Aremania Anarkis, Izin Panpel Arema FC Disorot

  • 12 Mei 2025 19:54 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Insiden pelemparan batu terhadap bus tim Persik Kediri usai pertandingan menghadapi Arema FC pada 11 Mei 2025 di Stadion Kanjuruhan, Malang, memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Mayor Arh Dr. Djoko Purwoko, S.E., S.H., M.H., M.Han., mantan Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan (LOC Chairman) Persikabo 1973 musim 2023–2024.

Dalam pernyataan resminya, Djoko menilai kejadian tersebut sebagai bentuk pelanggaran berat terhadap kode etik dan disiplin sepak bola nasional. Ia menegaskan bahwa klub dan panitia pelaksana (panpel) memiliki tanggung jawab penuh terhadap keamanan pertandingan, termasuk perilaku suporter, sebagaimana diatur dalam Pasal 68–70 Kode Disiplin PSSI.

“Tindakan pelemparan batu merupakan pelanggaran serius yang tidak bisa ditoleransi. Klub dapat dijatuhi sanksi berat, mulai dari denda, pengurangan poin, hingga diskualifikasi dari kompetisi,” tegas Djoko dalam siaran pers yang diterima RRI di Jakarta, Senin (12/5/2025).

Ia juga merujuk pada kasus-kasus internasional seperti insiden Mesir vs Aljazair (2009) dan River Plate vs Boca Juniors (2018), di mana FIFA menekankan tanggung jawab klub dan federasi atas kekerasan suporter yang membahayakan keselamatan tim lawan.

Djoko meminta Direktorat Intelkam Polda Jawa Timur dan Satintelkam Polres Malang untuk tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan pertandingan bagi Panpel Arema FC sampai dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan.

“Sebagai bentuk tanggung jawab atas keamanan publik dan masa depan sepak bola nasional, evaluasi total terhadap panpel Arema FC adalah langkah mendesak,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Djoko juga menyayangkan sikap sebagian oknum suporter Arema FC yang dinilai tidak belajar dari Tragedi Kanjuruhan 2022 yang merenggut 135 nyawa.

“Tragedi kemanusiaan itu seharusnya menjadi pelajaran besar. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa budaya kekerasan masih terus berulang,” katanya.

Terakhir, ia menyerukan kepada Komite Disiplin PSSI untuk bertindak tegas dan segera menjatuhkan sanksi kepada Arema FC dan panpel yang dianggap lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya.

“Sepak bola harus menjadi arena sportivitas, bukan ladang kekerasan. Jika tragedi terus dibiarkan berulang, maka nyawa manusia hanya akan menjadi statistik tanpa makna,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....