Djoko Purwoko Soroti Evaluasi Timnas Usai Kalahkan China

  • 06 Jun 2025 18:34 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Kemenangan Timnas Indonesia atas China dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia mendapat apresiasi dari Djoko Purwoko, mantan Staf Khusus Ketua Umum PSSI periode 2019–2023. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 5 Juni 2025, Indonesia menang tipis 1-0 lewat gol penalti Ole Romeny di pengujung babak pertama.

Djoko menyambut baik kemenangan tersebut, dan menyebut bahwa hasil ini menjadi bukti ketangguhan mental para pemain.

“Ini kemenangan penting, bukan hanya karena angka, tapi karena menunjukkan bahwa semangat dan nyali para pemain tidak pernah padam,” ujar Djoko.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemenangan ini jangan sampai menimbulkan euforia berlebihan. Baginya, laga ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, terutama menjelang laga berikutnya yang jauh lebih berat menghadapi Jepang.

“Melawan Jepang, kita tidak bisa hanya mengandalkan semangat. Harus ada pembenahan taktik, teknis, dan mentalitas. Ini ujian kedewasaan sepak bola kita,” katanya.

Djoko menilai ada sejumlah aspek positif dari kemenangan atas China yang patut dipertahankan. Ia mengapresiasi mental bertarung para pemain, terutama dalam menjaga keunggulan saat ditekan lawan.

“Para pemain tampil dengan determinasi tinggi. Lini belakang sangat disiplin, dan debut Emil Audero dengan clean sheet adalah sinyal bagus,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fleksibilitas taktik dari pelatih Patrick Kluivert yang menerapkan skema dasar 4-3-3 dan mampu bertransisi ke 4-1-4-1 saat bertahan. “Ini menunjukkan kedewasaan strategi yang sebelumnya jarang kita lihat,” kata Djoko.

Kinerja Ricky Kambuaya sebagai gelandang box-to-box juga mendapatkan pujian. “Dia jadi motor di lini tengah dan menciptakan momen krusial yang menghasilkan penalti. Performa seperti ini harus dijaga,” tambahnya.

Namun, Djoko tidak menutup mata terhadap sejumlah catatan yang harus segera dibenahi. Salah satunya adalah soal penyelesaian akhir yang masih belum efektif.

“Kita hanya bisa mencetak gol dari penalti, padahal ada beberapa peluang terbuka. Finishing kita masih tumpul,” tegasnya.

“Solusinya adalah latihan penyelesaian akhir dengan intensitas tinggi. Dua atau tiga sentuhan cepat di area kotak penalti harus dibiasakan.”

Selain itu, Djoko menyoroti rendahnya penguasaan bola tim Indonesia. Ia menilai pola permainan pasif yang terlalu banyak bertahan akan sangat berisiko jika diterapkan saat melawan Jepang.

“Melawan tim seperti Jepang, kita tak bisa terus-menerus ditekan. Kita harus belajar membangun serangan dari bawah dan mengontrol tempo,” katanya.

Kehilangan bola di area tengah juga dianggap sebagai masalah serius yang sempat dimanfaatkan oleh China untuk melancarkan serangan balik.

“Beberapa kali kita kehilangan bola di tengah karena tekanan lawan. Gelandang seperti Marselino dan Jenner harus dilatih agar lebih tahan pressing,” ujarnya.

Dari sisi variasi serangan, Djoko melihat Indonesia terlalu bergantung pada sisi sayap. Minimnya kombinasi dari tengah atau tembakan jarak jauh membuat serangan Indonesia lebih mudah ditebak.

“Pola serangan kita harus lebih bervariasi. Kombinasi segitiga antara gelandang serang, striker, dan winger harus sering dilatih. Juga jangan ragu untuk melepas tembakan dari luar kotak penalti,” jelasnya.

Satu hal lain yang ia anggap penting adalah kurangnya kedalaman skuad. Djoko menyebut bahwa saat pemain inti kelelahan, para pengganti belum bisa memberikan dampak signifikan.

“Bangku cadangan kita belum setara. Pemain pelapis harus diberi menit bermain lewat uji coba dan latihan intensif agar siap saat dibutuhkan,” katanya.

Menjelang laga kontra Jepang, Djoko memberikan beberapa masukan strategis yang dinilainya bisa diterapkan. Ia menyarankan agar Indonesia bermain lebih pragmatis dengan pertahanan rapat dan transisi cepat ke serangan balik.

“Low block dan serangan balik cepat bisa jadi senjata. Jepang itu kuat dalam tekanan, tapi juga bisa kewalahan kalau kehilangan bola di area tengah,” jelasnya.

Ia juga menyebut pentingnya menjaga gelandang-gelandang kreatif Jepang seperti Daichi Kamada dan Takefusa Kubo.

“Mereka harus dimatikan ruang geraknya. Man marking bisa jadi kunci,” ucapnya.

Selain itu, set-piece juga bisa jadi peluang besar. “Jepang cenderung lengah saat bola mati. Kita bisa eksploitasi situasi ini dengan skema-skema yang tak terduga,” tambahnya.

Jika diperlukan, Djoko menyarankan agar dua gelandang bertahan diturunkan sekaligus.

“Pasangan seperti Shayne Pattynama dan Ivar Jenner bisa membantu menahan tekanan di lini tengah. Jepang itu cepat dan presisi, jadi kita harus kuat secara struktur,” katanya.

Sebagai penutup, Djoko mengingatkan pentingnya dukungan publik yang tidak hanya emosional, tetapi juga profesional dan rasional dalam mendorong kemajuan Timnas.

“Kemenangan atas China adalah langkah penting, tapi melawan Jepang kita harus naik kelas. Ini bukan sekadar laga, ini ujian kedewasaan sepak bola Indonesia,” pungkas Djoko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....