kini turut membentuk citra profesionalnya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, mata kuliah Professional Image di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara tidak dirancang sekadar mengajarkan bagaimana seseorang tampil menarik di depan publik. Mahasiswa diajak memahami bahwa citra profesional dibangun melalui komunikasi yang efektif, kemampuan public speaking, etika profesional, personal branding, grooming, hingga kemampuan membawa diri dalam berbagai situasi formal maupun informal.

Selama lima belas kali pertemuan, mahasiswa mempelajari berbagai konsep tersebut melalui diskusi, studi kasus, simulasi, serta berbagai latihan di kelas. Namun sebagai dosen, saya selalu percaya bahwa teori hanyalah awal dari sebuah proses belajar. Kompetensi yang sesungguhnya lahir ketika mahasiswa mengalami sendiri, mempraktikkan, kemudian merefleksikan apa yang telah dipelajari.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Experiential Learning yang dikembangkan David Kolb (1984). Kolb menjelaskan bahwa pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika peserta didik memperoleh pengalaman nyata, merefleksikan pengalaman tersebut, membangun pemahaman baru, lalu mengaplikasikannya kembali dalam kehidupan.

Artinya, belajar tidak berhenti pada memahami konsep. Belajar harus berlanjut pada proses mengalami, mencoba, mengevaluasi, dan berkembang melalui pengalaman.

Berangkat dari keyakinan itulah, seluruh proses pembelajaran dalam mata kuliah Professional Image diwujudkan melalui proyek pembelajaran bertajuk "Navigating Your Careers with Manners" yang diselenggarakan di Putri Duyung Resort Ancol, Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026. Kegiatan tersebut bukan sekadar penutup perkuliahan, melainkan menjadi puncak dari seluruh proses pembelajaran selama satu semester.

Program ini merupakan hasil kolaborasi tim dosen pengampu mata kuliah Professional Image, yaitu Kornelia Joana Dacosta, M.I.Kom. selaku koordinator mata kuliah bersama saya sebagai dosen pengampu. Sejak awal kami memiliki keyakinan yang sama bahwa mahasiswa komunikasi perlu memperoleh pengalaman belajar yang autentik sehingga mereka tidak hanya memahami teori tentang profesionalisme, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam situasi nyata.

Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah keterlibatan mahasiswa sejak tahap perencanaan. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta. Sebagian mahasiswa dipercaya menjadi panitia yang menginisiasi sekaligus menyelenggarakan kegiatan, sementara mahasiswa lainnya mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran sebagai peserta.

Pembagian peran tersebut bukan tanpa alasan. Justru di situlah proses belajar berlangsung.

Mahasiswa belajar menyusun konsep acara, membentuk kepanitiaan, membagi peran, berkomunikasi dengan narasumber, mengelola publikasi, memastikan jalannya acara, hingga menyelesaikan berbagai tantangan yang muncul di lapangan. Tanpa disadari, mereka sedang mempraktikkan kompetensi komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, negosiasi, manajemen waktu, dan penyelesaian masalah dalam konteks yang nyata.

Bagi saya, proses tersebut sama pentingnya dengan materi yang mereka pelajari selama kegiatan berlangsung. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan individu yang mampu berbicara dengan baik, tetapi juga pribadi yang mampu bekerja sama, membangun jejaring, memimpin sebuah kegiatan, dan bertanggung jawab terhadap setiap amanah yang diberikan.

Pada titik inilah saya semakin yakin bahwa ruang kuliah hanyalah tempat menanamkan konsep. Karakter profesional justru dibentuk ketika mahasiswa diberi kesempatan mengalami, mencoba, menghadapi tantangan, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Poster kegiatan "Navigating Your Careers with Manners" Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira). Melalui pembelajaran Table Manner, Grooming Professional, dan Beauty Class, kegiatan ini menjadi implementasi mata kuliah Professional Image untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi komunikasi, etika, dan profesionalisme sebelum memasuki dunia kerja. (Foto: Dok. Undira)
Mengapa Table Manner Bukan Sekadar Belajar Makan

Seluruh rangkaian kegiatan "Navigating Your Careers with Manners" dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Universitas Dian Nusantara, Dr. Harjono Patmoputro. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan menunjukkan etika profesional dalam berbagai situasi.

