SEAMEO REFCON, Temukan Sejumlah Faktor Penyebab Stunting
- 13 Feb 2025 21:27 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Pusat Kajian Gizi Regional Universitas Indonesia (PKGR UI) menyelenggarakan diseminasi temuan awal studi action against stunting hub (AASH) dan diskusi kebijakan percepatan penurunan stunting.
Temuan awal studi AASH Indonesia menunjukkan bahwa stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi juga terkait dengan faktor epigenetik, kesehatan saluran cerna, infeksi, mikrobiota, peta kesehatan mental Ibu. Diperlukan pendekatan intervensi interdisiplin dan berbasis bukti, dengan fokus pada pangan lokal, suplementasi mikronutrien, serta dukungan kesehatan mental bagi ibu.
Country Lead Studi AASH di Indonesia, Dr. Umi Fahmida mengatakan, hasil temuan awal studi ini dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan stunting.
"Kami memang mendedikasikan data-data yang kaya untuk dimanfaatkan, nggak hanya untuk ilmu pengetahuan tetapi juga sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan," ujarnya dalam paparannya di Jakarta, Kamis (13/02/2025).

Diseminasi hasil temuan awal tersebut dibuka oleh Direktur SEAMEO REFCON Dr.dr. Herqutanto, MPH., MARS., Sp.KKL, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.S dan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum, ST., MIDS.
AASH merupakan studi interdisiplin yang bertujuan menyusun tipologi stunting melalui pendekatan anak secara utuh atau "whole child approach". Penelitian itu dilaksanakan pada 2019-2024 di tiga negara yakni India, Indonesia dan Senegal. Indonesia penelitian dilakukan di Lombok Timur.
Studi itu terdiri dari, pertama kohort ibu hamil yang dilanjutkan hingga anak mereka berusia 24 bulan, yang di dalamnya terintegrasi studi intervensi pemberian telur (3 telur/Minggu) pada ibu hamil sebagai makanan tambahan untuk mengetahui efektivitas peningkatan kualitas asupan selama kehamilan terhadap epigenetik dan stunting pada bayi. Kedua, studi kasus kontrol anak stunted dan anak non stunted. Sedangkan ketiga merupakan studi pada saudara kandung dari bayi kohor yang berusia PAUD, dan ke empat studi sistem pangan.
Hasil temuan awal studi AASH dari aspek kognisi menunjukkan 65% perkembangan anak-anak di Lombok Timur termasuk dalam kategori rata-rata namun belum optimal, karena dipengaruhi berbagai aspek seperti epigenetik, mikrobiome, gizi terutama untuk usia satu hingga dua tahun.
"Kami juga meneliti kakak atau saudara kandung anak tersebut yang berusia 3 hingga 6 tahun, hasilnya juga perkembangannya rata-rata dan belum berkembang dengan baik," kata Ketua Tim Peneliti Komponen Kognitif, Dr. Risatianti Kolopaking, Psikolog.

Sementara pada anak stunting, stimulasi yang diberikan oleh ibu ataupun pengasuh juga kurang optimal dan perlu pengayaan dan juga alat bantu bagi para ibu, sehingga membantu proses pendidikan dan kesiapan anak bersekolah.
Sementara dari komponen pendidikan, temuan diawali studi AASH menunjukkan kualitas guru PAUD sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Guru yang memiliki latar belakang sarjana terutama lulusan PAUD akan menumbuhkan lingkungan pembelajaran yang sehat.
"Kami juga melakukan penelitian terkait shared value, ternyata memang didaftarkan hasil di mana ketika guru sudah memperoleh pemahaman yang lebih baik atau memperoleh kesempatan untuk belajar lebih banyak, maka layanan yang diberikan bisa jauh lebih baik daripada guru yang mungkin tamatan SMA dan hanya mengikuti kursus, ucap Dr. Rita Anggorowati, MPD, Ketua Tim Peneliti Komponen Pendidikan.
Rita menambahkan, di sisi lingkungan pembelajaran juga diketahui bahwa layanan sanitasi dan air bersih yang baik, turut mempengaruhi perkembangan anak ke arah positif. Di sisi lain, pelibatan dan pemberdayaan orang tua melalui kegiatan, prakarya pendidikan bagi masyarakat dan guru, serta pembaruan rutin mengenai kegiatan sekolah menjadi harapan masyarakat dalam meningkatkan tumbuh kembang dan kesiapan belajar anak.

Dr. Min Kyaw Htet selaku Peneliti SEAMEO REFCON dan Ketua Tim Peneliti Komponen Fisik menjelaskan, selain study kohort yang dilakukan di tiga negara, di Indonesia kami memiliki studi kasus kontrol (The Early Year Study) yang membandingkan anak stunted dan anak yang tidak stunted, dan memberikan kesempatan kami untuk mereplikasi temuan dalam studi kohort. Ini merupakan kekuatan dan desain studi AASH di Indonesia.
Tadi juga menemukan bahwa selenium memiliki peran penting dalam pertumbuhan anak, tetapi seringkali tidak cukup diperhatikan dalam intervensi gizi. Inflamasi sistemik dan infeksi saluran cerna berdampak pada pertumbuhan anak dengan mengganggu hormon pertumbuhan.
Sementara, epigenetik dapat memprediksi risiko stunting, terutama pada anak perempuan. Selanjutnya, kecepatan pertumbuhan pada tinggi anak pada usia 3 bulan, ASI eksklusif, dan mulai melambat saat periode pemberian makanan pendamping ASI dan mencapai kecepatan paling rendah pada usia 14 bulan.
Ketua Tim Peneliti Sistem Pangan Dr. Umi Fahmida menerangkan, dari temuan awal lingkungan pangan diketahui responden mengalami kesulitan akut (>70%) dalam komponen informasi dan promosi untuk semua jenis makanan padat gizi yang diteliti (sayuran hijau daun, ayam dan ikan).
Berdasarkan kandungan gizi, perlu keragaman sumber protein untuk pemenuhan gizi yang baik, khususnya pada zat gizi yang bermasalah dan juga perlunya kombinasi protein hewani. Seperti memadukan hati, telur dan tahu atau tempe untuk dapat memberikan asupan zat gizi yang lebih lengkap.
"Namun aspek 'desirability' pangan padat gizi ini belum optimal dan memerlukan promosi. Promosi pangan sehat selama ini dilakukan tenaga kesehatan, namun dari analisa agrifood kami menemukan ternyata pedagang sayur secara spontan mengatakan bisa dititipkan untuk promosi pangan sehat," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....