Pesan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh rangkaian pembelajaran hari itu. Profesionalisme bukanlah kemampuan yang muncul secara instan ketika seseorang lulus kuliah, melainkan karakter yang dibentuk melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Pembelajaran diawali dengan sesi motivasi bersama Fajar Surya Budiman, seorang profesional yang pernah berkiprah di bidang hubungan masyarakat sebelum kemudian membangun berbagai usaha di bidang bisnis. Kehadirannya tidak hanya menghadirkan kisah perjalanan karier, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bahwa dunia profesional selalu diawali oleh cara berpikir yang benar.

Dalam sesinya, Fajar mengingatkan bahwa memasuki dunia kerja bukan sekadar mencari pekerjaan. Mahasiswa perlu mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu dipercaya, memiliki kemauan untuk terus belajar, serta siap menghadapi perubahan yang akan terus berlangsung sepanjang perjalanan kariernya.

Bagi saya, sesi tersebut menjadi fondasi yang sangat penting. Profesionalisme memang selalu berawal dari pola pikir, kemudian tercermin melalui sikap, kebiasaan, dan perilaku sehari-hari.

Setelah memahami pentingnya membangun pola pikir profesional, mahasiswa kemudian memasuki sesi yang menjadi inti dari seluruh kegiatan, yakni praktik Table Manner bersama Maulana dari Putri Duyung Resort Ancol.

Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman tersebut merupakan kali pertama mengikuti jamuan makan formal dengan standar internasional. Mereka diperkenalkan pada urutan penyajian hidangan mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Mereka belajar menggunakan peralatan makan sesuai fungsinya, memahami etika berbincang di meja makan, posisi duduk yang tepat, cara memasuki ruang jamuan, hingga bagaimana menghormati tuan rumah maupun tamu yang hadir.

Namun sesungguhnya, yang dipelajari mahasiswa hari itu bukanlah cara menggunakan sendok dan garpu.

Mereka sedang belajar menghargai orang lain.

Mereka belajar membangun komunikasi melalui sebuah meja makan.

Mereka belajar bahwa dalam dunia profesional, relasi sering kali dimulai dari percakapan yang berlangsung di sela-sela sebuah jamuan.

Tidak sedikit keputusan penting dalam dunia bisnis, diplomasi, maupun organisasi lahir dari suasana makan bersama. Di tempat seperti itulah kepercayaan mulai tumbuh, hubungan dibangun, dan kerja sama mulai dirintis. Karena itu, memahami etika dalam situasi formal bukanlah sekadar persoalan tata cara makan, melainkan bagian dari kompetensi komunikasi yang perlu dimiliki setiap profesional.

Dalam perspektif Impression Management Theory yang dikemukakan Erving Goffman, situasi tersebut merupakan bagian dari front stage, yakni ruang ketika seseorang menampilkan dirinya di hadapan publik. Cara seseorang duduk, berbicara, mendengarkan, menghargai lawan bicara, hingga menjaga sikap selama jamuan berlangsung akan membentuk persepsi orang lain terhadap dirinya.

Profesionalisme, dalam konteks ini, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Profesionalisme adalah kebiasaan yang terus dilatih hingga akhirnya menjadi bagian dari karakter.

Pembelajaran mengenai citra profesional kemudian berlanjut melalui sesi Grooming Professional bersama Assoc. Prof. Dr. Leila Mona Ganiem, S.Pd., M.Si., CPR., CICS. Sebagai akademisi sekaligus pakar komunikasi, beliau mengajak mahasiswa memahami bahwa komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Cara berjalan, posisi tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, hingga cara berjabat tangan merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang sering kali lebih dahulu membangun kesan dibandingkan ucapan.

Saya masih mengingat antusiasme mahasiswa ketika diminta mempraktikkan langsung berbagai teknik tersebut. Ruangan yang semula dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi ruang belajar yang dipenuhi rasa ingin tahu. Mereka mulai menyadari bahwa kesan pertama ternyata dibangun dari hal-hal kecil yang selama ini kerap dianggap sepele.

Materi tersebut kembali menegaskan bahwa profesionalisme tidak lahir dari pakaian yang mahal atau penampilan yang mewah. Penampilan yang bersih, rapi, sopan, dan sesuai dengan konteks justru lebih mampu menghadirkan kepercayaan.

Pemahaman mengenai personal image kemudian dilengkapi melalui sesi Beauty Class bersama Elis Sumarni, S.I.Kom., alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara. Kehadiran Elis memberikan perspektif yang menarik karena ia berbagi pengalaman sebagai alumni yang telah memasuki dunia profesional.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa memahami bahwa make-up profesional bukan bertujuan mengubah jati diri seseorang, melainkan membantu seseorang tampil lebih segar, rapi, dan percaya diri sesuai dengan tuntutan profesinya. Kesederhanaan yang elegan justru sering kali meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan penampilan yang berlebihan.

Yang membuat saya semakin bangga, mahasiswa tidak hanya menikmati seluruh sesi sebagai peserta. Kepanitiaan yang mereka bentuk sejak jauh hari mampu menjalankan tugasnya dengan baik, mulai dari registrasi peserta, koordinasi narasumber, dokumentasi, publikasi, konsumsi, hingga memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana.

Di sinilah saya melihat bahwa Project-Based Learning benar-benar bekerja. Mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi, tetapi juga mempraktikkannya dalam situasi nyata. Mereka belajar menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, membangun jejaring, bernegosiasi, dan bertanggung jawab terhadap setiap peran yang mereka emban.

Pengalaman seperti inilah yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui presentasi di ruang kelas.

Ketika Ruang Belajar Menjadi Ruang Kehidupan

Jika diperhatikan sekilas, seluruh rangkaian kegiatan hari itu memang tampak seperti sebuah acara kampus. Ada sesi motivasi, praktik table manner, grooming professional, beauty class, penampilan musik, fashion show, pemilihan King and Queen Professional Image, hingga malam keakraban.

Namun bagi saya, seluruh rangkaian tersebut sesungguhnya merupakan sebuah laboratorium kehidupan.

Di sanalah mahasiswa belajar mengambil keputusan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga. Mereka belajar mengelola rasa gugup ketika harus berkomunikasi dengan narasumber. Mereka belajar menjaga komitmen ketika harus memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai jadwal. Mereka belajar menyelesaikan perbedaan pendapat saat bekerja bersama teman-teman yang memiliki karakter berbeda.

Semua pengalaman tersebut tidak mungkin sepenuhnya diperoleh melalui buku ajar ataupun presentasi di ruang kuliah.

Sebagai dosen komunikasi, saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa komunikasi bukan hanya tentang kemampuan berbicara.

Komunikasi adalah bagaimana kita membangun hubungan.

Bagaimana kita menghargai orang lain.

Bagaimana kita mendengarkan.

Bagaimana kita menunjukkan empati.

Dan bagaimana kita mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Nilai-nilai tersebut hadir sepanjang kegiatan berlangsung.

Fashion show yang menampilkan kain tenun Nusantara, misalnya, bukan sekadar hiburan di sela-sela acara. Di balik penampilannya, mahasiswa belajar membangun rasa percaya diri ketika tampil di hadapan publik sekaligus menunjukkan bahwa identitas budaya Indonesia dapat berjalan berdampingan dengan profesionalisme global.

Penampilan musik dari Band Inferno Universitas Dian Nusantara juga menghadirkan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Musik menjadi media komunikasi yang mencairkan suasana, membangun kedekatan antara mahasiswa, dosen, dan para narasumber. Dalam dunia profesional, kemampuan membangun hubungan interpersonal seperti ini sering kali menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan teknis.

Begitu pula dengan pemilihan King and Queen Professional Image. Kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk memilih mahasiswa yang paling menarik secara fisik, melainkan memberikan apresiasi kepada mereka yang mampu menunjukkan kepercayaan diri, etika, sikap, komunikasi, dan pembawaan diri yang mencerminkan nilai-nilai profesionalisme yang dipelajari selama satu semester.

Malam kemudian ditutup melalui kegiatan barbeque dan ramah tamah. Suasana menjadi lebih santai, namun justru di sanalah komunikasi interpersonal tumbuh secara alami. Mahasiswa, dosen, dan para narasumber duduk bersama tanpa sekat formal, berbagi pengalaman, bertukar cerita, dan mendiskusikan harapan tentang masa depan.

Sering kali, pembelajaran yang paling membekas memang lahir dari percakapan-percakapan sederhana seperti itu.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perguruan tinggi perlu terus menghadirkan pembelajaran yang autentik. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan yang mampu menguasai teori atau menjawab soal ujian. Dunia profesional membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, bekerja dalam tim, berkomunikasi secara efektif, beradaptasi terhadap perubahan, serta tetap menjunjung tinggi etika dalam setiap situasi.

Karena itu, pendekatan experiential learning dan project-based learning menjadi semakin relevan dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima informasi semata, melainkan sebagai pelaku utama dalam proses belajar. Mereka diberi kesempatan untuk mengalami, mencoba, merefleksikan, kemudian memperbaiki diri melalui pengalaman nyata.

Saya percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi untuk menjadi profesional yang hebat. Namun potensi tersebut tidak akan berkembang apabila mereka hanya berada di dalam ruang kelas. Mereka perlu dipertemukan dengan situasi nyata, tantangan nyata, dan pengalaman nyata yang mengajarkan bahwa profesionalisme dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Pada akhirnya, Professional Image bukanlah mata kuliah tentang cara berpakaian, bukan pula sekadar mata kuliah tentang etika makan.

Professional Image adalah mata kuliah tentang bagaimana seseorang membangun kepercayaan.

Tentang bagaimana seseorang menghadirkan integritas.

Tentang bagaimana seseorang menghargai dirinya sendiri dan orang lain melalui komunikasi, sikap, penampilan, dan perilaku yang selaras.

Sebagaimana dijelaskan Erving Goffman, setiap individu selalu menghadirkan dirinya melalui simbol, perilaku, dan cara berinteraksi. Dalam dunia profesional, kesan pertama memang penting. Namun yang jauh lebih penting adalah kemampuan menjaga kesan tersebut melalui karakter yang konsisten.

Sebagai dosen, saya selalu percaya bahwa ruang kuliah adalah tempat menanamkan pengetahuan. Namun karakter profesional dibentuk ketika mahasiswa berhadapan dengan pengalaman nyata. Ketika mereka belajar bekerja dalam tim, mengelola sebuah kegiatan, berbicara dengan narasumber, menghadapi tantangan, hingga berani tampil percaya diri dalam situasi formal, sesungguhnya mereka sedang mempersiapkan diri menjadi lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Karena pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya mencari lulusan yang cerdas.

Dunia kerja mencari pribadi yang mampu dipercaya.

Dan profesionalisme bukanlah sesuatu yang muncul ketika seseorang menerima ijazah atau mendapatkan pekerjaan pertama.

Profesionalisme dibangun sejak seseorang masih menjadi mahasiswa.


Penulis: Laili Fitriyah, S.I.P., M.I.Kom. adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira). Selain mengampu mata kuliah Professional Image, Public Speaking, dan sejumlah mata kuliah komunikasi praktis, penulis juga merupakan praktisi komunikasi, penyiar Radio Republik Indonesia (RRI), trainer public speaking, master of ceremony, serta voice over talent dan Praktisi Saritilawah Nasional. Bagi penulis, pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan profesionalisme sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....